Nasional
Ustadz Hasan Zakaria Jelaskan Ghadir Khum dan Urgensi Wilayah dalam Kehidupan Seorang Muslim

Cirangkong, 6 Juni 2026 — Peristiwa Ghadir Khum menempati posisi penting dalam keyakinan para pengikut Ahlul Bait. Peristiwa yang terjadi pada 18 Dzulhijjah tahun ke-10 Hijriah itu dipandang sebagai penegasan Rasulullah SAW mengenai kelanjutan kepemimpinan umat sepeninggal beliau.
Dalam ceramah yang disampaikan pada peringatan Idul Ghadir di Yayasan Syarif Aunillah, Cirangkong, Jawa Barat, Kamis, 4 Juni 2026, Ustadz Hasan Zakaria menjelaskan mengapa wilayah menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Menurutnya, ibadah yang banyak tidak selalu menjamin seseorang berada di jalan yang benar apabila tidak disertai petunjuk dan kepemimpinan yang ditetapkan Allah SWT. Melalui sejumlah contoh dan pelajaran sejarah Islam, Ustadz Hasan menerangkan hubungan antara ibadah, kepemimpinan, dan perjalanan manusia menuju kesempurnaan spiritual.
Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Dari Ghadir ke Perlawanan dalam Menjaga Risalah Kepemimpinan Ilahi
Setiap tahun kaum Muslim merayakan berbagai hari besar Islam, seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Namun, bagi para pecinta Ahlul Bait a.s, terdapat satu hari raya yang memiliki kedudukan sangat istimewa, yaitu Idul Ghadir. Hari ini diperingati sebagai peristiwa besar di Ghadir Khum, ketika Rasulullah SAW secara resmi memperkenalkan Imam Ali bin Abi Thalib a.ssebagai pemimpin umat sepeninggal beliau.
Peristiwa Ghadir bukan hanya bagian dari catatan sejarah yang terjadi lebih dari empat belas abad lalu. Ghadir membawa pesan penting tentang kepemimpinan, petunjuk, dan arah perjalanan manusia menuju Allah SWT. Karena itu, memahami makna wilayah menjadi sangat penting bagi setiap Muslim yang ingin menempuh jalan kesempurnaan.

Ustadz Hasan Zakaria menyampaikan ceramah tentang Gadir Khum dan urgensi wilayah dalam kehidupan seorang Muslim pada peringatan Idul Gadir (Dok. ABI)
Bulan Dzulhijjah: Bulan Wilayah
Bulan Dzulhijjah dikenal sebagai bulan yang penuh dengan peristiwa penting yang berkaitan dengan keutamaan Ahlul Bait a.s. Pada bulan inilah terjadi peristiwa Mubahalah, turunnya Ayat Tathir, Ayat Wilayah, hingga peristiwa Ghadir Khum.
Karena itu, para ulama sering menyebut Dzulhijjah sebagai Syahrul Wilayah atau Bulan Wilayah. Dalam bulan ini, umat Islam diajak untuk lebih mengenal kedudukan Ahlul Bait a.s dan peran mereka dalam membimbing umat menuju jalan yang benar.
Peristiwa Ghadir mencapai puncaknya pada tanggal 18 Dzulhijjah, ketika Rasulullah SAW menyampaikan khutbah panjang di hadapan ratusan ribu jamaah haji yang baru kembali dari Makkah. Dalam khutbah tersebut, beliau bersabda:
“Barang siapa menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya.”
Bagi pengikut Ahlul Bait, sabda ini merupakan deklarasi resmi kepemimpinan Imam Ali a.s setelah Rasulullah SAW.
Mengapa Manusia Membutuhkan Imam?
Salah satu pertanyaan mendasar adalah: mengapa manusia membutuhkan imam?
Secara fitrah, manusia selalu mencari kesempurnaan. Setiap orang ingin menjadi lebih baik, lebih mulia, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut, manusia memerlukan petunjuk dan teladan yang benar.
Baca juga: Ustadz Erwin: Al-Ghadir untuk Bersatu dalam Satu Kepemimpinan
Seorang musafir yang hendak menuju suatu kota memerlukan peta atau kompas. Tanpa petunjuk arah, ia bisa tersesat meskipun memiliki kendaraan yang kuat dan bahan bakar yang cukup.
Demikian pula manusia. Kita memiliki akal, semangat, dan kemampuan beribadah. Namun, semua itu memerlukan arah yang benar. Di sinilah peran imam menjadi sangat penting.
Imam bukan hanya pemimpin politik atau sosial. Imam adalah penunjuk jalan yang mengarahkan manusia menuju kesempurnaan Ilahi.
Apakah Ibadah Saja Sudah Cukup?
Banyak orang mengira bahwa keselamatan hanya ditentukan oleh banyaknya ibadah. Semakin banyak salat, puasa, zikir, dan tilawah Al-Qur’an, semakin dekat pula seseorang kepada Allah SWT.
Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Ibadah memang menguatkan ruh manusia. Salat melatih kedisiplinan, puasa mengendalikan hawa nafsu, dan zikir menghidupkan hati. Namun, ibadah itu sendiri tidak selalu menentukan arah perjalanan seseorang.
Ibarat makanan bergizi yang membuat tubuh kuat. Tubuh yang kuat bisa digunakan untuk berbuat baik, tetapi juga bisa digunakan untuk melakukan kejahatan. Kekuatan fisik tidak otomatis menentukan arah penggunaannya.
Baca juga: Dewan Syuro ABI Luncurkan Lembaga Ahwal Syakhshiyyah untuk Pendampingan Keluarga
Begitu pula dengan kekuatan ruhani. Ruh yang kuat dapat digunakan untuk mendekat kepada Allah SWT atau justru digunakan untuk membela kebatilan apabila tidak memiliki penuntun yang benar.
Pelajaran dari Khawarij
Sejarah Islam memberikan contoh yang sangat jelas melalui kelompok Khawarij.
Mereka dikenal sebagai orang-orang yang sangat rajin beribadah. Mereka banyak berpuasa, membaca Al-Qur’an, dan melaksanakan salat malam. Namun, karena kehilangan arah dan tidak mengikuti imam yang hak, mereka akhirnya menjadi kelompok yang ekstrem dan melakukan berbagai tindakan kejam.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ibadah saja tidak cukup. Manusia membutuhkan seorang penunjuk arah agar seluruh amal dan ibadahnya berjalan di jalur yang benar.
Karena itu, dalam pandangan Ahlul Bait a.s, wilayah dan imamah merupakan kebutuhan mendasar dalam kehidupan spiritual setiap Muslim.
Ya, ibadah itu penting. Namun, ibadah tanpa wilayah tidak memiliki ruh dan makna. Iblis beribadah selama enam ribu tahun kepada Tuhannya. Akan tetapi, ketika ia menolak Nabi Adam AS sebagai manifestasi wilayah Allah SWT, ia terusir dari surga ilahi dan menjadi makhluk yang terlaknat.
Iblis menjanjikan ibadah yang tidak akan mampu dilakukan oleh siapa pun. Namun, Allah SWT berfirman:
“لا حاجة لي إلى عبادتك، أريد العبادة من حيث أريد، لا من حيث تريد.”
“Aku tidak membutuhkan ibadahmu. Aku ingin diibadahi sesuai kehendak-Ku, bukan sesuai kehendakmu.”
Allah SWT tidak membutuhkan ibadah yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Iblis menawarkan ibadah yang tiada tanding, tetapi ketika ibadah itu berada di luar kehendak Allah SWT, maka ibadah apa pun tidak akan memiliki nilai di hadapan-Nya.
Wilayah sebagai Penentu Arah
Jika ibadah berfungsi menguatkan ruh, maka wilayah berfungsi menentukan arah ruh tersebut.
Imam adalah kompas dan nahkoda kehidupan. Beliau menunjukkan mana jalan yang diridai Allah SWT dan mana jalan yang mengarah kepada kesesatan.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa setiap manusia akan dipanggil bersama imamnya pada Hari Kiamat. Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang hidup tanpa mengikuti suatu bentuk kepemimpinan.
Baca juga: Ayatullah Mojtaba Khamenei: Ghadir Adalah Jalan Kepemimpinan dan Kebangkitan Umat
Pertanyaannya bukan apakah kita memiliki imam atau tidak, melainkan siapa imam yang kita ikuti.
Wilayah dan Amal Harus Berjalan Bersama
Menekankan pentingnya wilayah bukan berarti meremehkan amal ibadah. Dalam ajaran Ahlul Bait, wilayah dan amal merupakan dua hal yang saling melengkapi.
Imam Ali a.s dan para Imam Ahlul Bait merupakan teladan tertinggi dalam ibadah, ketakwaan, kejujuran, dan akhlak mulia. Karena itu, mengikuti mereka berarti mengikuti jalan ibadah yang benar.
Seorang pecinta Ahlul Bait tidak cukup hanya mengaku mencintai Imam Ali a.s, tetapi juga harus berusaha meneladani akhlak dan ketakwaan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Penutup
Gadir Khum bukanlah kenangan masa lalu yang hanya diperingati dari tahun ke tahun. Ia adalah pesan abadi tentang pentingnya kepemimpinan ilahi dalam kehidupan manusia.
Ibadah memberikan kekuatan kepada ruh, tetapi wilayah memberikan arah bagi kekuatan tersebut. Tanpa arah yang benar, kekuatan dapat membawa manusia kepada kesesatan. Sebaliknya, dengan bimbingan imam yang hak, seluruh amal dan ibadah akan mengantarkan manusia menuju kesempurnaan dan keridaan Allah SWT.
Oleh karena itu, memahami dan menghayati makna wilayah merupakan salah satu langkah penting dalam perjalanan spiritual seorang Muslim menuju Allah SWT. [HZ]
Baca juga: Pidato Sekretaris Dewan Syura ABI tentang Peristiwa Ghadir Khum







