Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

IRGC Ancam Balik Trump: Serangan ke Empat Pembangkit di Teluk Akan Lumpuhkan Pangkalan AS

Published

on

Brigjen Sayyid Majid Mousavi menegaskan serangan ke jembatan dan pembangkit listrik Iran akan memicu respons balasan.
Brigjen Sayyid Majid Mousavi menegaskan serangan ke jembatan dan pembangkit listrik Iran akan memicu respons balasan.

Ahlulbait Indonesia, 23 Juli 2026 – Komandan Pasukan Dirgantara Garda Revolusi Islam Iran (IRGC Aerospace Force), Brigjen Sayyid Majid Mousavi, mengeluarkan peringatan keras kepada pihak yang mengancam infrastruktur Iran.

Dalam unggahan di akun media sosial pribadinya pada Kamis (23/7/2026), Mousavi menegaskan bahwa setiap serangan terhadap jembatan atau pembangkit listrik Iran akan dibalas dengan konsekuensi bagi negara-negara yang mendukung atau menjadi tuan rumah pihak yang menyerang.

“Jika jembatan dan pembangkit listrik kami diserang, pemadaman listrik bagi sekutu dan para tuan rumah pembunuh anak-anak adalah sebuah kepastian,” tulisnya.

Baca juga: Peringatan IRGC: Jangan Gunakan Jalur Alternatif Selat Hormuz

Pernyataan tersebut disampaikan beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim melalui media sosial bahwa apabila terjadi peluncuran rudal atau drone terhadap kapal mana pun di Selat Hormuz, Amerika Serikat akan menyerang infrastruktur Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik.

Peringatan Mousavi sekaligus menyoroti kerentanan lain di kawasan. Pangkalan-pangkalan militer utama Amerika Serikat di Timur Tengah bergantung pada jaringan listrik negara-negara tuan rumah. Ketergantungan ini membentuk hubungan strategis yang berarti setiap gangguan terhadap jaringan tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan operasional militer AS di kawasan.

Laporan ini mengulas empat pembangkit listrik yang menjadi penopang pasokan energi bagi pangkalan-pangkalan utama Amerika Serikat di kawasan Teluk.

1. Pembangkit Al Taweelah (Uni Emirat Arab)

Berada di Abu Dhabi, Pembangkit Al Taweelah memiliki kapasitas sekitar 6.000 megawatt dan memasok sekitar 12 persen kebutuhan listrik Uni Emirat Arab. Jaringan listriknya juga menopang Pangkalan Udara Al Dhafra, markas berbagai aset strategis Amerika Serikat, termasuk pesawat nirawak RQ-4 Global Hawk. Gangguan terhadap pembangkit ini dinilai dapat memengaruhi kesiapan operasional pangkalan tersebut.

2. Pembangkit DEWA (Dubai)

Dengan kapasitas sekitar 9.650 megawatt, Pembangkit DEWA memasok sekitar 85 persen kebutuhan listrik Dubai. Fasilitas ini menjadi sumber energi utama bagi Pangkalan Al Minhad, salah satu pusat logistik dan operasi militer penting Amerika Serikat di kawasan Teluk. Gangguan terhadap pembangkit ini berpotensi memengaruhi operasional pangkalan tersebut.

Baca juga: Alasan Tokoh Nasional Yordania Sambut Seruan IRGC

3. Pembangkit Ras Laffan (Qatar)

Pembangkit Ras Laffan menghasilkan sekitar 4.511 megawatt listrik dan menjadi pemasok energi bagi Pangkalan Udara Al Udeid. Pangkalan ini merupakan fasilitas militer terbesar Amerika Serikat di Timur Tengah sekaligus markas Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) untuk operasi udara di kawasan. Ketergantungan terhadap pasokan listrik menjadikan infrastruktur energi sebagai faktor penting bagi keberlangsungan operasi pangkalan tersebut.

4. Pembangkit Riyadh (Arab Saudi)

Pembangkit Riyadh memiliki kapasitas sekitar 9.636 megawatt dan memasok listrik bagi Pangkalan Udara Prince Sultan di Al Kharj. Pangkalan tersebut merupakan salah satu pusat utama penempatan aset militer Amerika Serikat di Arab Saudi dan bergantung pada jaringan listrik ibu kota.

Baca juga: Khatam al-Anbiya: Serangan ke Fasilitas Nuklir Berarti Perluasan Perang

Keempat pembangkit tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur energi di Uni Emirat Arab, Dubai, Qatar, dan Arab Saudi tidak hanya melayani kebutuhan sipil, tetapi juga menjadi bagian penting dari rantai pendukung operasi militer Amerika Serikat di kawasan.

Dengan demikian, ancaman terhadap infrastruktur energi tidak hanya memiliki dimensi ekonomi, tetapi juga konsekuensi strategis. Ketergantungan pangkalan-pangkalan militer AS pada jaringan listrik negara-negara tuan rumah menciptakan hubungan saling bergantung yang menjadi salah satu unsur penangkalan di kawasan. Inilah konteks yang melatarbelakangi peringatan Mousavi bahwa serangan terhadap infrastruktur Iran dapat memicu konsekuensi yang meluas terhadap kepentingan strategis Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah. []

Baca juga: IRGC Ancam Trump: Serangan Berikutnya Bisa Paksa AS Umumkan Berkabung Nasional