Ikuti Kami Di Medsos

Nasional

Ustadz Erwin: Al-Ghadir untuk Bersatu dalam Satu Kepemimpinan

Published

on

Ustadz Erwin Kurniawan menyampaikan ceramah hikmah Idul Ghadir 1447 H di Husainiyah Bina Amal, Bekasi.
Ustadz Erwin Kurniawan menyampaikan ceramah hikmah Idul Ghadir 1447 H di Husainiyah Bina Amal, Bekasi pada 4 Juni 2026. (DOk. ABI)

Bekasi, 6 Juni 2026 — Salah satu karakteristik dakwah Rasulullah SAW adalah mempersiapkan setiap tahapan risalah secara matang dan bertahap. Hal itu tampak sejak awal dakwah Islam di Makkah. Orang pertama yang beliau ajak kepada Islam adalah keluarga terdekatnya, yakni Sayidah Khadijah as dan Imam Ali bin Abi Thalib as. Setelah itu, beliau mengundang kerabat dari Bani Hasyim dalam sebuah jamuan di rumah pamannya, Abu Thalib as.

Baca juga: Dewan Syuro ABI Luncurkan Lembaga Ahwal Syakhshiyyah untuk Pendampingan Keluarga

Hal tersebut disampaikan Ustadz Erwin Kurniawan dalam ceramah hikmah Idul Ghadir 1447 H di Husainiyah Bina Amal, Bekasi pada Kamis, 4 Juni 2026. “Dalam dakwah perdananya, Rasulullah SAW telah mendeklarasikan Ali bin Abi Thalib as sebagai washi dan khalifahnya,” ujar Ustadz Erwin.

Menurutnya, meskipun pernyataan tersebut pada saat itu dianggap aneh oleh sebagian orang, bagi Rasulullah SAW hal itu merupakan bagian dari perintah Allah SWT sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an (QS An-Najm: 3–4). Karena itu, setiap langkah dakwah beliau berjalan berdasarkan petunjuk dan perencanaan ilahi yang matang.

Di hadapan puluhan jamaah, Ustadz Erwin mengawali ceramahnya dengan membacakan firman Allah SWT: “Wa andzir ‘asyiratakal aqrabin”, yang berarti, “Berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat” (QS Asy-Syu’ara: 214).

Ustadz Erwin menjelaskan bahwa setelah turunnya ayat tersebut, Rasulullah saw. mengundang kerabat-kerabatnya dari Bani Hasyim untuk menghadiri sebuah jamuan makan. Meski demikian, pada dua pertemuan sebelumnya beliau belum sempat menyampaikan risalah yang diperintahkan Allah, karena para hadirin segera meninggalkan majelis setelah jamuan berakhir. Baru pada pertemuan ketiga Rasulullah saw. menyampaikan pesan kenabiannya, sekaligus mengajak keluarga besarnya untuk menerima ajaran Islam.

“Sesudahku Ali adalah Washiku”

Dalam peristiwa yang dikenal sebagai Hadis Yaum ad-Dar, Rasulullah SAW menyampaikan seruan kepada keluarga besarnya. “Wahai Bani Abdul Muthalib, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan dari Allah kepada kalian dan pembawa kabar gembira. Masuklah Islam dan taatilah aku, niscaya kalian akan mendapat petunjuk,” tutur Ustadz Erwin mengutip riwayat tersebut.

Dalam riwayat lain yang juga dinukil oleh sejumlah ulama Ahlus Sunnah, Rasulullah SAW bertanya, “Siapa di antara kalian yang bersedia menjadi saudaraku, penolongku, dan washiku sepeninggalku?”

Menurut Ustadz Erwin, tidak seorang pun yang menjawab pertanyaan tersebut selain Imam Ali as. Setelah pertanyaan itu diulang beberapa kali, Ali as tetap menjadi satu-satunya yang menyatakan kesediaannya mendukung Rasulullah SAW.

Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Engkau adalah saudaraku dan washiku.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku.”

Ustadz Erwin menuturkan bahwa sebagian hadirin saat itu menanggapi peristiwa tersebut dengan nada sindiran. Mereka berkata kepada Abu Thalib agar menaati putranya sendiri, yakni Ali as. Dalam penyampaiannya, Ustadz Erwin juga menyelipkan humor ringan yang mengundang tawa jamaah.

