Opini
Bloomberg: Ketergantungan pada Payung Keamanan AS,Titik Lemah Arab Saudi

Media ABI, 16 Oktober 2026 – Ketergantungan Arab Saudi pada perlindungan keamanan Amerika Serikat selama puluhan tahun menjadi salah satu kelemahan struktural militernya. Dalam laporan yang dikutip Fars News Agency pada Jumat (16/10/2026), Bloomberg menyoroti keterbatasan sistem pertahanan udara Saudi, ketergantungan pesawat tempurnya pada intelijen AS, serta perkembangan kemampuan rudal Yaman yang terus menantang pertahanan kerajaan tersebut.
Meski memiliki anggaran pertahanan besar dan persenjataan modern, Arab Saudi masih menghadapi serangan yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 18 orang dan memaksa penutupan bandara internasional utama Riyadh. Situasi ini memperlihatkan bahwa besarnya belanja militer tidak otomatis menjamin perlindungan menyeluruh terhadap wilayah negara.
Baca juga: Ulama Sunni Desak Presiden Azerbaijan Hentikan Pembatasan Siswi Berjilbab
Menurut data Bloomberg, anggaran pertahanan Saudi tahun ini diperkirakan mencapai 64 miliar hingga 96 miliar dolar AS. Batas atas perkiraan tersebut lebih dari dua kali lipat anggaran militer Israel. Saudi juga memiliki sistem pertahanan udara Patriot dengan rudal pencegat PAC-3, ratusan jet tempur F-15 buatan AS yang telah dimodifikasi, serta pesawat pengisian bahan bakar di udara.
Keterbatasan Pertahanan dan Ketergantungan pada Washington
Peneliti Amerika Serikat Becca Wasser menyoroti keterbatasan teknis sistem Patriot yang tidak mampu memberikan perlindungan ke segala arah secara bersamaan. Penyesuaian radar dan peluncur untuk menghadapi rudal Iran, misalnya, dapat memperlambat respons terhadap serangan dari Yaman yang datang dari arah berbeda.
Luas wilayah Saudi yang mencapai lebih dari 2,1 juta kilometer persegi turut memperumit pertahanan. Sebaran kota, bandara, pangkalan militer, dan fasilitas minyak membuat pembangunan jaringan perlindungan terpadu menjadi tantangan tersendiri.
Program modernisasi dan pengalaman tempur dalam perang Yaman telah meningkatkan kemampuan udara Saudi. Namun, menurut Wasser, pesawat tempur negara itu masih sangat bergantung pada AS untuk memperoleh informasi intelijen, mengidentifikasi sasaran, dan menentukan target serangan. Modernisasi yang dimulai Putra Mahkota Mohammed bin Salman juga dinilai berjalan lambat dan belum merata di seluruh angkatan bersenjata.
David Roberts, peneliti King’s College London, menyebut kondisi ini sebagai “kutukan payung perlindungan”. Menurutnya, intervensi militer AS setelah Irak menyerbu Kuwait pada 1990 mendorong negara-negara Asia Barat mengandalkan kekuatan Washington, alih-alih mengembangkan seluruh kemampuan militernya secara mandiri.
Baca juga: Surat IRGC kepada Rakyat Amerika, dari Perang Iran hingga Masa Depan Hubungan Kedua Negara
Kegagalan AS di Afghanistan dan serangan terhadap fasilitas minyak Saudi di Abqaiq pada 2019 turut menggoyahkan anggapan bahwa Washington selalu mampu mendeteksi ancaman dan menjamin keamanan sekutunya.
Rudal Yaman Menguras Sumber Daya Pertahanan Saudi
Bloomberg mencatat Arab Saudi memiliki lebih dari 200 jet tempur F-15. Namun, lebih dari satu dekade serangan udara ke Yaman belum berhasil mengakhiri konflik sesuai tujuan Riyadh.
Wolf-Christian Paes, peneliti International Institute for Strategic Studies, mengingatkan bahwa persenjataan dan sumber daya keuangan tidak cukup untuk menjamin kemenangan militer. Pelatihan, motivasi, dan kepemimpinan juga menentukan efektivitas pasukan.
Salah satu kendala Saudi adalah kesulitan menemukan dan menghancurkan peluncur rudal bergerak serta fasilitas yang disembunyikan di wilayah Yaman yang sulit dijangkau atau di bawah tanah. Sementara itu, serangan dari Yaman memanfaatkan beragam persenjataan, mulai dari pesawat nirawak kecil dan rudal jelajah berbiaya rendah hingga rudal balistik.
Baca juga: Serangan Iran Hancurkan Pusat Data Amazon Web Services di Bahrain dan UEA
Ankit Panda, pakar Carnegie Endowment, menilai bahwa sekalipun 90 persen proyektil berhasil dicegat, serangan dalam jumlah besar tetap dapat menimbulkan kerusakan luas.
Menurut laporan Bloomberg, Yaman mampu memproduksi pesawat nirawak dan rudal balistik dengan tingkat presisi tertentu, dengan sejumlah komponen yang disebut berasal dari perusahaan China. Biaya produksi senjata tersebut berkisar dari beberapa ribu hingga ratusan ribu dolar AS, sedangkan harga rudal pencegat dapat mencapai jutaan dolar. Perbedaan biaya ini berpotensi menguras persediaan pertahanan Saudi, bahkan ketika sebagian besar serangan berhasil digagalkan.
Laporan tersebut menyebut persenjataan rudal Yaman mencakup rudal jelajah Quds-1 dengan jangkauan 750 kilometer, serta Burkan-1 sejauh 600 kilometer, Burkan-2 sejauh 850 kilometer, dan Burkan-3 sejauh 1.200 kilometer. Jangkauan itu, menurut Bloomberg, memungkinkan serangan mencapai sebagian besar wilayah Saudi.
Amerika Serikat juga pernah melancarkan lebih dari 1.000 serangan terhadap Yaman dalam kurun tiga bulan, sebelum kampanye tersebut berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata.
April Longley Alley, peneliti senior di Washington Institute, menilai pengalaman itu menunjukkan keterbatasan operasi udara. Menurutnya, konflik Yaman tidak dapat diselesaikan hanya dengan kekuatan militer.
Laporan Bloomberg menyoroti persoalan mendasar yang dihadapi Riyadh: persenjataan modern dan dukungan AS belum menghapus kerentanan pertahanan Saudi. Ketergantungan pada intelijen dan perlindungan eksternal, luasnya wilayah yang harus dijaga, serta biaya tinggi untuk menghadapi persenjataan yang relatif murah terus menjadi tantangan bagi militer kerajaan tersebut. []
Baca juga: Ansarullah Rebut Pegunungan Al-Aghbara di Kawasan Bab el-Mandeb







