Internasional
Penulis Zionis: Israel Bisa Tak Bertahan hingga 2048

Media ABI, 6 September 2026 – Israel mungkin tidak akan bertahan hingga 2048 jika pemerintahan berikutnya gagal menjalankan program penyelamatan nasional untuk menghadapi dampak perang, isolasi internasional, dan perpecahan di dalam negeri.
Peringatan tersebut disampaikan penulis Zionis Dan Barry dalam artikelnya di harian Maariv. Mantan editor Associated Press untuk kawasan Eropa, Afrika, dan Timur Tengah itu menyebut Israel berada dalam keadaan darurat setelah perang di Gaza dan dampak serangan 7 Oktober, sebagaimana dilansir Fars News Agency pada Sabtu (5/9/2026).
Baca juga: Trump Klaim 18 Juta Barel Melintas Hormuz, Pantauan Satelit Catat Nol Tanker
Menurut Barry, kebijakan yang ditempuh saat ini dapat memperburuk keamanan dan ekonomi Israel, sekaligus memperdalam kerenggangan dengan masyarakat internasional. Kemenangan Benjamin Netanyahu dalam pemilihan mendatang, tulisnya, akan membawa bencana yang lebih luas. Namun, jika oposisi menang, pemerintahan baru akan mewarisi negara yang tengah dilanda guncangan, pelemahan lembaga, dan isolasi internasional yang semakin dalam.
Sebagai bagian dari langkah penyelamatan, Barry meminta pembentukan komite penyelidikan resmi untuk mengusut peristiwa 7 Oktober, pembatalan reformasi peradilan yang disahkan koalisi Netanyahu, serta penguatan independensi lembaga peradilan dan institusi pengawasan.
Untuk Gaza, ia mendesak penerimaan penuh terhadap rencana Donald Trump yang mencakup penarikan pasukan Israel setelah Hamas dilucuti senjatanya, kerja sama dengan pasukan stabilisasi internasional dan Dewan Perdamaian, serta dukungan bagi pembangunan kembali Jalur Gaza dengan melibatkan negara-negara Arab dan masyarakat internasional.
Baca juga: Rudal Generasi Baru Iran Jadi Sorotan Setelah Serangan ke Pangkalan AS
Di Tepi Barat, Barry meminta penghentian kekerasan pemukim Zionis terhadap warga Palestina dan perluasan permukiman-permukiman terpencil demi menjaga kemungkinan tercapainya penyelesaian politik pada masa depan. Namun, pembentukan negara Palestina, menurutnya, belum dapat ditempatkan dalam agenda selama Hamas masih bersenjata dan struktur Otoritas Palestina belum direformasi.
Ia juga mengusulkan penataan ulang strategi regional Israel melalui kesepakatan nonagresi dengan Lebanon dan Suriah, koordinasi dengan Amerika Serikat dan sekutunya dalam menghadapi Iran, penguatan kerja sama dengan Mesir dan Yordania, serta pembukaan jalan menuju hubungan dengan Arab Saudi dalam kerangka politik yang memuat prospek negara Palestina pada masa depan.
Barry menilai Israel juga harus meninggalkan pola pemerintahan yang terpusat dan berorientasi pada kepentingan terbatas. Pemerintahan yang baru, tulisnya, perlu mampu memulihkan kepercayaan di dalam negeri dan memperbaiki hubungan Israel dengan dunia demokratis.
Tanpa langkah tersebut, Israel berisiko berubah menjadi negara yang miskin, terisolasi, dan dilanda perpecahan sosial yang mendalam. []
Baca juga: Mantan Menlu Jerman: Tak Ada Kekuatan yang Mampu Membuka Selat Hormuz







