Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Saudi Gagal Total Ulangi Skenario Suriah di Yaman

Published

on

Pasukan Ansarullah dalam operasi militer di Yaman. Pertempuran di sejumlah front dilaporkan menggagalkan operasi pasukan yang didukung Arab Saudi.
Pasukan Ansarullah dalam operasi militer di Yaman. Pertempuran di sejumlah front dilaporkan menggagalkan operasi pasukan yang didukung Arab Saudi.

Media ABI, 15 September 2026 – Pertempuran di pantai barat Yaman berakhir dengan kekalahan pasukan yang didukung Arab Saudi. Ansarullah dilaporkan menguasai kawasan tersebut hingga Selat Bab al-Mandab. Tasnim News Agency dalam analisis yang terbit Selasa (15/9/26) menyebut perkembangan itu menggagalkan upaya Riyadh mengulang skenario perang Suriah di Yaman.

Tasnim mengutip sumber-sumber Yaman yang menyatakan pasukan Sanaa berhasil mengusir pasukan pendukung Saudi dari enam wilayah dan menghancurkan 38 brigade militer dalam operasi “Wallahu asyaddu ba’san wa asyaddu tankilan”.

Rencana Saudi dan Jejak dari Suriah

Menurut sumber yang dikutip surat kabar Al-Akhbar Lebanon, Saudi telah menyiapkan rencana tersebut selama lebih dari satu tahun. Riyadh disebut mengerahkan sejumlah milisi ekstremis dari Suriah, menempatkan pemimpin kelompok ekstremis pada posisi militer senior, serta memperkuat organisasi Salafi dan membentuk kelompok-kelompok baru.

Baca juga: Iran “Panen” Drone MQ-1 Predator AS di Selat Hormuz

Salah satu kelompok yang disebut dalam laporan tersebut adalah Pasukan Perisai Nasional, organisasi yang didirikan Saudi beberapa tahun lalu.

Rencana itu mulai dijalankan ketika pasukan yang didukung Saudi melancarkan operasi pada awal September di wilayah yang berada di bawah pendudukan. Namun, operasi tersebut mendapat perlawanan dari pasukan Sanaa.

Al-Akhbar juga mengutip sumber militer yang menyebut adanya keterlibatan Suriah dalam pelatihan faksi-faksi Salafi di wilayah Al-Wadiah dan Sharurah di Saudi. Sumber tersebut mengklaim Sanaa memperoleh informasi bahwa ratusan unsur ekstremis telah dipindahkan dari Suriah menuju Yaman melalui wilayah Saudi.

Sumber yang sama menyebut adanya informasi mengenai peran Turki dalam pemindahan unsur-unsur ekstremis dari Suriah menuju front Ma’rib, Al-Jawf, Aden dan Hadramaut.

Mantan Menteri Dalam Negeri Irak Baqir Jabr al-Zubaidi turut mengungkap dugaan pemindahan kelompok bersenjata dari Suriah ke Yaman. Dalam wawancara yang diberitakan media Irak sehari sebelumnya, dia mengatakan sebuah jembatan udara dibentuk setelah kegagalan operasi militer negara-negara Teluk terhadap Ansarullah.

“Setelah kegagalan operasi militer negara-negara Teluk terhadap Ansarullah, sebuah jembatan udara dibentuk untuk memindahkan teroris dari Suriah ke Yaman guna menghadapi gerakan tersebut. Langkah ini disertai kampanye media yang intensif,” kata al-Zubaidi.

Menurut al-Zubaidi, Ahmed al-Sharaa atau Abu Mohammed al-Julani, pemimpin pemerintahan sementara Suriah, mungkin mendapat tekanan negara-negara Teluk untuk bekerja sama menghadapi Ansarullah, terutama berkaitan dengan bantuan keuangan.

Baca juga: Trump Klaim Perang Iran Segera Berakhir

Al-Zubaidi menyatakan keputusan Suriah berkaitan dengan sikap pihak-pihak regional dan internasional. Menurut dia, kelanjutan langkah tersebut dapat membuka front-front baru di kawasan.

Mantan menteri Irak itu juga mempertanyakan kemungkinan Turki menyetujui aktivitas tersebut di Suriah dalam kerangka aliansi Makkah bersama Saudi dan Pakistan. Menurut dia, kepentingan sebenarnya Turki adalah memperkuat setiap front yang berhadapan dengan Israel, terutama front Ansarullah.

Pertempuran Masih Berlangsung

Di medan tempur, pertempuran antara pasukan Sanaa dan kelompok yang didukung Saudi masih berlangsung di Provinsi Al-Jawf. Angkatan Bersenjata Yaman dilaporkan mengusir pasukan lawan dari poros Al-Labanat dan Al-Kana’is.

Di Provinsi Lahj, pasukan Sanaa disebut menggagalkan upaya kelompok Salafi untuk maju di front Kahbub. Sejumlah kawasan yang berkaitan dengan keamanan Selat Bab al-Mandab, terutama dari arah Ras al-Arah dan Al-Mudaribah di sekitar distrik Dhubab, juga dilaporkan telah diamankan.

Kelompok Salafi yang dipimpin Hamdi Shukri kembali dilaporkan mundur setelah mengalami kekalahan. Shukri sebelumnya menarik kelompoknya dari front selatan Hodeidah pada Rabu sore setelah bentrokan pertama dengan Ansarullah.

Sumber-sumber Yaman kepada Al-Akhbar mengatakan pertempuran belum berakhir. Menurut mereka, pasukan Sanaa masih bertekad menguasai provinsi dan kota-kota besar Yaman yang berada di bawah kendali pasukan pendukung Saudi.

Menurut sumber yang sama, Ansarullah telah mempersiapkan operasi tersebut selama sekitar satu tahun. Dalam periode itu, kelompok tersebut disebut berhasil menyusup ke jajaran pasukan yang didukung Saudi dan memperoleh informasi mengenai gudang senjata mereka.

Baca juga: AS Seret China dalam Konflik dengan Iran

Informasi tersebut kemudian digunakan untuk melancarkan serangan pendahuluan terhadap gudang-gudang senjata yang dibangun selama beberapa tahun terakhir. Sumber Al-Akhbar juga mengklaim badan intelijen Sanaa memiliki personel di sejumlah pangkalan terkait Saudi, termasuk kamp Al-Wadiah, pangkalan Al-Ruwaiq serta markas koalisi di Ma’rib dan pantai barat.

Ketika pertempuran di pantai barat meningkat, Saudi dilaporkan mengirimkan muatan besar senjata dan amunisi untuk memperkuat pasukan pendukungnya. Menurut sumber Yaman, pengiriman menggunakan truk bantuan kemanusiaan milik Pusat Bantuan dan Bantuan Kemanusiaan Raja Salman gagal setelah kendaraan tersebut diserang pasukan Sanaa dengan sejumlah besar drone.

Perkembangan pertempuran di wilayah barat dan timur Yaman juga mendapat perhatian di Suriah. Media dan pengguna media sosial di negara tersebut dilaporkan mengikuti perkembangan konflik Yaman secara dekat. []

Baca juga: JD Vance: Jika Trump Menghendaki, AS Dapat Capai Kesepakatan dengan Tehran