Opini
CSIS: Infrastruktur Rudal Iran Sulit Dihancurkan Lewat Serangan Udara

Media ABI, 16 Oktober 2026 – Para pakar Center for Strategic and International Studies (CSIS), lembaga kajian strategis yang berbasis di Amerika Serikat, menilai serangan udara tidak menjamin kehancuran kapasitas militer Iran. Fasilitas rudal yang berada di bawah tanah atau terlindungi oleh struktur pertahanan yang kuat sulit ditemukan dan dihancurkan hanya melalui serangan dari udara.
Dalam panel yang membahas bagaimana perang dengan Iran akan berakhir pada Kamis (15/10/2026), para pakar CSIS juga menyoroti kerentanan pangkalan militer AS di kawasan, ancaman terhadap jalur pelayaran strategis, serta dampak ekonomi dan politik perang bagi Washington.
Baca juga: Mantan Duta Besar Inggris: Trump Tak Memahami Sejarah Peradaban Iran
Menurut mereka, konflik tersebut telah mengubah perhitungan strategis AS. Dampaknya meluas dari medan perang hingga pasar energi, kondisi ekonomi rumah tangga Amerika, dan dinamika politik menjelang pemilihan paruh waktu.
Serangan Udara Memiliki Batas
Kari Bingen menjelaskan bahwa operasi militer AS pada tahap awal perang berfokus pada pelemahan kemampuan rudal dan pesawat nirawak Iran. Namun, setelah berbulan-bulan serangan berlangsung, kemampuan militer Iran dinilai masih bertahan.
Keberadaan fasilitas rudal di bawah tanah dan lokasi yang diperkuat menjadi salah satu kendala utama. Serangan udara dapat merusak sejumlah sasaran, tetapi tidak otomatis melumpuhkan seluruh kemampuan operasional Iran.
Tom Karako juga menyoroti keterbatasan serangan jarak jauh dalam mencapai sasaran strategis. Fasilitas yang berada jauh di bawah tanah dan terlindungi dengan ketat akan sulit dihancurkan tanpa akses langsung. Dalam kondisi tertentu, upaya mencapai sasaran semacam itu bahkan dapat menuntut operasi darat.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa keunggulan udara tidak dengan sendirinya menjamin tercapainya tujuan strategis perang. Kemampuan menyerang dan kemampuan melumpuhkan seluruh kekuatan lawan merupakan dua persoalan berbeda.
Para pakar CSIS menilai serangan terhadap Hizbullah di Lebanon dan Hamas tidak serta-merta menghapus jaringan kelompok yang memiliki kedekatan strategis dengan Teheran. Sebagian kelompok tersebut dinilai masih berpeluang memulihkan kemampuan operasional dan memengaruhi perkembangan keamanan kawasan.
Bingen menjelaskan bahwa pada tahap awal perang, operasi AS lebih berfokus pada kemampuan militer Iran secara langsung. Pelemahan kelompok-kelompok sekutunya menjadi prioritas berikutnya. Keberlangsungan jaringan dan kemampuan operasional kelompok tersebut karena itu masih dapat menjadi tantangan bagi Washington dan sekutu regionalnya.
Baca juga: Delapan Marinir AS Terluka dalam Serangan Rudal Iran di Hormuz
Ansarullah Yaman mendapat perhatian khusus karena kemampuannya mengancam sasaran regional dan mengganggu jalur pelayaran. Jika gangguan terjadi pada jalur perdagangan internasional, dampaknya dapat meluas jauh melampaui medan perang di Iran.
Para pakar juga menekankan perlunya membedakan keselarasan strategis dengan Iran dari kepatuhan penuh terhadap keputusan Teheran. Meski bekerja sama dengan Iran, Ansarullah dinilai memiliki pertimbangan dan prioritas sendiri.
Hormuz dan Bab al-Mandab Titik Tekan Strategis
Selat Hormuz dan Bab al-Mandab merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dan pelayaran internasional. Gangguan terhadap kedua jalur tersebut berpotensi meningkatkan biaya ekonomi dan politik perang bagi AS beserta mitra-mitranya.
