Internasional
Iran Siap Hadapi Ancaman Musuh

Media ABI, 3 November 2026 – Wakil Kepala Bidang Politik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Yadollah Javani, menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam kesiapan penuh menghadapi ancaman musuh. Ia juga menekankan pentingnya persatuan nasional dan koordinasi lintas sektor untuk menghadapi apa yang disebutnya sebagai perang hibrida.
Dalam laporan Kantor Berita Mehr pada Selasa (3/11/2026), Javani menyampaikan hal tersebut dalam pertemuan politik dan peningkatan wawasan yang dihadiri jaringan kebudayaan, Salehin, serta pembimbing politik di sejumlah distrik perlawanan Basij, Qom, pada Senin sore.
Baca juga: Ehud Barak: Perang Baru dengan Iran Bisa Memperkuat Teheran
Javani mengatakan, pihak lawan telah menyadari bahwa serangan militer dan pemboman terhadap wilayah Iran tidak cukup untuk mencapai tujuan mereka. Karena itu, menurutnya, mereka berupaya melemahkan kohesi internal, memicu perpecahan, dan menciptakan ketidakstabilan di dalam negeri.
Selain kekuatan militer, kata Javani, pihak lawan juga memanfaatkan instrumen politik, ekonomi, keamanan, media, dan diplomasi untuk merusak persatuan nasional. Menghadapi strategi tersebut, ia menilai diperlukan pemahaman menyeluruh tentang karakter perang hibrida serta respons yang terkoordinasi.
Terkait kesiapan pertahanan, Javani menyatakan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran, yang mencakup kekuatan darat, laut, dan kedirgantaraan, terus menjalankan tugas dengan soliditas dan koordinasi. Ia menegaskan seluruh unsur tersebut siap menghadapi berbagai ancaman.
Ia juga memperingatkan potensi meluasnya konflik regional menjadi perang lintas kawasan. Menurutnya, eskalasi semacam itu dapat menimbulkan konsekuensi yang melampaui wilayah konflik dan berdampak pada negara-negara lain.
Perang Hibrida dan Tantangan di Ranah Media
Dalam membahas perang media dan kognitif, Javani menyoroti persoalan koordinasi di dalam negeri. Ia menilai sebagian media domestik terkadang justru terseret dalam perselisihan internal, alih-alih berfokus menghadapi operasi media dan psikologis pihak lawan.
Baca juga:
- Barat Kian Tercekik Dampak Perang terhadap Iran
- Trump: Jika Republik Kalah, Saya Akan Menjadi “Tuan Veto”
- The Atlantic: Trump Siapkan Hegseth sebagai Kambing Hitam
- Fox News Prediksi Partai Republik Bakal Kehilangan Mayoritas di Kongres
Menurutnya, pihak lawan menggunakan berbagai instrumen untuk melakukan gangguan, infiltrasi, dan penyesatan guna melemahkan kohesi masyarakat. Perselisihan serta langkah yang tidak terkoordinasi, ia memperingatkan, dapat membuka peluang bagi pihak lawan untuk mencapai tujuannya.
Javani menyebut pendekatan untuk menghadapi perang hibrida sebagai jihad hibrida, yakni upaya terpadu yang mencakup bidang militer, ekonomi, politik, keamanan, media, dan diplomasi. Setiap sektor, menurutnya, perlu menyusun langkah sesuai karakter ancaman, dengan perencanaan yang bertumpu pada pemahaman situasi secara tepat.
Ia juga menekankan tanggung jawab para pembimbing politik untuk menjelaskan dimensi perang hibrida kepada masyarakat, termasuk metode dan instrumen yang digunakan pihak lawan. Tanpa pemahaman tersebut, ia mengingatkan, tindakan tertentu justru dapat membantu kepentingan lawan tanpa disadari.
Persatuan Nasional sebagai Pilar Perlawanan
Javani menempatkan persatuan dan kohesi nasional sebagai unsur penting dalam menghadapi konfrontasi yang dinilainya bersifat strategis dan menentukan. Ia mengatakan, kebutuhan akan solidaritas semakin besar karena salah satu tujuan pihak lawan, menurutnya, adalah memecah belah masyarakat.
Dengan merujuk pada pandangan Ayatollah Ruhollah Khomeini mengenai wilayat al-faqih, Javani mengatakan bahwa pemimpin Revolusi Islam tersebut telah menjelaskan konsep itu secara tegas, sekaligus membedakan kedudukan spiritual para imam maksum dari posisi wilayat al-faqih. Ia memandang wilayat sebagai salah satu faktor pemersatu umat.
Javani juga mengingatkan penekanan Khomeini terhadap kesatuan kata atau persatuan sebagai kunci kemenangan Revolusi Islam. Ia menyerukan agar para pengikut kepemimpinan tersebut memperkuat kebersamaan dan menghindari perselisihan.
Baca juga: Para Miliarder Berebut Pengaruh dalam Pemilu Sela Kongres AS
Menurut Javani, konsep wilayat perlu dipahami dalam kerangka keimanan dan tauhid. Mereka yang menjalankan peran dalam kerangka tersebut, katanya, harus menunjukkan komitmen nyata untuk menjaga solidaritas dan mencegah perpecahan.
Pembimbing Politik Dituntut Memahami Situasi
Javani menegaskan bahwa para pembimbing politik perlu memahami perkembangan secara mendalam, terutama karena mereka bertugas memberikan pencerahan dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Pemahaman yang akurat terhadap pesan dan arahan kepemimpinan, menurutnya, merupakan prasyarat sebelum mereka menjelaskan persoalan publik.
Ia menyebut pembangunan peradaban Islam serta penciptaan kondisi bagi pertumbuhan, kemajuan, dan kesejahteraan manusia sebagai tujuan Revolusi Islam Iran, yang menurutnya berakar pada ajaran Islam dan Al-Qur’an.
Dalam konteks strategi regional, Javani menyebut pengusiran Amerika Serikat dari kawasan dan berakhirnya keberadaan negara Israel sebagai bagian dari tujuan yang perlu dijelaskan kepada masyarakat, termasuk landasan dan dimensinya.
Menutup pernyataannya, Javani kembali menekankan pentingnya penyadaran publik, penguatan persatuan nasional, dan koordinasi lintas sektor untuk menghadapi ancaman. Menurutnya, efektivitas langkah tersebut bergantung pada kemampuan memahami situasi secara utuh dan meresponsnya secara tepat. []
Baca juga: Pakar AS: Tekanan Militer Berisiko Mengubah Doktrin Nuklir Iran