Baca juga: Pidato Sekretaris Dewan Syura ABI tentang Peristiwa Ghadir Khum

Dakwah Dimulai dari Keluarga

Menurut Ustadz Erwin, terdapat hikmah penting di balik keputusan Rasulullah SAW memulai dakwah dari lingkungan keluarga. “Keluarga adalah pihak yang paling mengenal Rasulullah SAW. Mereka mengetahui kehidupan beliau sehari-hari, akhlaknya, dan kebenaran risalah yang dibawanya,” ujarnya.

Karena itu, Imam Ali as menjadi sosok yang paling dekat dengan Rasulullah SAW, baik secara keluarga maupun dalam proses pendidikan dan pembinaan spiritual. Kedekatan tersebut membuat Ali as memperoleh kesempatan untuk menerima dan mengamalkan ajaran Rasulullah SAW secara langsung.

Dalam konteks itu, Ustadz Erwin mengaitkannya dengan firman Allah SWT dalam QS Al-Maidah ayat 55 yang menurut sejumlah mufasir berkaitan dengan Imam Ali as.

Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan bentuk jamak dalam ayat tersebut tidak menafikan keterkaitannya dengan Imam Ali as, karena dalam ilmu balaghah terdapat penggunaan bentuk jamak untuk menunjukkan penghormatan atau pengagungan. “Yang jelas, sebab turunnya ayat tersebut berkaitan dengan Imam Ali as,” katanya.

Ustadz Erwin menambahkan bahwa jauh sebelum Islam berkembang luas, Rasulullah SAW telah melaksanakan salat berjamaah bersama Imam Ali as dan Sayidah Khadijah as. Hal itu menunjukkan bahwa dakwah Islam memang berawal dari lingkungan keluarga dan orang-orang terdekat beliau.

Baca juga: Ustadz Miqdad: Ghadir Khum Kunci Penyelesaian Perselisihan Umat

Pesan Terpenting dalam Ayat Tabligh

Pada bagian akhir ceramahnya, Ustadz Erwin menyoroti QS Al-Maidah ayat 67 yang dikenal sebagai Ayat Tabligh. Ia menjelaskan bahwa setelah 23 tahun menyampaikan risalah Islam, Rasulullah SAW masih memiliki satu amanat penting yang harus disampaikan kepada umatnya.

Dalam ayat tersebut Allah berfirman: “Fa in lam taf‘al fama ballaghta risalatahu”, yang berarti, “Jika engkau tidak melaksanakannya, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.”

Menurut Ustadz Erwin, ayat ini menunjukkan pentingnya penyampaian persoalan kepemimpinan umat setelah Rasulullah SAW.

Menurutnya, meskipun Imam Ali as telah diperkenalkan sejak awal dakwah, peristiwa Al-Ghadir pada tahun ke-10 Hijriah menjadi momentum penyampaian resmi di hadapan puluhan ribu kaum Muslimin.

Ustadz Erwin juga menyinggung bahwa Rasulullah SAW memperoleh penguatan langsung dari Allah SWT untuk menyampaikan amanat tersebut. Setelah pesan itu disampaikan, turunlah ayat yang menyatakan kesempurnaan agama: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu” (QS Al-Maidah: 3).

Menurutnya, ayat tersebut menegaskan kesempurnaan agama Islam serta pentingnya persatuan umat di bawah kepemimpinan yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Ustadz Erwin juga mengingatkan kembali sabda Rasulullah SAW pada peristiwa Al-Ghadir: “Man kuntu maulahu fa ‘Aliyyun maulahu”, yang berarti, “Barang siapa menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya.”

Ia menegaskan bahwa peristiwa Al-Ghadir merupakan momentum penting dalam sejarah Islam yang, menurut pandangan Ahlul Bait, menegaskan kelanjutan kepemimpinan umat setelah Rasulullah SAW sekaligus menjadi landasan persatuan dalam satu kepemimpinan Ilahi. [Moh Elyas]

Baca juga: Ayatullah Mojtaba Khamenei: Ghadir Adalah Jalan Kepemimpinan dan Kebangkitan Umat