Opini
Rudal Ansarullah, Mimpi Buruk Ambisi Bin Salman

MEDIA ABI, 16 Oktober 2026 – Penguatan kemampuan militer Ansarullah di Yaman dan keterbatasan Arab Saudi dalam membendung serangannya mengancam ambisi ekonomi Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Riyadh kini menghadapi pilihan sulit, antara melancarkan perang darat yang mahal atau menerima kesepakatan yang memungkinkan Ansarullah tetap menguasai sebagian besar wilayah Yaman.
Baca juga: Pencabutan Blokade Syarat Gencatan Senjata Ansarullah dengan Saudi
Laporan Robert F. Worth di majalah Amerika Serikat The Atlantic, yang dilansir Fars News Agency pada Jumat (16/10/2026), mengulas bagaimana kemampuan militer Ansarullah menjadi tantangan bagi rencana Bin Salman menjadikan Arab Saudi sebagai pusat pariwisata, teknologi, dan investasi. Ancaman terhadap bandara dan infrastruktur vital juga berpotensi merusak citra negara itu sebagai tujuan aman bagi wisatawan dan investor asing.
Serangan Bandara Riyadh Mengungkap Kerentanan Pertahanan
Dalam laporannya, Worth menyoroti kontras antara ambisi ekonomi Bin Salman dan situasi keamanan yang dihadapi Arab Saudi. Putra mahkota itu berupaya menarik investasi teknologi, mengembangkan sektor pariwisata, serta menjalin hubungan dengan para eksekutif perusahaan kecerdasan buatan dan industri teknologi.
Namun, serangan yang menurut laporan tersebut menyasar dua terminal di bandara utama Riyadh mengguncang gambaran keamanan yang ingin dibangun pemerintah. Serangan pada Sabtu itu disebut menewaskan 13 orang dan melukai ratusan lainnya. Kebakaran, asap di dalam terminal, serta runtuhan bagian langit-langit dilaporkan memicu kepanikan penumpang.
Menurut analisis The Atlantic, serangan terkoordinasi yang melibatkan pesawat nirawak, rudal jelajah, dan rudal balistik diduga mampu menembus pertahanan udara Arab Saudi. Situasi ini semakin mengkhawatirkan karena persediaan rudal pencegat negara tersebut dilaporkan terus menipis.
Worth juga mengutip seorang rekannya di Riyadh yang menggambarkan keterkejutan masyarakat. Mereka tidak menyangka ibu kota Arab Saudi dapat mengalami serangan semacam itu.
Laporan tersebut turut menyoroti tekanan keamanan terhadap para penguasa Saudi, yang digambarkan harus berpindah di antara istana-istana dengan perlindungan bunker bawah tanah. Kondisi itu berlawanan dengan upaya Riyadh mempromosikan negaranya sebagai tempat yang aman bagi investor dan wisatawan.
Baca juga: Ansarullah Rebut Pegunungan Al-Aghbara di Kawasan Bab el-Mandeb
Riyadh Menghadapi Keterbatasan Pilihan Militer
Persoalan Arab Saudi bukan hanya kemampuan melindungi wilayahnya, melainkan juga dampak ancaman keamanan terhadap agenda pembangunan Bin Salman. Ketidakstabilan yang berkepanjangan dapat menghambat masuknya investasi dan mengurangi kepercayaan wisatawan.
Menurut The Atlantic, pilihan militer Riyadh untuk menghadapi Ansarullah semakin terbatas. Adam Baron, peneliti New America Foundation di Washington yang mendalami persoalan Yaman dan kawasan Teluk, mengatakan kepada Worth bahwa Arab Saudi kini menghadapi dua pilihan, berupaya memukul mundur Ansarullah dengan kekuatan militer atau menerima kesepakatan yang memungkinkan gerakan tersebut mempertahankan sebagian besar wilayah yang dikuasainya.
Pengalaman satu dekade terakhir menunjukkan bahwa serangan udara belum mampu mengalahkan Ansarullah. Gerakan tersebut bertahan menghadapi berbagai kampanye pengeboman, termasuk operasi udara Amerika Serikat selama tujuh pekan pada tahun sebelumnya.
The Atlantic menilai, upaya merebut kembali wilayah yang dikuasai Ansarullah membutuhkan operasi darat berskala besar dan berkelanjutan. Namun, Arab Saudi dinilai tidak memiliki kekuatan darat yang memadai untuk menjalankan operasi semacam itu.
Selama ini, Riyadh mengandalkan kelompok-kelompok bersenjata di Yaman selatan. Perselisihan di antara kelompok tersebut dan keterbatasan kemampuan militernya membuat mereka sulit merebut kembali wilayah Ansarullah secara berkelanjutan.
Baca juga: Bertahun-tahun Digempur Koalisi Arab, Ansarullah Semakin Kuat
Dengan sumber daya keuangan dan persenjataan yang lebih besar sekalipun, Arab Saudi masih menghadapi persoalan mendasar, yakni ketiadaan kekuatan darat yang solid untuk mencapai tujuan militernya.
Negara-Negara Kawasan Enggan Terlibat
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Riyadh berupaya memperluas dukungan regional. Menurut laporan The Atlantic, Arab Saudi telah mengadakan pembicaraan dengan para pemimpin Suriah, Mesir, Pakistan, dan Turki. Namun, negara-negara itu belum menunjukkan kesediaan untuk terlibat dalam perang guna merebut kembali wilayah Yaman utara.
Sikap hati-hati tersebut berkaitan dengan pengalaman sejarah. Turki pernah menghadapi kegagalan dalam sejumlah operasi militernya di Yaman pada masa kekuasaan Utsmani. Mesir pun pernah terlibat dalam perang saudara Yaman pada 1960-an, konflik berkepanjangan yang kerap dijuluki Vietnam-nya Mesir karena besarnya beban yang harus ditanggung.
Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa intervensi militer di Yaman dapat berubah menjadi perang panjang yang menguras sumber daya dan menimbulkan kerugian besar.
Menurut penilaian The Atlantic, negara-negara yang didekati Riyadh mungkin bersedia membantu mempertahankan wilayah Arab Saudi jika menghadapi invasi darat berskala besar. Namun, kesediaan untuk membantu pertahanan Saudi tidak serta-merta berarti mereka mau mengirim pasukan untuk merebut kembali Yaman utara.
Upaya membangun koalisi regional pun belum tentu menyelesaikan masalah utama Riyadh. Arab Saudi masih harus menghadapi ancaman keamanan yang sulit dibendung, sementara ambisi ekonomi Bin Salman membutuhkan stabilitas dan kepercayaan internasional. Selama persoalan itu belum teratasi, cita-cita menjadikan Arab Saudi sebagai pusat pariwisata, teknologi, dan investasi akan terus dibayangi konflik Yaman. []
Baca juga: Ansarullah Peringatkan Arab Saudi Tak Gunakan Mekkah Sebagai Tameng







