Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Teheran Tuntut Perlawanan terhadap Militerisasi Ruang Angkasa AS

Published

on

Iran memperingatkan kebijakan sepihak AS di ruang angkasa dapat memicu pengembangan kemampuan tandingan dan perlombaan senjata.
Iran memperingatkan kebijakan sepihak AS di ruang angkasa dapat memicu pengembangan kemampuan tandingan dan perlombaan senjata.

Media ABI, 18 September 2026 – Pengumuman Amerika Serikat mengenai penempatan senjata di orbit Bumi mendapat kecaman dari Teheran. Direktur Jenderal Perdamaian dan Keamanan Internasional Kementerian Luar Negeri Iran Mohammad Hassan-Nejad Pirkouhi mengatakan langkah tersebut melanggar Traktat Luar Angkasa 1967 dan mengancam perdamaian serta keamanan internasional.

Dalam wawancara dengan IRNA pada Jumat, 18 September 2026, Hassan-Nejad menyebut pengakuan resmi Washington mengenai penempatan senjata di ruang angkasa sebagai perkembangan yang mengkhawatirkan. Kebijakan tersebut, menurut dia, merupakan kelanjutan dari langkah Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pembentukan Angkatan Luar Angkasa, penetapan ruang angkasa sebagai arena perang dan pengembangan program Golden Dome.

Baca juga: AS Tempatkan Senjata di Orbit, Bersiap Hadapi Perang Dekat Bulan

Teheran telah berulang kali memperingatkan bahwa pendekatan sepihak dalam penggunaan ruang angkasa dapat mendorong negara lain mengembangkan kemampuan tandingan. Perkembangan semacam itu berisiko memperluas perlombaan senjata ke ruang angkasa.

Iran memandang ruang angkasa sebagai warisan bersama umat manusia yang penggunaannya harus ditujukan untuk tujuan damai. Militerisasi ruang angkasa, menurut Hassan-Nejad, mengganggu hak seluruh negara untuk memanfaatkan ruang angkasa secara setara dan tanpa diskriminasi.

Karena itu, Hassan-Nejad meminta masyarakat internasional mengambil sikap tegas terhadap kebijakan Washington. Sidang tingkat tinggi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Komite Pertama Majelis Umum, menurut dia, dapat menjadi momentum untuk membahas persoalan tersebut sekaligus merumuskan langkah menghadapi apa yang disebutnya sebagai unilateralisme agresif Amerika Serikat dalam bidang perlucutan senjata dan pengendalian persenjataan.

Hassan-Nejad menilai langkah sukarela dan tidak mengikat yang selama ini ditempuh masyarakat internasional tidak lagi memadai. Menurut dia, sudah waktunya Konferensi Perlucutan Senjata memulai perundingan untuk menyusun dokumen hukum yang mengikat, menyeluruh dan tidak diskriminatif.

Dokumen tersebut, menurut Hassan-Nejad, harus melarang penempatan senjata apa pun di ruang angkasa, termasuk ancaman maupun penggunaan kekuatan dari ruang angkasa terhadap negara lain. Aturan itu juga harus menetapkan hak dan kewajiban yang jelas serta berlaku sama bagi seluruh negara.

Baca juga: Butuh Puluhan Tahun untuk Memulihkan Kerusakan Pangkalan AS

Iran, menurut Hassan-Nejad, akan mendukung setiap langkah konstruktif yang diarahkan pada tujuan tersebut.

Dalam laporan yang sama, IRNA mengutip BBC yang menyebut Amerika Serikat baru-baru ini untuk pertama kalinya mengonfirmasi telah menempatkan sebuah senjata antariksa di orbit Bumi. Pengakuan tersebut disebut menunjukkan bahwa Washington memiliki kemampuan ofensif di ruang angkasa.

Menteri Angkatan Udara Amerika Serikat Troy Meink mengatakan penempatan senjata tersebut diperlukan untuk melindungi personel Amerika dari tindakan bermusuhan pihak lawan.

Meink menyampaikan pernyataan itu pada Senin, 14 September, dalam konferensi Air, Space and Cyber Amerika Serikat. Dia mengatakan Washington siap menghadapi ancaman yang terus berkembang, tetapi tidak memberikan penjelasan mengenai kemampuan senjata tersebut maupun waktu penempatannya di orbit. []

Baca juga: Bertahun-tahun Digempur Koalisi Arab, Ansarullah Semakin Kuat