Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Serangan Iran Hancurkan Pusat Data Amazon Web Services di Bahrain dan UEA

Published

on

Pusat data Amazon Web Services di Bahrain dan Uni Emirat Arab mengalami kerusakan akibat serangan, menyebabkan sebagian sumber daya dan data pelanggan tidak dapat dipulihkan.
Pusat data Amazon Web Services di Bahrain dan Uni Emirat Arab mengalami kerusakan akibat serangan, menyebabkan sebagian sumber daya dan data pelanggan tidak dapat dipulihkan. (Foto: Planet Labs PBC)

Media ABI, 18 September 2026 – Serangan Iran di kawasan Teluk berdampak pada infrastruktur digital Amazon Web Services atau AWS di Bahrain dan Uni Emirat Arab. Sejumlah fasilitas pusat data mengalami kerusakan, sementara sebagian akses pelanggan dilaporkan tidak dapat dipulihkan.

Reuters dalam laporan “Amazon’s AWS is unable to restore access to Bahrain, one UAE cloud data zone after war damage” yang ditulis pada 15 September 2026, melaporkan AWS tidak dapat memulihkan akses ke fasilitas cloud-nya di Bahrain dan salah satu dari tiga availability zone di Uni Emirat Arab. Mengutip pembaruan AWS, Reuters melaporkan kerusakan di Bahrain mencakup beberapa availability zone dan melampaui kemampuan yang dirancang untuk ditangani oleh sistem regional maupun multi-availability zone.

Baca juga: IRGC Hancurkan Pusat Data Amazon Web Services (AWS) di Bahrain

Kerusakan paling serius terjadi di Bahrain. AWS menyatakan tidak dapat memulihkan akses terhadap sumber daya dan data yang hanya tersimpan di wilayah tersebut setelah berbagai opsi pemulihan yang tersedia digunakan. Di Uni Emirat Arab, kondisi serupa terjadi pada availability zone mec1-az2, sementara AWS masih berupaya memulihkan sumber daya pada dua zona lainnya.

Ars Technica memperkuat laporan tersebut melalui artikel “Iran strikes on Amazon data centers caused permanent loss of customer data” yang ditulis Jeremy Hsu pada 16 September 2026. Laporan itu menyebut AWS mengakui adanya kehilangan permanen sebagian data pelanggan yang tersimpan di fasilitas terdampak di Bahrain dan UEA. Di Bahrain, ketiga availability zone terdampak, sedangkan di UEA satu dari tiga zona dinyatakan tidak dapat dipulihkan.

Kondisi tersebut berkaitan dengan rancangan ketahanan infrastruktur AWS. The Register, melalui laporan “AWS says wartime damage means some Middle East cloud resources are gone for good” karya Dan Robinson pada 16 September 2026, menjelaskan bahwa sistem availability zone dirancang untuk mengisolasi gangguan pada satu lokasi. Namun, kerusakan yang meluas ke beberapa zona dalam satu wilayah membuat mekanisme redundansi tersebut tidak lagi cukup untuk menjaga seluruh sumber daya tetap tersedia.

Setelah zona pertama di Bahrain mengalami kerusakan pada Maret, AWS meminta pelanggan memindahkan beban kerja mereka ke wilayah lain. Sebagian besar pelanggan disebut telah melakukannya sebelum gangguan berikutnya pada April membuat seluruh wilayah Bahrain tidak tersedia. AWS kemudian membantu pelanggan memulihkan operasi melalui wilayah alternatif, cadangan data dan solusi lain yang masih dapat digunakan.

Baca juga: Rudal IRGC Hantam Pusat Data Amazon, Janji “Membutakan” AS dan Israel

Persoalan paling serius muncul pada informasi yang tidak memiliki salinan cadangan atau belum dipindahkan sebelum fasilitas kehilangan akses. Untuk data semacam itu, AWS menyatakan tidak memiliki opsi pemulihan yang tersisa. Reuters melaporkan perusahaan telah menilai infrastruktur yang terdampak dan menyimpulkan bahwa sumber daya yang hanya tersimpan di wilayah Bahrain tidak dapat dipulihkan.

Kerusakan tidak hanya menyangkut sistem komputasi. AWS sebelumnya mengatakan serangan menyebabkan kerusakan struktural dan gangguan pasokan listrik. Dalam beberapa kasus, penggunaan sistem pemadam kebakaran juga menimbulkan kerusakan akibat air. Reuters dalam laporan 2 Maret 2026 yang ditulis Shubham Kalia, Aditya Soni dan Mrinmay Dey melaporkan AWS memperkirakan proses pemulihan akan berlangsung lama karena skala kerusakan fisik pada fasilitas di Bahrain dan UEA.

AWS mengakui sebagian data pelanggan di fasilitas terdampak tidak dapat dipulihkan secara permanen.

AWS mengakui sebagian data pelanggan di fasilitas terdampak tidak dapat dipulihkan secara permanen. (Foto: Planet Labs PBC)

Baca juga: Pertahanan Udara Iran Tumbangkan MQ-9 Reaper, “Pemburu Legendaris” Amerika

Peristiwa tersebut memperlihatkan risiko yang dihadapi pusat data ketika infrastruktur digital beroperasi di kawasan konflik. Keandalan layanan cloud tidak hanya bergantung pada perangkat lunak dan sistem redundansi, tetapi juga pada bangunan, pasokan listrik, jaringan komunikasi, sistem pendingin dan berbagai fasilitas fisik yang menopangnya.

Risiko tersebut turut memengaruhi perencanaan infrastruktur digital di kawasan Teluk. Reuters dalam laporan “UAE revises AI data center plan after Iranian attacks, sources say” pada 11 September 2026 menyebut Uni Emirat Arab sedang mengubah rancangan proyek pusat data kecerdasan buatan berskala besar setelah serangan terhadap infrastruktur teknologi yang terkait dengan Amerika Serikat. Perubahan yang dipertimbangkan mencakup penyebaran fasilitas ke sejumlah lokasi, pembangunan sebagian infrastruktur di bawah tanah, penggunaan material tahan ledakan serta penguatan sistem pertahanan terhadap ancaman drone dan rudal.

Bagi industri cloud, persoalannya bukan hanya bagaimana memulihkan layanan setelah serangan, tetapi juga bagaimana merancang infrastruktur yang tetap mampu beroperasi ketika satu wilayah mengalami kerusakan fisik dalam skala besar.

Meski sejumlah fasilitasnya terdampak, AWS menyatakan tetap berkomitmen mendukung pelanggan di Bahrain dan UEA. Perusahaan masih melakukan pemulihan pada infrastruktur yang tersisa dan menjanjikan pembaruan mengenai perkembangan layanan dalam beberapa bulan mendatang. Untuk Bahrain, AWS menyatakan akan memberikan pembaruan berikutnya pada awal 2027. []

Baca juga: Iran Lumpuhkan Otak Digital AS: Infrastruktur AI dan Cloud Militer di Bahrain