Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Iran Ganggu Sistem “Mata” AS sebelum Serang Pangkalan Al-Azraq

Published

on

Citra satelit memperlihatkan kerusakan pada salah satu hanggar di Pangkalan Udara Al-Azraq, Yordania, setelah serangan rudal dan pesawat nirawak Iran terhadap sasaran militer Amerika.
Sebagian aset militer AS dipindahkan ke lokasi yang lebih jauh, tetapi Iran disebut tetap berhasil menemukan Al-Azraq di Yordania.

Media ABI, 15 September 2026 – Serangan Iran terhadap pangkalan Al-Kharj di Arab Saudi dan Al-Azraq di Yordania disebut didahului operasi untuk mengganggu kemampuan pengintaian Amerika Serikat dan Israel. Fars News Agency dalam laporan yang diterbitkan Selasa, 15 September 2026, menyebut penembakan sejumlah drone pengintai sebagai bagian penting dari rangkaian operasi tersebut.

Pertempuran di udara Iran, menurut laporan itu, menjadi bagian awal dari operasi yang baru terlihat ketika rudal menghantam sasaran di luar wilayah Iran. Sebelum peluncur rudal bergerak, upaya dilakukan untuk membatasi kemampuan lawan menemukan posisi, memantau pergerakan pasukan, dan mendeteksi persiapan operasi.

Baca juga: Kekacauan di Pentagon Hambat Agenda Keamanan AS

Drone seperti Hermes 900 dan berbagai varian Heron memiliki fungsi jauh lebih luas daripada pengambilan gambar udara. Pesawat nirawak tersebut digunakan untuk memantau perpindahan unit, mengenali sistem pertahanan, mengumpulkan informasi elektronik, menentukan koordinat, hingga membantu mengarahkan serangan rudal dan drone.

Karena itu, jatuhnya drone pengintai tidak hanya berarti hilangnya sebuah pesawat. Dalam uraian Fars, jaringan pengintaian yang bergantung pada pesawat tersebut turut kehilangan salah satu mata rantainya.

Rantai pengintaian yang mulai terputus

Operasi udara bergantung pada informasi yang terus diperbarui. Sasaran harus ditemukan, posisinya dipastikan, informasi dikirim ke pusat komando, lalu senjata yang sesuai dipilih untuk menyerang. Drone pengintai memiliki posisi penting dalam proses tersebut karena mampu bertahan lama di udara dan membawa sensor optik, termal, serta elektronik.

Ketika drone ditembak jatuh, kesinambungan pengawasan ikut terganggu. Informasi lama perlahan kehilangan relevansi, pergerakan unit yang berpindah semakin sulit dilacak, sementara perubahan posisi sistem pertahanan membuat koordinat sebelumnya cepat usang.

Menurut Fars, kondisi tersebut menyulitkan lawan memperbarui informasi mengenai susunan pertahanan udara Iran, lokasi peluncur rudal, dan pergerakan unit operasional.

Laporan itu juga menyebut sejumlah besar pesawat milik pihak yang dianggap sebagai lawan terkena serangan selama perang 40 hari. Bangkai drone Amerika dan Israel yang dipamerkan dalam pameran pencapaian Angkatan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC disebut hanya sebagian dari pesawat yang berhasil dilacak dan ditembak jatuh.

Pertahanan udara tetap bertahan

Serangan Amerika Serikat dan Israel selama perang menghantam sejumlah bagian jaringan pertahanan udara Iran. Pada beberapa tahap pertempuran, kondisi tersebut memberi ruang gerak bagi pesawat tempur lawan.

Namun, kerusakan pada sejumlah radar atau sistem pertahanan tidak otomatis membuat seluruh jaringan pertahanan udara Iran lumpuh.

Baca juga: Saudi Minta Inggris Intervensi Militer di Yaman

Sebagian kapasitas pertahanan tetap beroperasi dengan mengandalkan mobilitas, penyebaran, penyamaran, perpindahan posisi, dan perubahan susunan operasional. Ketika sebuah sistem pertahanan berpindah setelah mendeteksi sasaran atau melakukan intersepsi, informasi yang sebelumnya dimiliki lawan dapat kehilangan nilai operasional.

Posisi sistem pertahanan yang telah diketahui juga dapat berubah dalam waktu singkat. Ketika unit berpindah, koordinat lama tidak lagi menunjukkan sasaran yang sama. Untuk menemukan kembali sistem bergerak, lawan membutuhkan informasi terbaru mengenai lokasinya.

Persoalan itu semakin penting ketika drone yang bertugas memperbarui informasi juga berhasil ditembak jatuh. Tanpa koordinat baru, serangan dapat diarahkan ke lokasi yang sudah ditinggalkan.

