Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Kenali Iran dari Jalanan, Bukan Think Tank

Published

on

Dalam peringatan 40 hari wafatnya Imam Khamenei, Mokhber menyerukan persatuan dan penguatan kemerdekaan Iran.
Mokhber menyatakan Iran tidak menginginkan perang, tetapi tidak akan mundur dalam mempertahankan keamanan dan martabatnya.

Media ABI, 19 Agustus 2026 — Penasihat dan asisten Pemimpin Tertinggi Iran Mohammad Mokhber meminta Amerika Serikat melihat Iran dari sikap rakyatnya di jalanan, bukan berdasarkan laporan lembaga pemikir. Menurutnya, Iran terbuka terhadap logika dan dialog, tetapi tidak menyamakan perundingan dengan penyerahan diri, demikian dilaporkan Kayhan, Rabu, 19 Agustus 2026.

“Iran adalah negara yang mengedepankan logika dan dialog, tetapi kami tidak menyamakan perundingan dengan penyerahan diri,” ujar Mokhber dalam pernyataan memperingati 40 hari pemakaman Pemimpin Besar yang syahid, Ayatullah Imam Khamenei.

Wafatnya Imam Khamenei, menurutnya, merupakan duka besar bagi rakyat Iran. Namun, penghormatan yang diberikan masyarakat sekaligus memperlihatkan kuatnya hubungan mereka dengan pemimpin dan cita-cita yang diperjuangkannya.

Baca juga: Serangan Iran ke Pangkalan Bahrain Picu Krisis USS Abraham Lincoln

Setelah bertahun-tahun mendampingi Imam Khamenei, Mokhber menggambarkannya sebagai ulama pejuang, pemimpin bijaksana, politikus mendalam dan komandan pemberani yang memadukan iman, rasionalitas, idealisme, realisme serta kepedulian terhadap rakyat. Bagi sang pemimpin, Iran merupakan amanah sejarah dengan kemerdekaan, martabat dan keamanan bangsa yang tidak dapat dipertukarkan.

Penerus Imam Khamenei, Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei, disebutnya kini meneruskan jalan tersebut dengan kekuatan dan keteguhan.

Menyinggung kehadiran rakyat dalam beberapa malam terakhir, Mokhber mengatakan masyarakat datang untuk melepas pemimpinnya sekaligus memperbarui ikrar terhadap jalan dan cita-cita yang diperjuangkan. Kehadiran itu, menurutnya, mencerminkan kecintaan kepada Iran, revolusi dan para pemimpinnya, sekaligus menjadi salah satu penyangga kemerdekaan Republik Islam Iran.

Dalam situasi yang dinilainya sensitif, pesan kepada Washington kembali ditegaskan. Tekanan dan sanksi, menurut Mokhber, tidak akan mampu mematahkan kehendak rakyat Iran.

Baca juga: Iran Peringatkan Trump soal Hormuz, “Klaim Anda Akan Kami Koreksi”

Mengenai tindakan Amerika Serikat di Teluk Persia dan kejahatan rezim Zionis dalam perkembangan terakhir, dia menegaskan Iran bukan negara yang menginginkan perang. Namun, Teheran tidak akan mundur dalam mempertahankan keamanan, martabat dan para sekutunya.

“Bangsa Iran tidak akan melupakan darah para syuhada,” katanya. Tuntutan untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku dan pihak yang memerintahkan kejahatan tersebut, lanjutnya, merupakan tuntutan nasional seluruh rakyat Iran.

Di dalam negeri, penyelesaian persoalan masyarakat disebut sama pentingnya dengan mempertahankan wilayah Iran. Peningkatan kepuasan masyarakat diperlukan untuk menggagalkan rencana musuh dalam perang kognitif dan tekanan nonmiliter. Langkah tersebut, menurutnya, tetap dapat dilakukan melalui manajemen jihad dan peningkatan produktivitas.

Baca juga: Iran Mengubah Cara Menjaga Langitnya Setelah Perang 12 Hari

Menutup pernyataannya, Mokhber mengatakan peringatan 40 hari wafatnya Imam Khamenei bukan akhir dari masa berkabung, melainkan awal dari ikrar baru untuk menjaga martabat tanah air, bendera dan rakyat Iran.

“Bangsa yang berdiri bersama pemimpin dan Iran-nya tidak akan mengalami kekalahan,” ujar Mokhber. Masa depan Iran, tegasnya, bukan penyerahan diri dan kekalahan, melainkan martabat, kekuatan, kemerdekaan dan kemenangan. []

Baca juga: Kayhan Soroti Jaringan Infiltrasi Intelijen Prancis di Teheran