Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Rudal Generasi Baru Iran Jadi Sorotan Setelah Serangan ke Pangkalan AS

Published

on

Sejumlah rudal Iran diluncurkan dalam salah satu operasi militer. Serangan terbaru kembali memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan penggunaan persenjataan baru yang diproduksi pada 2026.
Sejumlah rudal Iran diluncurkan dalam salah satu operasi militer. Serangan terbaru kembali memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan penggunaan persenjataan baru yang diproduksi pada 2026.

Media ABI, 3 September 2026 — Serangan terbaru Iran terhadap sejumlah pangkalan Amerika Serikat di kawasan kembali menyoroti perkembangan kemampuan rudal negara tersebut. Pernyataan sejumlah pejabat Iran, ditambah laporan media Barat dan Israel, memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan penggunaan persenjataan generasi baru yang disebut telah diproduksi pada Mei 2026.

Fars News Agency dalam laporannya pada Rabu, 2 September 2026, menyebut eskalasi dalam beberapa hari terakhir dan meningkatnya intensitas respons Iran telah membawa konflik ke fase baru. Hal itu terjadi di tengah pernyataan sejumlah pejabat Amerika Serikat mengenai tetap terbukanya Selat Hormuz dan melemahnya kemampuan militer Iran. Namun, perkembangan yang dilaporkan dari lapangan disebut menunjukkan gambaran berbeda. Pada akhir Juli, serangan Iran terhadap pangkalan Amerika Serikat di Yordania dilaporkan mendorong Pentagon mengakui kematian tiga personel militernya di negara tersebut. Peristiwa itu kemudian memicu pembahasan mengenai kemampuan Iran membangun kembali kekuatan militernya setelah perang. Dalam konteks tersebut, nama sejumlah rudal Iran, termasuk Kheibar Shekan dan Haji Qassem, kembali menjadi perhatian. Kedua rudal tersebut dilaporkan telah mengalami peningkatan kemampuan.

Baca juga: Iran Publikasikan Rekaman Serangan ke Markas Armada Kelima AS di Bahrain

Iran tidak banyak mengungkap jenis persenjataan yang digunakan dalam dua perang yang disebut Teheran sebagai perang yang dipaksakan. Namun, pernyataan Mohammad Reza Naqdi, penasihat komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, pada akhir April lalu memberi gambaran mengenai keberadaan rudal dan pesawat nirawak baru dalam persenjataan Iran. Naqdi mengatakan Korps Garda Revolusi Islam Iran telah menggunakan rudal baru dan rudal yang telah ditingkatkan dalam Operasi Nasr 1 dan Nasr 2 serta konflik terbaru. “Jika mereka kembali memulai perang, kami akan menembakkan rudal dan pesawat nirawak dengan tanggal produksi Mei 2026. Kemampuan utama dan keunggulan kami berada pada pasukan darat yang hingga kini belum memasuki medan,” kata Naqdi.

Kemajuan Militer dalam 15 Bulan

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga menyinggung percepatan pembangunan kembali kemampuan militer negaranya dalam percakapan video terbaru dengan masyarakat. “Dalam 15 bulan terakhir, kami telah membuat kemajuan di bidang militer setara dengan satu dekade, dan Iran mampu memulihkan kemampuan militernya lebih besar daripada musuh. Serangan yang dilakukan terhadap pangkalan Amerika Serikat di berbagai negara setelah gencatan senjata memiliki makna strategis,” kata Ghalibaf. Fars mengaitkan perkembangan tersebut dengan kemampuan Iran mengembangkan persenjataan strategis melalui teknologi dalam negeri.

Media Israel Jerusalem Post, menurut laporan yang dikutip Fars, juga menyoroti cepatnya pemulihan persediaan rudal Iran setelah perang 2026. Pemulihan tersebut disebut berlangsung lebih cepat daripada perkiraan militer Israel dan Mossad, sehingga menempatkan para pejabat di Tel Aviv pada situasi yang tidak mudah. Laporan itu menjadi salah satu rujukan yang digunakan Fars untuk menggambarkan percepatan pembangunan kembali kemampuan militer Iran.

Lebih dari Pemulihan

Laporan media Barat dan Israel banyak menggunakan istilah pemulihan untuk menggambarkan perkembangan kemampuan militer Iran. Fars, sebaliknya, menilai proses yang berlangsung tidak berhenti pada pembangunan kembali persenjataan yang telah digunakan, tetapi juga mencakup penguatan dan pengembangan kemampuan baru. Purnawirawan Jenderal Mark Hertling, mantan komandan pasukan Amerika Serikat di Eropa, dikutip Fars setelah serangan Iran pada akhir Juli terhadap pangkalan Amerika Serikat di Yordania dan Irak utara. Menurut laporan tersebut, serangan itu menyebabkan sedikitnya empat personel militer Amerika Serikat tewas. Hertling menggambarkan ketepatan dan intensitas serangan Iran sebagai sesuatu yang “sangat mengerikan” dan mengatakan belum pernah melihat rekaman seperti gambar yang kini beredar mengenai serangan rudal Iran terhadap pangkalan Amerika Serikat selama masa dinasnya.

Baca juga: Terjepit di Hormuz, Amerika Serikat Korbankan Sekutunya di Pasifik

Pada periode yang sama, Wall Street Journal, menurut Fars, melaporkan bahwa rudal baru Iran memiliki kecepatan tinggi dan kemampuan yang menyulitkan sistem pertahanan Amerika Serikat. Rudal-rudal tersebut disebut mampu melakukan manuver taktis pada tahap akhir lintasannya sebelum menghantam sasaran, kemampuan yang dinilai dapat meningkatkan peluang rudal menembus sistem pertahanan rudal Amerika Serikat. CNN juga dilaporkan menyebut Iran membangun kembali kemampuan militernya dengan kecepatan yang melampaui perkiraan awal serta kembali memulai produksi pesawat nirawak. Rangkaian laporan tersebut memperkuat gambaran bahwa Iran tidak hanya berupaya mengganti kemampuan yang hilang dalam perang, tetapi juga terus mengembangkan persenjataan strategisnya.

Baca juga: Menteri Keuangan AS Berjanji Terus Tekan Ekonomi Iran

Situasi di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir turut menjadi bagian dari perkembangan tersebut. Fars mengklaim Iran tetap memiliki penguasaan penuh atas jalur perairan strategis itu, meskipun terdapat pernyataan berbeda dari sejumlah pejabat Amerika Serikat. Mahboub al-Waziri, akademisi asal Qatar, mengatakan Amerika Serikat telah meyakini bahwa kemampuan pengawasan, pemantauan, dan sistem radar Iran di Selat Hormuz kembali beroperasi dengan kekuatan penuh. Dalam operasi terbarunya terhadap sasaran Amerika Serikat di kawasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran dilaporkan menyerang Kamp Taitin di Yordania selatan, yang memperluas daftar sasaran Iran di kawasan.

Rangkaian serangan terbaru memperlihatkan bahwa kemampuan rudal Iran tetap menjadi salah satu faktor penting dalam konflik yang sedang berlangsung. Namun, apakah rudal yang digunakan dalam operasi tersebut termasuk persenjataan yang diproduksi pada Mei 2026 belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia untuk umum. []

Baca juga: Trump Minta Iran Tidak Membalas Serangan AS