Ikuti Kami Di Medsos

Nasional

Ustadz Muhammad Al Haddad: Revolusi Imam Husein Merupakan Bagian dari Kehendak Ilahi

Published

on

Ustadz Muhammad Al Haddad menyampaikan ceramah malam ketiga Muharram di Yayasan Ulul Albab Kota Pasuruan, menjelaskan bahwa Revolusi Imam Husein As merupakan bagian dari kehendak dan perencanaan Ilahi yang telah ditetapkan Allah
Ustadz Muhammad Al Haddad menyampaikan ceramah malam ketiga Muharram di Yayasan Ulul Albab Kota Pasuruan, menjelaskan bahwa Revolusi Imam Husein As merupakan bagian dari kehendak dan perencanaan Ilahi yang telah ditetapkan Allah. (Dok. ABI)

Pasuruan, 20 Juni 2026 — Peristiwa Karbala bukan semata-mata hasil keputusan manusia atau strategi perjuangan biasa. Revolusi Imam Husein a.s, merupakan bagian dari kehendak dan perencanaan Allah SWT yang telah ditetapkan jauh sebelum tragedi tersebut terjadi. Pesan itu disampaikan Ustadz Muhammad Al Haddad dalam ceramah malam ketiga Muharram di Yayasan Ulul Albab, Kota Pasuruan, Kamis malam (18/6).

Mengawali ceramahnya, Wakil Ketua DPD Ahlulbait Indonesia (ABI) Kabupaten Pasuruan itu, mengutip sabda Imam Ja’far As Shadiq a.s, yang menyebut bahwa seluruh Imam Ahlul Bait merupakan bahtera penyelamat, sementara Imam Husein As menempati posisi sebagai pintu keselamatan umat. Menurutnya, siapa pun yang mendedikasikan dirinya untuk mengikuti jalan Imam Husein a.s, dengan segala konsekuensinya, telah menempatkan dirinya pada jalan keselamatan dunia dan akhirat.

Baca juga: Pesan Pemimpin Revolusi: Revolusi yang Tahu Apa yang Tidak Boleh Dikompromikan

Ustadz Muhammad kemudian mengajak jamaah merenungkan sikap para sahabat dan keluarga Imam Husein a.s, yang tetap memilih mendampingi Imam mereka meskipun mengetahui bahwa perjalanan tersebut akan berujung pada kesyahidan. Pilihan itu, menurutnya, menunjukkan bahwa mereka melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada kehidupan duniawi, yakni kebenaran yang diwujudkan melalui kebersamaan dengan Imam Husein dan Ahlul Bait Nabi Muhammad SAW.

Ustadz Muhammad juga mengaitkan perjuangan Imam Husein dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 40 tentang orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar selain karena mempertahankan keyakinan kepada Allah, dijelaskannya bahwa Imam Husein juga mengalami pengusiran dari tanah kelahirannya. Imam meninggalkan Madinah, kemudian berhijrah ke Makkah, dan melanjutkan perjalanan menuju Irak hingga akhirnya syahid di Karbala.

Revolusi Imam Husein merupakan bagian dari kehendak dan perencanaan Allah Swt yang telah ditetapkan jauh sebelum tragedi tersebut terjadi. (Dok. ABI

Revolusi Imam Husein merupakan bagian dari kehendak dan perencanaan Allah Swt yang telah ditetapkan jauh sebelum tragedi tersebut terjadi. (Dok. ABI)

Memasuki pokok pembahasan, Ustadz Muhammad mengangkat pertanyaan mengenai hakikat gerakan Imam Husein. Apakah revolusi tersebut lahir dari ijtihad manusia, ataukah merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT?

Berdasarkan kajian para ulama, Ustadz Muhammad menjelaskan empat dalil yang menunjukkan bahwa tragedi Karbala merupakan bagian dari rencana Ilahi.

Pertama, revolusi Imam Husein merupakan kehendak dan perencanaan Allah, bukan semata-mata hasil pemikiran atau keinginan pribadi Imam Husein a.s,. Segala peristiwa yang terjadi telah berada dalam cakupan ilmu dan ketetapan Tuhan.

Kedua, manusia telah diberi pengetahuan mengenai pihak-pihak yang kelak akan membunuh Imam Husein. Hal tersebut menunjukkan bahwa peristiwa Karbala telah menjadi bagian dari ketentuan yang diketahui sebelumnya.

Ketiga, Imam Husein sendiri telah mengetahui kesyahidan yang akan menimpanya di Karbala. Dalam salah satu khotbahnya, beliau mengisyaratkan bahwa tubuhnya akan tercabik-cabik. Meski mengetahui takdir tersebut, Imam Husein tetap melangkah dengan penuh keteguhan.

Baca juga: Aksi Solidaritas untuk Muqawamah di Bandung Kecam Agresi Israel di Lebanon, Pertanyakan Peran BOP

Keempat, Imam Husein telah mengabarkan akan lahirnya revolusi yang kelak menuntut darah yang tertumpah di Karbala. Menurut Ustad Muhammad, pemberitahuan itu bukan soal prediksi, melainkan penjelasan mengenai sesuatu yang telah ditetapkan akan terjadi.

“Dari dalil-dalil tersebut, para ulama menyimpulkan bahwa peristiwa Karbala merupakan perencanaan Tuhan, bukan semata-mata hasil ijtihad manusia,” jelasnya.

Lebih lanjut ditegaskannya, keyakinan terhadap kesucian dan kemaksuman Imam Husein menjadi landasan penting dalam memahami perjuangan Karbala. Dalam perspektif tersebut, seluruh tindakan Imam Husein dipandang sebagai pelaksanaan amanah Ilahi yang dijalankan dengan penuh kesempurnaan.

Menutup ceramahnya, Ustadz Muhammad Al Haddad mengingatkan pentingnya mengenal, mencintai, dan mengikuti Ahlul Bait a.s, secara benar. Menurutnya, pemahaman yang tepat tentang kedudukan Imam Husein akan membantu umat menangkap makna pengorbanan besar yang dilakukan demi menegakkan kebenaran.

Melalui tragedi Karbala, umat diajak memahami bahwa perjuangan menegakkan kebenaran tidak selalu diukur dari kemenangan lahiriah. Nilai utamanya terletak pada kesetiaan terhadap kehendak Allah SWT dan keberanian mempertahankan prinsip di tengah berbagai ujian. Pesan itulah yang terus hidup dan menginspirasi umat sepanjang zaman melalui revolusi Imam Husein a.s,. [HMP Kota Pasuruan]

Baca juga: Pesan Pemimpin Revolusi tentang Nota Kesepahaman Mengakhiri Perang