Nasional
Qalibaf kepada Ketua MPR RI: Hanya Mereka yang Siap Berperang Dapat Bernegoisasi dengan Amerika

Ahlulbait Indonesia, 11 Juli 2026 – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan bahwa hanya mereka yang siap berperang dapat bernegoisasi dengan Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikannya saat menerima kunjungan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ahmad Muzani, di Teheran, Jumat (10/7), sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Republik Islam Iran (IRNA).
Mengawali pertemuan, Qalibaf menyampaikan selamat datang kepada delegasi Indonesia yang berkunjung ke Iran dan Mashhad, serta menyampaikan terima kasih atas belasungkawa yang disampaikan pemerintah, parlemen, dan rakyat Indonesia kepada bangsa Iran.
“Kami mengenal rakyat Indonesia sebagai bangsa yang berada di garis depan dalam semangat antihegemoni dan perjuangan melawan rezim Zionis,” ujarnya.
Qalibaf menegaskan bahwa Iran tidak pernah menghendaki perang. Namun, menurutnya, logika Al-Qur’an memberikan kewajiban untuk melakukan perlawanan dan tidak menyerah kepada orang-orang zalim. Karena itu, bangsa Iran tidak akan pernah tunduk kepada kezaliman.
Baca juga: Iran Peringatkan Trump, Serangan terhadap Infrastruktur Negara Akan Dibalas Setimpal
Ia menambahkan bahwa kekuatan Revolusi Islam terletak pada logikanya yang bersumber dari budaya Al-Qur’an.
“Amerika Serikat, rezim Zionis, dan NATO sebelum perang terakhir membayangkan bahwa dalam waktu kurang dari beberapa hari mereka dapat memaksa Iran menyerah. Namun, mereka segera menyadari bahwa tujuan tersebut tidak akan tercapai, dan dunia menyaksikan bahwa mereka gagal mencapai tujuan mereka dalam menghadapi Iran.”
Qalibaf juga menegaskan bahwa perang terakhir telah meruntuhkan hegemoni Amerika Serikat.
“Tekanan ekonomi, politik, dan media yang dialami Amerika Serikat dan rezim Zionis membuat mereka berada dalam kondisi terdesak. Karena itulah Amerika Serikat akhirnya mencari gencatan senjata.”
Qalibaf kemudian menegaskan bahwa Iran tidak menaruh kepercayaan kepada Amerika Serikat.
“Dalam perundingan, saya telah menyampaikan kepada Wakil Presiden Amerika Serikat bahwa kami sama sekali tidak memiliki kepercayaan kepada Anda. Menurut saya, mereka yang dapat berunding dengan Amerika adalah mereka yang siap menghadapi perang.”
Ia menambahkan bahwa karena itulah Iran tidak pernah menghentikan kesiapan untuk mempertahankan negaranya.
“Oleh karena itu, kami tidak pernah melepaskan kesiapan untuk membela negara kami. Setiap saat apabila Amerika Serikat mengkhianati kesepahaman yang telah dicapai, kami siap melakukan pembelaan secara menyeluruh, berdiri teguh menghadapi mereka, dan memperjuangkan hak-hak bangsa Iran.”
Baca juga: Komite Perlawanan Palestina: Ayatullah Sayyid Ali Khamenei Simbol Kemuliaan dan Perlawanan Umat
Qalibaf juga menyinggung dampak perang terhadap Amerika Serikat.
“Mereka menghadapi tekanan ekonomi akibat perang terakhir serta persoalan dalam situasi politik di dalam negeri mereka. Mereka telah merasakan kekuatan dan kesiapan militer Iran serta mengetahui bahwa kami tidak akan berhenti menuntut pertanggungjawaban Amerika.”
Meski demikian, ia menegaskan bahwa berakhirnya perang merupakan prioritas bagi negara-negara di dunia.
“Namun, semua pihak harus mengetahui bahwa pertikaian ini tidak akan pernah berakhir dengan penyerahan Iran.”
Qalibaf juga menyatakan bahwa bangsa-bangsa dan negara-negara Muslim perlu mengambil pelajaran dari pengalaman Republik Islam Iran.
“Saya meyakini bahwa bangsa-bangsa dan negara-negara Muslim harus menyadari bahwa mereka perlu berdiri menghadapi Amerika Serikat dan rezim Zionis. Pengalaman Republik Islam Iran menunjukkan bahwa keberhasilan dapat dicapai melalui jalan tersebut.”
Pada akhir pertemuan, Qalibaf menekankan pentingnya memperluas kerja sama ekonomi, politik, dan budaya antara Iran dan Indonesia. Ia juga mengharapkan peningkatan hubungan kedua negara, khususnya di bidang parlementer, guna mempermudah pengembangan hubungan bilateral.
Sementara itu, Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyampaikan belasungkawa atas syahidnya Pemimpin Revolusi Islam Iran serta menyatakan simpati kepada bangsa Iran atas kehilangan seorang pemimpin besar dan terhormat.
“Perasaan rakyat Indonesia atas peristiwa ini sangat dekat dengan perasaan rakyat Iran.”
Baca juga: Menlu Indonesia: Jutaan Rakyat Indonesia Mencintai Ayatullah Sayyid Ali Khamenei
Ia menambahkan bahwa kesedihan rakyat Iran juga menjadi kesedihan rakyat Indonesia.
“Karena itulah kami menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju Iran untuk menyampaikan simpati bangsa kami kepada rakyat Iran.”
Muzani juga menyatakan bahwa Indonesia menyambut baik berbagai upaya untuk mengakhiri perang antara Iran dan Amerika Serikat.
“Kami meyakini bahwa rakyat Iran menginginkan terwujudnya perdamaian. Saya berharap berbagai upaya yang dilakukan dapat bermuara pada perdamaian.”
Ia juga menegaskan pentingnya meningkatkan hubungan kedua negara di berbagai bidang, terutama di sektor ekonomi.
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, turut menyampaikan belasungkawa pemerintah Indonesia kepada pemerintah, parlemen, dan rakyat Iran. Ia juga menegaskan pentingnya meningkatkan kerja sama kedua negara, khususnya di bidang ekonomi.
Pertemuan itu turut dihadiri Ketua Kelompok Persahabatan Parlemen Iran–Indonesia Mohsen Zanganeh, penasihat Ketua Parlemen Iran Abolfazl Amouei dan Mohammad Saeed Ahadian, serta Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, yang mendampingi Ketua MPR RI dalam kunjungan tersebut. []
Baca juga: Menlu RI, Ketua MPR, dan Delegasi Ormas Islam Hadiri Penghormatan Terakhir Ayatullah Ali Khamenei






