Internasional
Iran Beri Sinyal Postur Militer Lebih Ofensif

Media ABI, 5 September 2026 – Iran memberi sinyal akan memberi ruang lebih besar bagi operasi ofensif dalam menghadapi Amerika Serikat dan sekutunya, di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington.
Menurut Al Mayadeen pada Sabtu (5/9/2026), arah tersebut terlihat dari sejumlah pernyataan pejabat militer dan politik Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Kepala Biro Politik Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, Brigadir Jenderal Yadollah Javani, mengatakan operasi yang selama ini diposisikan sebagai langkah defensif dapat berubah menjadi ofensif. Menurutnya, Iran akan mengambil langkah yang diperlukan untuk mempertahankan negara dan lawan harus bersiap menghadapi “kejutan strategis”.
Baca juga: Rusia Tolak Permintaan AS untuk Menjauh dari Iran
Arahan serupa datang dari Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei yang menyerukan penguatan “pencegahan maksimum” sekaligus kesiapan melakukan operasi ofensif berskala besar terhadap musuh.
Selat Hormuz menjadi salah satu jalur strategis yang berada dalam perhitungan Teheran. Iran sebelumnya mengaitkan pembukaan kembali jalur yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman itu dengan pemenuhan komitmen Washington dalam kesepahaman yang dicapai kedua pihak. Sementara itu, Amerika Serikat terus memperketat sanksi dan mempertahankan tekanan militer terhadap Iran.
Analis Sina Toossi menilai pernyataan para pejabat Iran tersebut tidak berarti Teheran mengadopsi doktrin perang preventif. Jika konfrontasi tidak dapat dihindari, menurutnya, Iran ingin menunjukkan kesiapan untuk meningkatkan eskalasi lebih awal dan dengan kekuatan yang lebih besar.
Mantan pejabat IRGC Hossein Kanani-Moghadam mengatakan pilihan yang tersedia bagi Iran juga tidak terbatas pada rudal dan drone. Dalam perhitungannya, perang siber, perang psikologis, operasi intelijen, dan tekanan ekonomi dapat digunakan dalam menghadapi lawan.
Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref mengatakan serangan Amerika Serikat telah mengubah perhitungan keamanan dan doktrin pertahanan Iran. Jika Washington kembali melancarkan serangan, respons Iran, menurutnya, akan bersifat “asimetris” dan “berlapis” dengan tujuan menghilangkan rasa aman pihak yang menyerang.
Sikap tersebut muncul ketika tekanan terhadap Teheran meningkat. Amerika Serikat memperketat sanksi dan blokade terhadap ekspor minyak Iran, sementara pemerintah Iran menghadapi tekanan untuk menentukan arah berikutnya antara kembali ke jalur diplomasi atau meningkatkan tekanan militer.
Situasi ini juga memperbesar risiko salah perhitungan. Langkah yang dianggap sebagai penguatan daya tangkal oleh satu pihak dapat dibaca sebagai persiapan serangan oleh pihak lain, lalu memicu respons yang mempercepat eskalasi konflik. []
Baca juga: Pengamat: Serangan AS dan Israel Justru Satukan Rakyat Iran







