Internasional
Foreign Policy: Taruhan Arab Saudi pada Trump Berakhir Petaka Keamanan

Media ABI, 25 Oktober 2026 – Arab Saudi tampaknya tengah memetik pelajaran mahal dalam diplomasi: kedekatan dengan Washington, investasi miliaran dolar, dan hubungan akrab dengan lingkaran Donald Trump tidak otomatis menjamin keamanan. Ketika perang AS terhadap Iran mengguncang kawasan, Riyadh justru menghadapi konsekuensi strategis dari keputusan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Dalam analisis berjudul “Saudi Arabia Bribed the Wrong People”, yang diterbitkan Foreign Policy pada 24 September 2026, Nicholas Grossman, profesor hubungan internasional di University of Illinois, menilai taruhan Arab Saudi pada Trumpisme berakhir jauh dari harapan Riyadh.
Menurut Grossman, perang tersebut mengguncang tatanan keamanan AS-Teluk yang terbentuk sejak Perang Dunia II. Dampaknya melampaui ketegangan diplomatik. Penutupan Selat Hormuz, ancaman terhadap pelayaran Saudi di Laut Merah, serta serangan terhadap jaringan pipa minyak East-West memperlihatkan kerentanan jalur ekspor energi kerajaan. Selama ini, Riyadh mengandalkan payung keamanan AS. Namun, ketika konflik meluas dan jalur distribusi energi terganggu, ketergantungan itu justru menyingkap sisi rapuhnya.
Investasi Miliaran Dolar, Jaminan Keamanan yang Menguap
Salah satu cerminan kedekatan Riyadh dengan lingkaran Trump adalah investasi dana kekayaan negara Arab Saudi senilai US$2 miliar pada perusahaan investasi Jared Kushner, menantu Trump sekaligus mantan utusan diplomatik AS. Menurut Grossman, investasi itu tetap berjalan meski para pengelola dana Saudi menyuarakan kekhawatiran mengenai uji tuntas dan persyaratan kesepakatan. Perusahaan Kushner juga disebut menerima imbalan tahunan US$25 juta, terlepas dari kinerja investasinya.
Kesepakatan tersebut memperlihatkan besarnya taruhan Riyadh pada jejaring politik dan bisnis di sekitar Trump. Namun, keuntungan bisnis tidak serta-merta mendatangkan keputusan militer yang menguntungkan secara strategis. Diplomasi bukan mesin penjual otomatis: uang dan kedekatan tidak menjamin hasil sesuai pesanan.
Sikap Riyadh terhadap perang pun memperlihatkan tarik-menarik kepentingan. Secara terbuka, Arab Saudi menjaga jarak dari konflik. Namun, menurut Grossman, di balik layar Riyadh sempat mendorong Trump untuk menggulingkan pemerintahan Iran.
Baca juga: IRGC Peringatkan: Perang Apokaliptik Dapat Menentukan Nasib Kawasan
Ketika tujuan itu tak tercapai, Riyadh beralih mendukung gencatan senjata dan perundingan. Upaya mencapai kesepahaman AS-Iran pada musim panas kemudian kandas. Trump kembali melancarkan serangan, sementara tekanan terhadap kepentingan Saudi dan pelayaran di kawasan meningkat. Grossman juga menyebut Mohammed bin Salman dua kali menghubungi Trump untuk meminta serangan terhadap posisi Ansarullah setelah jaringan pipa East-West mengalami kerusakan. Gedung Putih dilaporkan menolak permintaan tersebut.
Episode ini, sebagaimana digambarkan dalam analisis Grossman, memperlihatkan batas pengaruh Riyadh terhadap Washington. Hubungan dekat memang dapat membuka akses kepada pengambil keputusan, tetapi tidak otomatis menentukan keputusan yang diambil.
Payung Keamanan Berubah Menjadi Tagihan
Arab Saudi memiliki anggaran pertahanan besar. Namun, menurut Grossman, kelemahan struktural dan catatan kinerja militernya membatasi kemampuan kerajaan untuk bertindak secara mandiri. Ketergantungan pada AS selama ini menjadi penopang keamanan Riyadh, sekaligus sumber kerentanannya. Grossman juga mengkritik pendekatan militer Trump yang bertumpu pada ancaman dan serangan udara, dengan sasaran politik ambisius yang sulit diwujudkan. Ia menyinggung operasi AS di Yaman pada 2025 yang gagal menghentikan serangan Ansarullah.
Bagi Riyadh, persoalannya bukan sekadar apakah Washington bersedia mengerahkan kekuatan militer, melainkan apakah langkah tersebut benar-benar sejalan dengan kepentingan Saudi. Sekutu yang kuat belum tentu menjadi pelindung yang selalu bertindak sesuai kebutuhan mitranya.
Baca juga: Yaman: Arab Saudi Harus Menanggung Konsekuensi Militerisasi Laut Merah
Di tengah ketidakpastian itu, peluang kerja sama nuklir dengan AS, termasuk kemungkinan pengayaan uranium oleh Arab Saudi, masih menghadapi hambatan politik. Kesepakatan tersebut bersinggungan dengan tuntutan pengakuan terhadap Israel yang dikaitkan dengan pemerintahan Trump. Sementara itu, Riyadh mensyaratkan pembentukan negara Palestina, tuntutan yang ditentang Israel. Bahkan jika kesepakatan tercapai, keberlanjutannya tetap rentan terhadap pergantian pemerintahan dan dinamika politik dalam negeri AS. Jaminan yang dirundingkan hari ini belum tentu bertahan ketika kepentingan politik berubah.
Analisis Grossman menyoroti persoalan mendasar dalam strategi Riyadh: hubungan personal, investasi, dan kedekatan dengan lingkaran kekuasaan tidak selalu berujung pada terpenuhinya kepentingan nasional.
Arab Saudi telah menanamkan modal besar untuk mempererat hubungan dengan Washington. Namun, perang memperlihatkan bahwa kedekatan politik bukan pengganti kapasitas pertahanan mandiri, terlebih jaminan bahwa sekutu akan selalu mengambil keputusan sesuai harapan. Dalam politik kekuatan besar, kedekatan boleh jadi membuka pintu. Namun, ketika kepentingan berubah, yang tertinggal bisa saja hanya tagihan dan pelajaran mahal. []
Baca juga: Tekanan Netanyahu Menguji Posisi Politik Al-Joulani di Suriah







