Internasional
Trump Ultimatum Teheran untuk Kembali ke Meja Perundingan

Ahlulbait Indonesia, 16 Juli 2026 – Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran militer Iran. Pada saat yang sama, Presiden Donald Trump mengajak Teheran kembali ke meja perundingan; sebuah undangan diplomasi yang kembali disampaikan di tengah dentuman rudal dan operasi militer Washington.
Mengutip BBC News, Kamis (16/7/2026), militer Amerika Serikat mengonfirmasi gelombang serangan terbaru yang menyasar sejumlah fasilitas militer Iran. Washington menyatakan operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran yang dinilai mengancam keamanan pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Media pemerintah Iran melaporkan sistem pertahanan udara di Teheran diaktifkan untuk menghadapi serangan tersebut. Sebagai balasan, Teheran telah menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk di Bahrain dan Kuwait.
Berbicara kepada wartawan, Trump menegaskan Iran masih memiliki kesempatan memilih jalur diplomasi. Namun, ketika ditanya mengenai kemungkinan tenggat waktu sebelum serangan berikutnya, ia menolak memberikan batas waktu yang pasti.
“Saya tidak suka memberikan tenggat waktu, tetapi mereka sudah cukup tahu. Mereka tahu situasinya. Mereka sebaiknya bersikap bijak,” kata Trump.
Dalam kesempatan lain di sela-sela KTT pertahanan, Trump menyatakan Iran berada dalam posisi yang semakin tertekan dan diyakini ingin segera mengakhiri konflik. Pada saat yang sama, pemerintahannya tetap membuka opsi memperluas operasi militer apabila perundingan tidak menghasilkan kesepakatan.
Baca juga: CENTCOM Bantah Serangan terhadap Gudang Gandum, Akui Serang Sejumlah Target di Iran
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya tidak memiliki alasan untuk mematuhi kesepakatan yang tidak memberikan manfaat bagi kepentingan nasional Iran. Menurutnya, keamanan nasional Iran bergantung pada kemampuannya mempertahankan pengaturan keamanan di Selat Hormuz, sehingga diplomasi dan perlawanan militer akan tetap berjalan beriringan.
Paradoks kembali menjadi wajah diplomasi Washington. Di satu sisi, Gedung Putih mengajak Iran duduk di meja perundingan; di sisi lain, tekanan militer terus ditingkatkan agar Teheran datang ke meja tersebut. Pesan yang tersampaikan pun nyaris terdengar seperti: berundinglah sekarang, atau kami akan memberi Anda lebih banyak alasan untuk berunding. []
Baca juga: Pete Hegseth Ultimatum Irak: Pilih Iran atau Amerika Serikat