Dalam laporan tersebut, kondisi itu membuat drone pengintai menjadi salah satu sasaran penting pertahanan udara Iran. Drone berukuran lebih kecil, berbiaya lebih rendah, mampu bertahan lama di udara, serta dilengkapi perangkat pengintaian dan peperangan elektronik disebut semakin banyak digunakan dalam operasi modern.

Aset AS dipindahkan ke lokasi yang lebih jauh

Rangkaian tersebut kemudian mengarah pada pangkalan Al-Kharj dan Al-Azraq.

Setelah Iran menyerang pangkalan yang lebih dekat di Qatar, Kuwait, dan wilayah timur Arab Saudi, menurut Fars, komando Amerika Serikat memindahkan sebagian peralatan dan kapasitas operasionalnya ke lokasi yang lebih jauh. Al-Kharj di bagian dalam Arab Saudi dan Al-Azraq di Yordania termasuk lokasi yang dipilih dengan harapan jarak memberikan perlindungan lebih besar.

Perhitungannya, jarak yang lebih jauh akan memperpanjang waktu peringatan, memberi kesempatan bagi pertahanan untuk bereaksi, sekaligus menyulitkan Iran menemukan dan menyerang sasaran.

Baca juga: Jangan Sampai Diplomasi Iran Jadi “Pas Gol” untuk Trump

Laporan tersebut menyebut tim operasional Iran telah memantau pergerakan itu selama berbulan-bulan. Analisis terhadap informasi dan pola pemindahan peralatan digunakan untuk mengidentifikasi lokasi baru dan memasukkannya ke dalam basis data sasaran.

Pemindahan tersebut tidak membuat seluruh aset Amerika berada di luar jangkauan Iran. Sebagian justru terkonsentrasi di lokasi baru yang telah diketahui. Pada saat yang sama, terganggunya kemampuan pengintaian lawan disebut membuat persiapan operasi Iran lebih sulit dideteksi.

Pertahanan membuka ruang bagi serangan

Keberhasilan serangan terhadap Al-Kharj dan Al-Azraq, menurut Fars, tidak dapat dijelaskan hanya melalui penembakan sejumlah drone.

Operasi jarak jauh membutuhkan perpaduan antara informasi, identifikasi sasaran, pemilihan waktu, pengelabuan, penyamaran, perencanaan jalur, kemampuan rudal dan drone, kemampuan melewati pertahanan, serta evaluasi hasil serangan.

Berkurangnya kemampuan lawan memperoleh informasi secara terus-menerus menjadi salah satu unsur penting dalam rangkaian tersebut. Ketika informasi yang tersedia semakin terbatas, kemampuan mendeteksi pergerakan dan memberikan respons juga ikut terpengaruh.

Dalam gambaran Fars, pertahanan udara dan kekuatan serang tidak berdiri sebagai dua operasi yang terpisah. Penembakan drone pengintai mengurangi kemampuan lawan mengamati wilayah Iran, sementara berkurangnya pengawasan memberi ruang bagi unit rudal dan drone untuk mempersiapkan operasi.

Dengan pola tersebut, penembakan drone dan serangan terhadap pangkalan jauh ditempatkan sebagai bagian dari satu rangkaian operasi.

Baca juga: The Atlantic: Trump Kehilangan Pijakan di Laut Merah

Jarak tidak lagi menjamin keamanan

Serangan terhadap Al-Kharj dan Al-Azraq menguji anggapan bahwa aset militer Amerika akan lebih aman jika dipindahkan lebih jauh dari Iran.

Menurut Fars, Amerika Serikat berupaya mengandalkan jarak geografis untuk mengurangi ancaman. Iran disebut menggabungkan jangkauan, informasi, akurasi, dan unsur kejutan untuk menemukan lokasi baru dan menyerangnya.

Bangkai drone Hermes, Heron, dan sejumlah pesawat lain yang dipamerkan Angkatan Dirgantara IRGC menjadi bagian dari gambaran tersebut. Dalam laporan Fars, setiap drone yang jatuh berarti berkurangnya kemampuan lawan untuk mengawasi pergerakan Iran, menemukan posisi peluncur, dan menyediakan informasi bagi serangan berikutnya.

Dari penembakan drone pengintai di wilayah Iran hingga serangan terhadap Al-Kharj dan Al-Azraq, Fars melihat satu rangkaian operasi yang saling berkaitan. Kemampuan pengintaian lawan lebih dulu ditekan, pergerakan Iran menjadi lebih sulit dipantau, lalu serangan diarahkan ke pangkalan yang berada jauh dari wilayah Iran dan sebelumnya dipandang lebih aman. []

Baca juga: Angkatan Udara Irak Bombardir Persembunyian ISIS di Kirkuk