Nasional
Koordinator Iran Corner UB Soroti Politik Tekanan AS–Israel, Perdamaian Dipertanyakan
Jakarta, 15 April 2026 — Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan sorotan terhadap pola hubungan internasional penuh tekanan, kritik terhadap kebijakan Amerika Serikat dan Israel kembali menguat. Koordinator Iran Corner Universitas Brawijaya, Abdullah Assegaf, menilai pendekatan yang digunakan kedua negara tersebut lebih mencerminkan dominasi ketimbang upaya perdamaian yang setara.
Dalam pernyataan tertulis pada Rabu (15/4), Abdullah menyebut publik global tengah dihadapkan pada narasi yang, menurutnya, menyesatkan terkait makna perdamaian. Ia menilai praktik yang berlangsung bukanlah negosiasi yang setara, melainkan bentuk penyerahan diri yang dibungkus dalam kerangka diplomasi.
“Ketika satu pihak mendiktekan syarat yang merampas kedaulatan, keamanan, dan martabat negara lain, itu bukan diplomasi, melainkan paksaan berkedok negosiasi,” ujarnya.
Menurutnya, wacana stabilitas dan keamanan yang kerap dikemukakan Amerika Serikat dan Israel tidak selalu sejalan dengan praktik di lapangan. Menurutnya, tekanan ekonomi, sanksi, serta ancaman militer justru menjadi instrumen yang lebih dominan ketika proses dialog menemui jalan buntu.
Abdullah menilai pola tersebut mencerminkan pendekatan politik kekuasaan, di mana kepatuhan lebih diutamakan dibandingkan kompromi. Dalam situasi demikian, kata dia, ruang dialog yang setara menjadi semakin sempit.
Lebih lanjut, Abdullah menegaskan bahwa setiap negara berdaulat, termasuk Iran, memiliki hak untuk menentukan arah kebijakan dan masa depannya tanpa intervensi eksternal. Ia juga menekankan bahwa perdamaian yang berkelanjutan tidak dapat dibangun di atas tekanan, blokade, atau intimidasi.
“Perdamaian yang adil membutuhkan penghormatan, kesetaraan, dan dialog yang tulus,” katanya.
Abdullah mengingatkan, sikap diam komunitas internasional terhadap praktik semacam ini berpotensi mengubah definisi perdamaian itu sendiri. Ia menilai, jika tekanan terus dinormalisasi sebagai bagian dari diplomasi, maka tatanan global akan semakin bergeser ke arah yang ditentukan oleh kekuatan semata.
“Jika itu dibiarkan, tidak ada negara yang benar-benar aman. Dunia dihadapkan pada pilihan antara menjunjung keadilan dan kedaulatan, atau menerima tatanan global yang ditentukan oleh kekuatan,” ujarnya. []
