Ikuti Kami Di Medsos

Nasional

Dino Patti Djalal Kritik Absennya RI di Pemakaman Ayatullah Khamenei: Indonesia Takut Sama Amerika?

Published

on

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, mempertanyakan absennya delegasi resmi Indonesia dalam pemakaman Ayatullah Sayyid Ali Khamenei di Teheran. (Foto: Mehrnews Agency)

Ahlulbait Indonesia, 6 Juli 2026 – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, mempertanyakan absennya delegasi resmi Pemerintah Indonesia dalam prosesi pemakaman Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, di Teheran. Menurutnya, keputusan tersebut tidak hanya menimbulkan tanda tanya mengenai penghormatan Indonesia terhadap negara sahabat, tetapi juga memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar mengenai konsistensi implementasi politik luar negeri bebas aktif Indonesia.

Pandangan itu disampaikan Dino melalui akun Instagram resminya, @dinopattidjalal, pada Minggu (5/7). Dalam unggahannya, ia mengaku heran karena, menurut informasi yang diterimanya, Pemerintah Iran telah berupaya mengundang Pemerintah Indonesia untuk mengirim delegasi resmi, tetapi undangan tersebut tidak memperoleh tanggapan.

“Dengan hormat, saya sungguh heran kenapa Pemerintah Indonesia tidak memenuhi undangan Iran untuk mengirim delegasi resmi ke pemakaman almarhum Ayatullah Khamenei yang terbunuh dalam serangan militer ilegal,” tulis Dino.

Baca juga: Kata Pengamat Soal Indonesia “Hanya” Menugaskan Dubes RI Hadiri Prosesi Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei

Menurut Dino, berbagai upaya yang dilakukan Iran untuk mengundang Pemerintah Indonesia tidak membuahkan hasil. Ia juga menilai Iran sebagai sebuah negara tentu memiliki harga diri sehingga tidak mungkin terus-menerus meminta kehadiran Indonesia. Pada akhirnya, yang hadir hanya Duta Besar RI di Teheran, yang menurut informasi diterimanya dipandang oleh Teheran sebagai sikap yang menyepelekan undangan resmi tersebut.

Sorotan Dino disampaikan di tengah perhatian dunia terhadap penyelenggaraan pemakaman Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Sebelumnya, kantor berita Tasnim pada 3 Juli melaporkan bahwa Amerika Serikat mengerahkan jaringan diplomatiknya untuk menekan sejumlah negara agar tidak menghadiri prosesi pemakaman di Teheran.

Menurut laporan tersebut, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menginstruksikan seluruh kedutaan besar dan misi diplomatik Amerika Serikat untuk menyampaikan peringatan kepada pemerintah negara-negara mitra terkait kehadiran dalam upacara tersebut. Partisipasi dalam prosesi pemakaman disebut dapat dipandang sebagai tindakan yang tidak bersahabat terhadap Washington dan berpotensi memengaruhi hubungan bilateral.

Tasnim juga melaporkan bahwa para duta besar Amerika Serikat di sejumlah negara, termasuk di kawasan Afrika, memperoleh arahan untuk menyampaikan kemungkinan konsekuensi diplomatik apabila pemerintah setempat tetap mengirimkan delegasi ke Teheran. Bahkan, menurut laporan tersebut, sedikitnya satu negara besar di kawasan Afrika Utara akhirnya menurunkan tingkat representasinya dengan mempertimbangkan implikasi terhadap hubungan dengan Amerika Serikat.

Meski demikian, prosesi pemakaman yang berlangsung di Kompleks Musalla Imam Khomeini, Teheran, tetap dihadiri puluhan kepala negara, pejabat tinggi, serta delegasi diplomatik dari lebih dari 100 negara. Kehadiran para pemimpin dan utusan resmi tersebut menunjukkan tetap besarnya partisipasi internasional dalam memberikan penghormatan terakhir kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei meskipun diwarnai laporan mengenai tekanan diplomatik dari Washington.

Baca juga: Muqtada al-Sadr Sambut Para Pelayat Wali Syahid Ayatullah Imam Ali Khamenei

Dalam unggahannya, Dino kemudian membandingkan sikap Indonesia dengan sejumlah negara lain yang tetap mengirimkan delegasi resmi. Ia menyebut Arab Saudi, Qatar, Turki, Oman, Pakistan, Kazakhstan, Rusia, Tiongkok, India, Malaysia, Bangladesh, dan sejumlah negara lainnya sama sekali tidak ragu mengirim utusan resmi pada tingkat menteri. Bahkan Pakistan mengirim delegasi yang dipimpin langsung oleh Presidennya.

“Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia satu-satunya yang absen mengirim delegasi,” tulisnya.

Bagi Dino, absennya delegasi resmi Indonesia memunculkan pertanyaan mendasar mengenai arah politik luar negeri Indonesia. Ia mempertanyakan apakah peristiwa tersebut mencerminkan mulai lunturnya implementasi politik luar negeri bebas aktif karena Indonesia takut atau sungkan terhadap Amerika Serikat, atau justru menunjukkan adanya persoalan dalam manajemen pengambilan keputusan di lingkungan diplomasi Indonesia.

“Apakah ini berarti polugri ‘bebas aktif’ kita mulai LUNTUR krn Indonesia takut/sungkan thdp Amerika? Has ‘FEAR’ become a factor in Indonesian foreign policy? Ataukah kekhilafan ini lebih mencerminkan MANAJEMEN sistem politik luar negeri yang bermasalah – sebagaimana biasanya, surat undangan macet di berbagai meja dan tidak ada yg berani mengambil keputusan.”

Namun, Dino tidak berhenti pada pertanyaan tersebut. Ia juga mengemukakan kemungkinan lain. Menurutnya, persoalan itu bisa saja lebih mencerminkan manajemen sistem politik luar negeri yang bermasalah, ketika surat undangan tersendat di berbagai meja birokrasi dan tidak ada pihak yang berani mengambil keputusan.

Ia menambahkan bahwa setidaknya Indonesia masih memiliki pilihan untuk mengirim Wakil Menteri Luar Negeri yang membidangi urusan dunia Islam, Anis Matta. Namun, menurutnya, hal itu tidak dilakukan karena Anis Matta justru tengah melakukan kunjungan rutin ke Asia Tengah.

Lebih jauh, Dino mengingatkan bahwa Iran merupakan sahabat lama Indonesia. Menurutnya, hubungan kedua negara selama ini selalu terjaga dengan hangat, dilandasi sikap saling menghormati, dan tidak pernah diwarnai konflik.

Baca juga: Pejabat Keamanan Iran: Jutaan Pelayat Tuntut Pembalasan atas Darah Ayatullah Khamenei

Dalam pandangannya, kehadiran delegasi resmi Indonesia dalam prosesi penghormatan terakhir Ayatullah Sayyid Ali Khamenei seharusnya menjadi pembuktian nyata bahwa politik luar negeri bebas aktif dijalankan secara konsisten. Momentum tersebut juga semestinya menjadi simbol persahabatan Indonesia-Iran sekaligus sinyal tegas dari Jakarta bahwa pembunuhan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei merupakan tindakan ilegal yang melanggar hukum dan norma internasional.

“Kehadiran delegasi resmi Indonesia dalam acara penghormatan terakhir Ayatullah Khamenei seharusnya menjadi momen pembuktian diplomasi bebas aktif Indonesia, momen persahabatan RI-Iran sekaligus sinyal tegas dari Jakarta bahwa aksi pembunuhan Ayatullah Khamenei adalah aksi ilegal yang melanggar hukum dan norma internasional,” tulisnya.

Pada bagian penutup unggahannya, Dino mengingatkan agar politik luar negeri bebas aktif tidak berhenti sebagai slogan, melainkan diwujudkan melalui keberanian menentukan sikap ketika menghadapi persoalan internasional yang sensitif.

“Jangan sampai kita selalu lantang bicara bebas aktif, tapi begitu diminta menentukan sikap dalam situasi yang sensitif, kita bersembunyi. Please remember: bebas aktif adalah #diplomasiberprinsip, bukan #diplomasisungkan.”

Unggahan Dino Patti Djalal kembali memunculkan diskusi mengenai implementasi politik luar negeri bebas aktif Indonesia di tengah dinamika geopolitik global. Di saat puluhan kepala negara dan delegasi resmi dari berbagai negara tetap menghadiri prosesi pemakaman Ayatullah Sayyid Ali Khamenei di Teheran, meskipun muncul laporan mengenai tekanan diplomatik dari Amerika Serikat, absennya delegasi resmi Indonesia menjadi pertanyaan yang, menurut Dino, patut dijelaskan pemerintah sebagai wujud akuntabilitas dalam pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif. []

Baca juga: Panglima Angkatan Darat Iran: Balas Dendam atas Syahidnya Ayatullah Khamenei Tak Pernah Berhenti