Internasional
Pentagon Akui Ratusan Fasilitas AS Rusak akibat Serangan Iran

Media ABI, 15 September 2026 – Ratusan bangunan dan struktur milik Amerika Serikat di Timur Tengah rusak atau hancur selama perang dengan Iran. Pengakuan tersebut muncul dalam laporan pertama Inspektur Jenderal Pentagon yang menelaah dampak serangan terhadap fasilitas dan operasi Amerika di kawasan.
Fars News Agency dalam laporan Selasa (15/9/26) menyebut laporan tersebut disusun oleh kantor Inspektur Jenderal Pentagon, kantor Inspektur Jenderal Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, dan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat atau USAID. Laporan yang diterbitkan Senin itu mencakup periode 28 Februari hingga 30 Juni dan, berdasarkan komunikasi dengan Komando Sentral Amerika Serikat atau CENTCOM, mencatat kerusakan atau kehancuran pada ratusan bangunan dan struktur di pangkalan Amerika di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania.
Baca juga: Iran Ganggu Sistem “Mata” AS sebelum Serang Pangkalan Al-Azraq
Selain kerusakan fasilitas, laporan tersebut mengonfirmasi penurunan tajam persediaan sejumlah persenjataan utama Amerika Serikat. CNN sebelumnya melaporkan bahwa pada hari-hari pertama perang, sejumlah peralatan penting, termasuk sistem radar pertahanan rudal, menjadi sasaran serangan Iran dan mengalami kehancuran.
Serangan mengubah cara pasukan AS beroperasi
Dampak serangan juga mengubah pola operasi pasukan Amerika di kawasan. CENTCOM memindahkan pasukan, peralatan, dan pusat penyimpanan, termasuk mengeluarkan helikopter evakuasi medis Angkatan Darat Amerika Serikat dari Irak dan Kuwait. Akibatnya, sebagian besar pemindahan personel yang terluka untuk mendapatkan perawatan medis dilakukan melalui jalur darat menuju fasilitas kesehatan setempat.
Kerusakan berat terjadi pada pusat regional Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain. Kepala sementara Departemen Angkatan Laut AS, Hung Cao, sebelumnya menggambarkan kondisi fasilitas tersebut setelah serangan Iran sebagai “benar-benar berantakan”. Inspektur Jenderal Pentagon menyebut kehancuran pusat tersebut menimbulkan tantangan besar bagi Amerika dalam menyediakan pangkalan angkatan laut dan pelabuhan pendukung yang memadai.
Diego Garcia di Samudra Hindia kemudian menjadi salah satu pusat logistik maritim Amerika. Perubahan itu memperpanjang siklus pengisian kembali peralatan dan logistik bagi pasukan Amerika menjadi 14 hingga 18 hari. Laporan yang sama mencatat kekurangan peralatan secara berkala serta gangguan pada sistem layanan pos militer Amerika di kawasan, yang memperberat kondisi para pelaut AS selama penempatan di Teluk Persia yang belum pernah terjadi sebelumnya dan berlangsung lama.
Kerugian fasilitas diplomatik mencapai US$184 juta
Dampak perang juga terasa pada fasilitas diplomatik Amerika. Laporan yang disusun bersama kantor Inspektur Jenderal Departemen Luar Negeri AS dan USAID itu memperkirakan kerugian akibat kerusakan fasilitas diplomatik Amerika di Timur Tengah mencapai sekitar US$184 juta. Tidak ada angka khusus yang diberikan untuk total kerugian pada pangkalan dan fasilitas militer.
Baca juga: CBS Publikasikan Wawancara Pilot AS Enam Bulan Setelah Jatuh di Iran
Pada awal Maret, dua drone Iran menyerang Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh dan menyebabkan kerusakan luas, termasuk pada fasilitas yang berkaitan dengan stasiun Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat atau CIA di kompleks tersebut. Sebuah drone lain pada periode yang sama menyerang fasilitas Konsulat Amerika Serikat di Dubai dan merusak sebuah bangunan layanan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio ketika itu mengatakan drone tersebut menghantam area parkir yang berdekatan dengan bangunan utama kedutaan.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kuwait juga menghentikan seluruh aktivitasnya pada Maret setelah menjadi sasaran serangan drone Iran dan mengalami kerusakan. Aktivitas darurat baru dilanjutkan pada akhir Juni untuk memberikan layanan kepada warga Amerika.
Irak mencatat kerugian finansial terbesar di antara fasilitas diplomatik Amerika yang terdampak. Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS pada Mei menyatakan lebih dari 600 serangan telah dilakukan terhadap fasilitas Amerika di Irak. Laporan Inspektur Jenderal memperkirakan kerusakan akibat serangan tersebut mencapai sekitar US$157 juta.
Washington pertimbangkan pengurangan pasukan
Perubahan yang terjadi selama perang juga memunculkan pembicaraan mengenai masa depan kehadiran Amerika di Timur Tengah. CNN melaporkan bahwa sejumlah pejabat militer dan intelijen Amerika secara tertutup telah membahas kemungkinan pengurangan jangka panjang pasukan dan fasilitas Amerika di kawasan setelah perang berakhir.
Baca juga: IRGC: Intelijen AS Gagal Membaca Realitas Medan
Enam sumber sebelumnya mengatakan kepada CNN bahwa pemerintah Amerika sedang mempertimbangkan untuk mempertahankan sebagian pengurangan kehadiran militer dan fasilitas tersebut setelah perang.
Pada periode 23 Februari hingga 30 Juni, jumlah staf diplomatik Amerika yang berada di luar kawasan mencapai 3.500 orang. Beberapa pekan setelah perang dimulai, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan perintah keluar bagi personel di Bahrain, Irak, Yordania, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab karena fasilitas diplomatik Amerika di berbagai negara menjadi sasaran serangan.
Dalam status “perintah keluar”, staf yang tidak memiliki tugas penting beserta seluruh anggota keluarga mereka diwajibkan meninggalkan kawasan. Sementara dalam status “keberangkatan yang diizinkan”, staf yang tidak memiliki tugas penting diberi pilihan untuk meninggalkan kawasan atau tetap berada di sana.
Sebagian besar perwakilan diplomatik Amerika Serikat masih berada dalam status “aktivitas terbatas”. Status tersebut menunjukkan bahwa kegiatan belum kembali normal dan penempatan personel belum sepenuhnya dipulihkan. []
Baca juga: Stok Rudal Pencegat Menipis, Trump Pamer Senjata Laser







