Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Langit Najaf Bergetar, Bumi Karbala Menangis Lepas Kepergian Sang Syahid

Published

on

Jutaan pelayat memadati kawasan antara Dua Haram di Karbala untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Imam Sayyid Ali Khamenei sebelum jenazah diberangkatkan menuju Mashhad.

Oleh: Abdillah Al Habsyi (Aktivis dan Pengamat Timur Tengah)

Ahlulbait Indonesia, 9 Juli 2026 — Langit Irak bergelayut duka. Media pemerintah Irak melaporkan lebih dari 25 juta pelayat mengiringi prosesi pemakaman Sang Syahid, Imam Sayyid Ali Khamenei r.a, di Najaf dan Karbala. Peti jenazah suci yang membawa pemimpin yang mereka cintai kemudian bertolak menuju Mashhad, tanah kelahiran sekaligus tempat peristirahatan datuknya, Imam Ali ar-Ridha s.a,, diiringi lambaian tangan yang gemetar dan tangis yang tak kunjung reda.

Selama hampir lima jam, iring-iringan pemakaman bergerak perlahan membelah lautan manusia di Jalan Abu Mahdi al-Muhandis dan Jalan Shatt al-Abbas. Ketika peti suci memasuki kawasan antara Dua Haram, suasana berubah hening. Jutaan pelayat yang memadati setiap sudut kawasan suci berdesakan bukan untuk mencari tempat terbaik, melainkan demi menyaksikan perjalanan terakhir imam yang mereka cintai.

Baca juga: Melampaui Air Mata Duka: Ketika Kematian Menjelma Menjadi Roh Identitas Nasional

Besarnya duka tak lagi dapat diwakili oleh angka. Prosesi di Karbala tertunda hingga empat jam akibat lautan manusia yang memadati seluruh jalur menuju kompleks suci. Upacara penghormatan terakhir itu pun berlangsung hampir dua belas jam, menjadi salah satu prosesi pemakaman terbesar yang pernah disaksikan kota suci tersebut.

Sejak jauh sebelum upacara dimulai, setiap jengkal jalan menuju Makam Suci Imam Husain s.a, dan Hazrat Abul Fadl al-Abbas s.a, telah dipenuhi para pelayat. Jutaan peziarah yang tengah menempuh perjalanan Arbaeen dari Najaf memilih mengawal peti jenazah hingga gerbang kota. Mereka menyatu dalam arus manusia yang bergerak perlahan, dipersatukan oleh rasa kehilangan yang sama.

“Suasana begitu mencekam oleh rasa kehilangan, namun agung oleh penghormatan.”

Penghormatan Terakhir di Hadapan Para Suci

Saat peti jenazah memasuki pelataran Makam Suci Imam Husain s.a, dan diletakkan di hadapan pusara cucu Nabi Muhammad saw., isak tangis kembali pecah. Salat jenazah keempat dipimpin dengan khusyuk oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Sheikh Abdul Mahdi al-Karbalai. Seusai salat, jenazah Sang Syahid diarak mengelilingi makam sebagai penghormatan terakhir di hadapan Imam Husain s.a,.

Peti jenazah kemudian dipanggul melintasi kawasan antara Dua Haram menuju Makam Suci Hazrat Abul Fadl al-Abbas s.a,. Di sana, jutaan pelayat telah menanti dengan hati yang dipenuhi duka.

Baca juga: Melampaui Air Mata Duka: Ketika Kematian Menjelma Menjadi Roh Identitas Nasional

Sayyid Ahmad al-Safi memimpin salat jenazah berikutnya dengan suara bergetar. Di hadapan makam Qamar Bani Hasyim, doa-doa ziarah dipanjatkan untuk Sang Syahid. Dalam suasana yang menyayat hati itu, ucapan belasungkawa secara gaib dihaturkan kepada Imam al-Mahdi a.f.

Sejarah yang Ditulis dengan Air Mata

Fajar hampir menyingsing ketika prosesi mencapai puncaknya sekitar pukul 05.00 waktu Teheran. Upacara berlangsung jauh melewati jadwal semula karena jutaan pelayat terus mengiringi perjalanan peti jenazah di sepanjang rute pemakaman.

Irak tenggelam dalam duka. Hari libur nasional diumumkan, tetapi jalan-jalan justru dipenuhi masyarakat yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Presiden, Perdana Menteri, para menteri, ulama perwakilan maraji’, hingga para pemimpin suku berdiri berdampingan dengan rakyat biasa. Seluruh perbedaan status larut dalam kesedihan yang sama.

Lebih dari 3.000 jurnalis dari berbagai negara meliput peristiwa bersejarah ini. Mereka menyaksikan secara langsung salah satu prosesi penghormatan publik terbesar yang pernah berlangsung di Karbala.

Kini, pesawat yang membawa peti jenazah suci Imam Sayyid Ali Khamenei r.a, bersama anggota keluarganya yang turut gugur, telah lepas landas dari Bandara Internasional Najaf menuju Mashhad. Di kota suci itu, jutaan hati telah bersiap menyambut kedatangannya untuk mengantarkan Sang Imam menuju tempat peristirahatan terakhir.

Selamat jalan, Sang Imam. Pengabdianmu telah berakhir di dunia, tetapi jejak perjuanganmu akan terus hidup dalam ingatan dan hati jutaan manusia. Dari Najaf hingga Karbala, dari Karbala menuju Mashhad, sejarah hari ini ditulis bukan hanya oleh langkah-langkah manusia, melainkan juga oleh air mata yang mengiringinya. []

Baca juga: Diplomasi Al-Qur’an: Membaca Pesan di Balik Pemilihan Ayat bagi Delegasi Asing