Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Bloomberg: Iran Lebih Siap Hadapi Potensi Konflik Baru

Published

on

Al Jazeera mengutip sejumlah analis yang menilai Israel tidak memiliki kemampuan dan strategi yang memadai untuk menggulingkan pemerintahan Iran.
Bloomberg menilai Iran lebih siap menghadapi kemungkinan konflik baru dengan Amerika Serikat dan Israel setelah beradaptasi dari serangan sebelumnya.

Media ABI, 3 November 2026 – Iran dinilai lebih siap menghadapi kemungkinan pecahnya kembali konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Dalam laporan Bloomberg yang dikutip Kantor Berita IRNA pada Selasa (3/11/2026), Teheran disebut telah meningkatkan kesiapan militernya dan bersiap memberikan respons lebih keras terhadap serangan Amerika Serikat.

Negara-negara Teluk, menurut laporan tersebut, khawatir serangan baru Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran akan memicu babak konflik berikutnya dengan dampak yang jauh lebih luas dan berat bagi kawasan. Para pejabat negara-negara itu menilai Iran kemungkinan akan bertindak lebih agresif jika perang kembali pecah.

Baca juga: Ehud Barak: Perang Baru dengan Iran Bisa Memperkuat Teheran 

Bloomberg melaporkan, komandan militer Iran telah diperintahkan untuk bersiap merespons setiap serangan baru secara cepat, tanpa batasan geografis. Militer Iran juga memperingatkan bahwa serangan ulang Amerika Serikat dan Israel dapat memperluas cakupan konflik ke wilayah yang lebih luas.

Laporan tersebut turut menyoroti kemampuan rudal dan pesawat nirawak Iran setelah berbulan-bulan menghadapi serangan udara. Sejumlah pejabat Barat, sebagaimana dikutip Bloomberg, menyatakan pada Oktober bahwa Teheran masih memiliki kapasitas untuk memproduksi rudal dan pesawat nirawak, sekaligus mengganti sebagian persediaan persenjataannya. Iran juga disebut masih menguasai persediaan rudal balistik dan sejumlah persenjataan antikapal yang signifikan.

Emile Hokayem, Direktur Program Keamanan Regional di International Institute for Strategic Studies (IISS), menilai Iran kini jauh lebih siap menghadapi putaran pertempuran berikutnya. Respons Teheran terhadap serangan sebelumnya, menurutnya, menunjukkan bahwa Iran telah belajar dari pengalaman dan mampu menyesuaikan strategi militernya dengan kondisi baru.

Di tengah kekhawatiran akan pecahnya kembali perang, sejumlah negara kawasan berupaya mencegah eskalasi. Pejabat Arab Saudi, Turki, dan Pakistan dilaporkan telah mengunjungi Teheran dalam beberapa hari terakhir untuk melakukan konsultasi. Mediator Qatar juga disebut telah berkomunikasi dengan pihak Iran. Meski demikian, perbedaan di antara para pihak masih belum terselesaikan.

Daniel Davis: AS Tidak Bisa Mengalahkan Iran Secara Militer

Terpisah dari laporan Bloomberg, IRNA mengutip pandangan Daniel Davis, purnawirawan militer Amerika Serikat sekaligus analis kebijakan luar negeri, yang memperingatkan Washington agar mempertimbangkan realitas kemampuan pertahanan Iran sebelum memutuskan untuk memperluas perang.

Baca juga: 

Dalam serangkaian unggahan di platform X, Davis mengatakan Iran selama puluhan tahun tidak berfokus mempersiapkan diri untuk memenangkan perang udara, melainkan membangun pertahanan dan benteng-benteng militer guna menghadapi konflik semacam itu.

Ia mengibaratkan Iran sebagai gunung granit, batuan alam yang dikenal sangat keras. Davis berpendapat bahwa jika gunung granit saja tidak dapat dihancurkan, bahkan dengan senjata nuklir, Amerika Serikat juga tidak akan mampu mengalahkan Iran secara militer.

Davis memperingatkan Presiden Donald Trump agar menerima kenyataan di lapangan sebelum membawa konflik ke tahap berikutnya. Menurutnya, keputusan Washington harus didasarkan pada kondisi objektif dan perkembangan militer, bukan narasi maupun retorika politik yang berpotensi menutupi atau mendistorsi kenyataan.

Ia juga menolak anggapan bahwa Iran akan membiarkan Amerika Serikat melancarkan serangan tanpa menghadapi pembalasan yang sepadan.

“Jika ada yang berkhayal bahwa Iran akan membiarkan kita menyerang sesuka hati tanpa melancarkan serangan balasan yang sepadan, orang itu hidup dalam dunia khayalan,” tulis Davis.

Menurutnya, Iran sejauh ini telah menunjukkan kemampuan untuk merespons serangan yang diarahkan kepadanya. Sebaliknya, Amerika Serikat juga dinilai belum memiliki kapasitas pertahanan yang cukup untuk menghentikan seluruh kemampuan serangan Iran.

Davis menilai Washington membutuhkan evaluasi yang jujur terhadap situasi sebelum konflik di Timur Tengah semakin meluas. Strategi paling bijaksana, menurutnya, bukanlah meningkatkan eskalasi tanpa memperhitungkan konsekuensinya, melainkan mencari jalan keluar sebelum biaya konflik bagi Amerika Serikat semakin besar.

Ia bahkan berpandangan bahwa mengakhiri perang melalui kesepakatan yang tidak sepenuhnya menguntungkan kepentingan Amerika Serikat sekalipun akan lebih baik daripada mengabaikan realitas militer dan terus melancarkan serangan dengan harapan memperoleh hasil yang diinginkan.

Davis menyebut salah satu kesalahan terbesar Amerika Serikat dalam perang melawan Iran adalah keyakinan bahwa eskalasi tidak akan membawa konsekuensi bagi Washington. []

Baca juga: Ancaman Nuklir Iran dalam Kalkulasi Politik Trump

Continue Reading
Click to comment

Tinggalkan Balasan