Internasional
Mantan Menlu Jerman: Tak Ada Kekuatan yang Mampu Membuka Selat Hormuz

Media ABI, 1 September 2026 – Mantan Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel mengatakan tidak ada kekuatan, bahkan negara-negara adidaya, yang mampu memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz.
Menurut laporan Fars News Agency pada Selasa (1/9/2026), Gabriel menyampaikan pandangan tersebut dalam wawancara dengan majalah Jerman Der Spiegel. Konflik dan perang di Iran, katanya, justru memperlihatkan keterbatasan pengaruh Amerika Serikat dan China, dua negara yang selama ini dipandang sebagai kekuatan besar dunia.
Baca juga: Bank Sentral Iran Tepis Trump: Devisa Negara Masih Melimpah
Gabriel, yang juga pernah menjabat sebagai wakil kanselir Jerman, mengatakan Donald Trump merupakan presiden yang waktunya di panggung politik semakin mendekati akhir setelah apa yang disebutnya sebagai bencana di Iran.
Meski demikian, Gabriel menilai Trump masih memiliki kemampuan untuk menimbulkan kerusakan besar.
“Namun, yang menarik adalah kita kini melihat bagaimana konflik dan perang di Iran membuat dua negara adidaya yang menganggap dirinya demikian, yaitu Amerika Serikat dan China, justru tampak tidak berdaya,” kata Gabriel.
Menurut Gabriel, Washington tidak mampu membuka Selat Hormuz dan membebaskan ekonomi global dari salah satu persoalan terbesarnya saat ini.
China, yang disebutnya sebagai sahabat Iran, juga menghadapi keterbatasan yang sama. Beijing, kata Gabriel, tidak berhasil menghentikan situasi tersebut meskipun sekitar 50 persen impor minyak China terdampak.
Baca juga: Dari Ketergantungan hingga Bavar 373: Jalan Panjang Iran dalam Menjaga Langitnya
“China juga, yang merupakan sahabat Iran, tidak mampu menghentikan situasi ini, meskipun kehilangan 50 persen impor minyaknya. Tampaknya negara itu pun tidak memiliki pengaruh terhadap Iran maupun pembukaan kembali Selat Hormuz,” ujarnya.
Iran sebelumnya menyatakan Selat Hormuz, yang sebelum perang terbuka bagi pelayaran, ditutup akibat tindakan yang disebut Teheran sebagai agresi Amerika Serikat dan Israel.
Dalam wawancara tersebut, Gabriel juga menyinggung posisi Eropa di tengah perubahan tatanan global. Menurutnya, Eropa telah kehilangan sebagian pengaruhnya terhadap perkembangan dunia.
Meski demikian, ia menilai Eropa yang berupaya membangun hubungan lebih dekat dengan dunia memiliki peluang besar untuk mendefinisikan kembali posisinya secara menyeluruh. []
Baca juga: Iran Tidak Akan Diam terhadap Agresi dari Mana Pun







