Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Iran Tetapkan Enam Syarat kepada AS untuk Buka Selat Hormuz

Published

on

Mural raksasa di Teheran, Iran, menampilkan wajah Presiden AS Donald Trump dengan mulut yang ditutup oleh ilustrasi Selat Hormuz
Iran menetapkan enam syarat kepada Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz di tengah perang kedua negara.

Ahlulbait Indonesia, 11 Agustus 2026 — Donald Trump memulai perang terhadap Iran dengan keyakinan bahwa Teheran akan menyerah tanpa syarat. Namun, Iran tidak menyerah. Teheran kini justru menetapkan tuntutan yang semakin berat kepada Amerika Serikat sebagai syarat pembukaan kembali Selat Hormuz, menurut laporan Kantor Berita Fars pada Senin (10/8/2026).

“Kesepakatan dengan Oman tidak berarti pembukaan kembali Selat Hormuz” dan “Untuk membuka kembali Selat Hormuz, Amerika harus memperbaiki perilakunya” menjadi pernyataan yang berulang disampaikan para pejabat Iran dalam beberapa hari terakhir terkait syarat pembukaan kembali jalur strategis tersebut.

Baca juga: Senator AS Akui AS Gagal, Iran Semakin Kuat

Iran juga menetapkan enam syarat kepada Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz.

CNN, dengan mengutip sejumlah syarat tersebut, menekankan bahwa Iran bukan hanya tidak menyerah, tetapi kini mengajukan tuntutan yang lebih banyak dan lebih keras terkait jalur perairan strategis tersebut.

Media Amerika itu juga menegaskan bahwa kesepakatan terbatas yang sedang dibahas dengan Oman mengenai Selat Hormuz tidak berarti jalur tersebut akan dibuka kembali sesuai keinginan Washington.

Pada Sabtu, Mohammad Bagher Zolghadr, yang saat itu menjabat sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran dan kini menjadi penasihat politik Pemimpin Republik Islam Iran, menyampaikan daftar tuntutan Iran kepada Amerika Serikat sebagai syarat pembukaan kembali Selat Hormuz.

Zolghadr menyebut “perbaikan perilaku Amerika” sebagai prasyarat pembukaan jalur strategis tersebut. Enam tuntutan Iran mencakup penghentian ancaman dan penghinaan terhadap Iran, penghentian perang dan agresi terhadap Iran serta sekutunya, penghapusan blokade laut, penarikan pasukan Amerika dari sekitar Iran, pembayaran penuh kerugian akibat perang, pencabutan sanksi, serta pembebasan aset Iran yang diblokir.

Pertama, Amerika Serikat tidak boleh lagi mengancam Iran dengan cara atau bahasa apa pun serta tidak boleh menghina hal-hal yang dianggap suci oleh rakyat Iran.

Kedua, Amerika harus mengakhiri secara permanen perang dan agresi terhadap Iran serta sekutu Iran di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak.

Ketiga, Amerika harus mencabut blokade laut dan menarik pasukan militernya, baik angkatan laut maupun angkatan udara, dari sekitar Iran.

Keempat, Amerika harus membayar sepenuhnya kerugian akibat dua perang agresi dan perang yang dipaksakan terhadap Iran.

Kelima, Amerika harus mencabut sanksi yang disebut Iran tidak adil dan ilegal terhadap rakyat Iran.

Keenam, Amerika harus membebaskan tanpa syarat aset-aset rakyat Iran yang diblokir dan disebut telah dirampas.

Baca juga: Rincian Baru Kerusakan di Pangkalan Utama AS di Teluk

Iran Memiliki Posisi Lebih Kuat

Sejumlah pakar menilai tuntutan keras Iran tersebut menunjukkan bahwa Teheran memiliki posisi lebih kuat dalam perang dengan Amerika Serikat.

Mark Esper, yang menjabat Menteri Pertahanan Amerika Serikat pada masa pemerintahan pertama Trump, mengatakan tuntutan baru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz menunjukkan bahwa Iran merasa berada dalam posisi unggul dan meyakini sedang memenangkan perang.

“Orang-orang Iran merasa mereka berada di posisi lebih unggul dan berpikir mereka sedang menang. Dan memang demikian. Inilah yang sekarang kita hadapi,” kata Esper.

Esper menambahkan bahwa Iran memahami dengan baik posisinya dalam perundingan serta daya tekan yang dimiliki melalui penguasaan atas Selat Hormuz.

Pada saat yang sama, sejumlah media Amerika melaporkan bahwa Trump menghadapi penurunan tajam persediaan persenjataan dan bahwa kelanjutan perang tidak menguntungkan bagi pemerintahannya. Media-media tersebut juga melaporkan adanya konsultasi di balik layar dari para jenderal senior Amerika kepada Trump mengenai upaya untuk keluar dari konflik dengan Iran.

The Wall Street Journal dalam laporan pada Minggu menyebut Trump mengatakan kepada para penasihat bahwa dirinya mungkin cukup menerima pembukaan kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang dengan Iran tanpa mencapai kesepakatan nuklir.

Baca juga: Pakar CSIS: Kekuatan Siber Iran Menjadi “Selat Kedua”

Pernyataan tersebut datang dari Trump yang pada hari-hari awal perang menyerukan agar Iran menyerah. Trump juga disebut telah setidaknya tujuh kali mundur dari ancaman yang sebelumnya disampaikannya terhadap Iran.

Analis Al Jazeera Mohammad Sharqawi mengatakan Trump kini berupaya mencari “jalan keluar yang terhormat” agar tidak terlihat sedang melarikan diri atau berusaha keluar dari pusaran konflik.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan saat ini tidak ada perundingan yang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat. Menurut Baghaei, yang berlangsung hanya pertukaran pesan melalui para mediator.

“Selama kebijakan Amerika dan blokade laut terus berlanjut, Selat Hormuz tidak akan menjadi jalur yang aman,” kata Baghaei. []

Baca juga: Langit Iran Tak Lagi Aman bagi Jet Tempur dan Drone AS