Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

The Telegraph: Trump Gagal Menghapus Warisan Qassim Soleimani

Published

on

The Telegraph menilai warisan Jenderal Qassem Soleimani masih hidup dalam dinamika kawasan. (Foto: Fars News Agency)
The Telegraph menilai warisan Jenderal Qassim Soleimani masih hidup dalam dinamika kawasan. (Foto: Fars News Agency)

Ahlulbait Indonesia, 4 Agustus 2026 – Harian Inggris The Telegraph menilai kelompok-kelompok perlawanan di kawasan masih menjadi warisan strategis Jenderal Syahid Qassim Soleimani yang terus memengaruhi dinamika politik dan keamanan Timur Tengah, lebih dari enam tahun setelah ia gugur.

Menurut laporan Fars News Agency pada Selasa (4/8/2026), The Telegraph menyebut kelompok-kelompok perlawanan yang dibangun semasa Jenderal Soleimani kini telah menyatu dengan struktur politik, ekonomi, dan sosial Irak. Selain memiliki jaringan ekonomi, mereka juga memiliki representasi di parlemen dan pemerintahan Irak.

Baca juga: The Telegraph: AS Telan Kekalahan Strategis dari Iran

Enam tahun lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan operasi yang menewaskan Jenderal Soleimani, Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Dalam beberapa kesempatan setelahnya, Trump berulang kali menyebut nama Soleimani dan menyatakan Iran akan menjadi negara yang “berbeda” apabila komandan tersebut masih hidup.

Namun, menurut The Telegraph, pengaruh yang ditinggalkan Soleimani tetap bertahan dan terus memainkan peran dalam berbagai perkembangan di Timur Tengah.

Seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada The Telegraph bahwa kelompok-kelompok perlawanan merupakan kekuatan yang “tidak dapat diabaikan”. Ia juga menegaskan Iran akan terus mendukung mereka, sebagaimana dukungannya terhadap Hizbullah.

Baca juga: Rusia: Senjata Nuklir Bisa Digunakan untuk Membela Sekutu

Laporan tersebut menyebut pemerintahan Trump terus menekan para pemimpin Irak agar membatasi pengaruh kelompok-kelompok perlawanan. Namun, sejumlah pengamat Irak menilai Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) atau Al-Hashd al-Shaabi tidak mungkin dibubarkan karena telah menjadi bagian dari struktur keamanan dan politik negara itu.

Di akhir laporannya, The Telegraph menyimpulkan bahwa meskipun lebih dari enam tahun telah berlalu sejak gugurnya Qassim Soleimani, warisan yang ditinggalkannya masih mampu membentuk berbagai konflik dan dinamika geopolitik di Timur Tengah hingga saat ini. []

Baca juga: CNN: CENTCOM Kehabisan Ide Hadapi Iran, Cari Strategi Baru Tekan Teheran