Selat Hormuz menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair, sedangkan Bab al-Mandab menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Gangguan pada salah satu jalur ini dapat memengaruhi kelancaran perdagangan dan distribusi energi global.
Bingen menilai posisi geografis Iran dan Yaman memberi keduanya daya tekan yang tidak hanya bergantung pada kekuatan militer. Letak geografis serta kemampuan mengganggu pelayaran dapat menjadi faktor penting dalam meningkatkan tekanan terhadap AS dan sekutu regionalnya.
Karena itu, kerusakan pada sebagian kemampuan militer Iran tidak serta-merta menghilangkan risiko gangguan terhadap jalur laut. Ancaman tersebut tetap berpotensi memengaruhi harga energi, perdagangan internasional, dan perhitungan politik negara-negara yang terlibat.
Perkembangan teknologi penginderaan dan meluasnya akses terhadap citra satelit komersial telah mengubah lingkungan operasi militer. Kemampuan mengidentifikasi pergerakan pasukan dan lokasi fasilitas strategis kini tidak lagi terbatas pada negara yang memiliki program antariksa besar.
Bingen menjelaskan bahwa data satelit komersial dan informasi dari mitra luar negeri dapat membantu berbagai pihak melacak aktivitas militer. Perkembangan ini membuat posisi pasukan dan fasilitas strategis semakin sulit disembunyikan.
Baca juga: Citra Satelit Rekam Jejak Hantaman Rudal Iran di Pangkalan AS di Yordania
Sejumlah aset AS di kawasan, mulai dari radar dan sistem peringatan dini hingga pusat komando, komunikasi satelit, serta pesawat pengisi bahan bakar, menghadapi risiko teridentifikasi dan menjadi sasaran serangan.
Para pakar menilai keunggulan udara tidak lagi cukup untuk menjamin keamanan seluruh pasukan dan fasilitas. Washington perlu mengevaluasi kembali cara menempatkan dan melindungi personel serta infrastruktur militernya di kawasan.
Dampak perang juga terasa dalam ranah ekonomi dan politik domestik AS. Kenaikan biaya perang dan harga energi dapat menambah beban rumah tangga Amerika sekaligus memengaruhi keputusan pemerintahan Donald Trump mengenai kelanjutan operasi militer.
Pemilihan paruh waktu turut memperbesar risiko politik dari perang berkepanjangan tanpa hasil yang jelas. Di Kongres, perbedaan pandangan mengenai anggaran pertahanan dan prioritas keamanan nasional juga dapat mempersulit penyusunan strategi jangka panjang.
Perdebatan mengenai pendanaan pertahanan, termasuk program Golden Dome, menjadi bagian dari persoalan yang harus dihadapi Washington dalam menentukan arah kebijakan pertahanannya.
Perang Mengubah Perhitungan Strategis Washington
Para pakar menilai perang memperlihatkan bahwa keunggulan militer dan teknologi tidak sepenuhnya melindungi pangkalan serta aset strategis AS dari ancaman. Jika Iran mampu mempertahankan sebagian kemampuan militernya setelah menghadapi serangan besar, kredibilitas ancaman Washington untuk mencapai tujuan maksimalnya dapat dipertanyakan.
Teheran juga diperkirakan dapat memilih memulihkan kemampuan militer dan memperkuat posisinya sebelum mengambil langkah eskalasi berikutnya.
Dengan demikian, akhir perang tidak hanya ditentukan oleh hasil operasi militer. Kemampuan pemerintah AS menanggung beban ekonomi dan politik, menjaga konsolidasi dalam negeri, serta memperkuat pertahanan turut memengaruhi prospek berakhirnya konflik dan keseimbangan daya tangkal setelah perang. []
Baca juga: Serangan Rudal Iran ke Kapal Perang AS Picu Kekhawatiran di Washington







