Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Dari Suez ke Hormuz, Akankah Amerika Mengulang Nasib Inggris?

Published

on

Krisis Suez 1956 kembali dibandingkan dengan ketegangan di Hormuz dan Bab el-Mandeb.
Krisis Suez 1956 kembali dibandingkan dengan ketegangan di Hormuz dan Bab el-Mandeb.

Media ABI, 24 Agustus 2026 — Krisis Suez 1956 menjadi salah satu titik balik yang mempercepat berakhirnya dominasi Inggris di Timur Tengah. Hampir tujuh dekade kemudian, peristiwa itu kembali diperbincangkan ketika Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb menjadi titik penting dalam ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, dan Ansarullah.

Dalam analisis yang diterbitkan Fars News Agency pada Senin (24/8/2026), krisis bermula ketika Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser menasionalisasi Terusan Suez. Bagi Inggris, terusan tersebut merupakan jalur penting bagi distribusi minyak dan perdagangan dengan Asia, sekaligus lambang pengaruh imperium di kawasan.

Baca juga: Setahun Usai Perang 12 Hari, Produksi Senjata Iran Naik Dua Kali Lipat

London menganggap nasionalisasi itu sebagai ancaman terhadap kepentingannya. Inggris kemudian menyusun kesepakatan rahasia bersama Prancis dan Israel untuk menyerang Mesir.

Israel memulai serangan pada Oktober 1956. Inggris dan Prancis kemudian ikut turun tangan dengan alasan hendak memisahkan pihak-pihak yang bertikai. Operasi tersebut segera menghadapi tekanan dari Washington dan Moskow.

Presiden AS Dwight Eisenhower khawatir serangan itu justru memperluas pengaruh Uni Soviet di Timur Tengah dan memperkuat sentimen antikolonial di dunia Arab.

Tekanan penentu datang melalui jalur ekonomi. Washington menekan London dengan ancaman tidak memberikan dukungan terhadap pound sterling. Beban untuk mempertahankan operasi pun meningkat hingga pemerintahan Perdana Menteri Anthony Eden akhirnya menerima gencatan senjata dan menarik pasukannya.

Krisis Suez kemudian menjadi lebih dari sebuah kekalahan militer. Mesir tetap menguasai terusan, sedangkan Nasser memperoleh posisi kuat di dunia Arab. Bagi banyak sejarawan, 1956 menandai saat Inggris mulai kehilangan kemampuan untuk bertindak sebagai kekuatan imperium secara mandiri. Krisis tersebut juga mempercepat gelombang antikolonial di berbagai kawasan.

Pengalaman itu kini dibaca kembali melalui perkembangan di jalur laut yang berbeda.

Baca juga: Iran Sindir Trump: Amerika Namai Kekalahan Berikutnya sebagai “Perang Ekonomi”

Dalam program Al Jazeera bertajuk Krisis Suez Menghentikan Imperium Inggris, Apakah Hormuz Akan Mengalahkan Amerika?, Laleh Khalili, profesor Studi Teluk di University of Exeter sekaligus penulis Sinews of War and Trade, menghubungkan kedua situasi tersebut.

Menurut Khalili, perkembangan di Hormuz dan Bab el-Mandeb memiliki kemiripan dengan konflik historis mengenai jalur perdagangan dan energi. Bedanya, Iran dan Ansarullah kini menghadapi kekuatan militer Amerika Serikat dengan pendekatan asimetris.

Tekanan terhadap Bab el-Mandeb oleh Ansarullah dan langkah Iran terkait Selat Hormuz, menurut Khalili, menunjukkan bagaimana posisi geografis dapat menjadi sumber daya strategis. Untuk menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih besar, tidak selalu diperlukan persenjataan dengan biaya sebanding.

Drone dan ranjau, misalnya, jauh lebih murah dibandingkan kapal perang atau kapal induk. Namun, keduanya dapat digunakan untuk memanfaatkan kerentanan jalur pelayaran dan mengganggu jaringan perdagangan yang bergantung pada sejumlah titik sempit.

Khalili juga menyinggung insiden kapal Ever Given yang memblokir Terusan Suez selama beberapa hari pada 2021. Peristiwa tersebut, menurutnya, memperlihatkan betapa besar dampak gangguan pada satu titik geografis terhadap perdagangan internasional.

Pengalaman itu kemungkinan memberi pelajaran bagi Ansarullah mengenai arti penting Bab el-Mandeb. Sebaliknya, kemampuan kelompok tersebut mengganggu pelayaran di Laut Merah juga dapat menjadi pengalaman bagi Iran dalam memahami kerentanan jalur maritim.

Baca juga: Mantan Komandan CENTCOM: Pangkalan AS di Timur Tengah Tak Lagi Bisa Digunakan

Perang Tanker pada 1984 hingga 1988 juga dipandang Khalili sebagai bagian dari rangkaian pengalaman yang relevan dengan perkembangan kawasan saat ini.

Dalam Krisis Suez, Mesir menghadapi tiga angkatan bersenjata sekaligus, tetapi pada akhirnya tetap mempertahankan kendali atas terusan. Dampaknya melampaui Mesir dan ikut mengubah keseimbangan politik kawasan serta perekonomian dunia.

Ketika ditanya apakah Amerika Serikat kini menghadapi “momen Suez”, Khalili mengingatkan bahwa pembicaraan mengenai kemunduran kekuatan Amerika telah berlangsung sejak invasi ke Irak.

“Sejak Amerika memutuskan secara tragis untuk menyerang Irak dan menyebabkan kematian serta kehancuran jutaan orang di Timur Tengah, banyak orang telah berbicara tentang kematian imperium Amerika,” ujarnya.

Khalili menilai kebijakan Presiden Donald Trump turut mengikis sejumlah unsur yang menopang hegemoni Amerika. Menurutnya, kekuatan tersebut tidak hanya bertumpu pada kemampuan militer, tetapi juga bantuan, niat baik, dan pengaruh yang dibangun melalui kekuatan lunak.

“Trump bukan hanya menembak kaki Amerika, bukan hanya lututnya, tetapi hampir sampai ke dagunya,” katanya.

Khalili mengaku enggan meramalkan apakah Amerika Serikat akan mengalami kemunduran seperti Inggris setelah Suez. Namun, menurutnya, sejumlah perkembangan saat ini telah menggerakkan unsur-unsur kemunduran tersebut dan prosesnya akan sulit dihentikan.

Perbandingan antara Suez dan Hormuz pada akhirnya bertumpu pada persoalan yang sama, yaitu bagaimana kendali atas jalur strategis dapat memengaruhi perhitungan kekuatan yang jauh lebih besar. []

Baca juga: Pentagon Terus Perbarui Data Korban Militer AS dalam Perang Iran