Internasional
New York Times Ungkap Alasan Trump “Menunda” Eskalasi Serangan terhadap Iran

Ahlulbait Indonesia, 26 Juli 2026 – The New York Times pada Sabtu (25/7) melalui laporan berjudul Trump Holds Off on Major Escalation Against Iran as Advisers Raise Concerns mengungkap bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk sementara menangguhkan rencana memperluas operasi militer terhadap Iran setelah menerima peringatan dari para komandan militer mengenai menipisnya persediaan rudal pencegat Patriot serta meningkatnya risiko eskalasi konflik di kawasan. Laporan tersebut kemudian turut dikutip sejumlah media internasional, antara lain Axios, Anadolu Agency, dan ANSA.
Mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat yang mengetahui pembahasan internal Gedung Putih, The New York Times menyebut keputusan tersebut tidak semata-mata didorong oleh upaya diplomasi, melainkan juga oleh berbagai pertimbangan strategis dan militer.

Baca juga: IRGC: Korban Tewas Tentara AS Lampaui 200 Orang
Faktor utama yang menjadi perhatian adalah kekhawatiran bahwa operasi militer yang lebih luas akan menguras persediaan rudal Patriot dan amunisi pertahanan udara lainnya hingga mencapai tingkat yang membahayakan kesiapan tempur Amerika Serikat. Selain itu, Washington juga mempertimbangkan potensi meluasnya konflik regional, kerentanan negara-negara sekutu di Timur Tengah terhadap serangan balasan Iran, serta dampak ekonomi global yang dapat memicu krisis energi dan gelombang pengungsi.
Menurut laporan tersebut, persoalan itu menjadi pembahasan utama dalam rapat Presiden Trump bersama para penasihat senior dan anggota kabinet pada Jumat (25/7). Sebagian besar diskusi difokuskan pada kondisi persediaan rudal Patriot dan sistem pertahanan udara lainnya.
Laporan itu juga menyebut kegagalan sistem Patriot mencegat serangan yang menewaskan tiga tentara Amerika di Yordania semakin memperbesar kekhawatiran Pentagon terhadap menipisnya stok rudal pencegat.
Berdasarkan keterangan dua sumber yang mengetahui jalannya rapat, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS, Jenderal Dan Caine, secara tertutup memperingatkan Trump bahwa meskipun operasi militer skala besar terhadap Iran masih memungkinkan secara teknis, langkah tersebut akan secara signifikan mengurangi persediaan rudal pencegat yang dimiliki Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).

Juru bicara Jenderal Caine menolak memberikan komentar mengenai rekomendasi yang disampaikan kepada Presiden.
Laporan tersebut juga menyebut Trump harus mengambil keputusan di tengah berbagai kendala strategis, termasuk belum terbukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, mandeknya proses perundingan, serta belum tercapainya tujuan militer Amerika melalui rangkaian serangan sebelumnya terhadap Iran.
Baca juga: IRGC Rilis Rincian Aset Udara Strategis AS yang Dihancurkan dalam Operasi Nasr 2
Pejabat AS: Serangan Justru Memperkuat Persatuan Iran
Dua pejabat Amerika yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan kepada The New York Times bahwa hampir tidak ada anggota lingkaran dekat Trump yang mendukung peningkatan operasi militer.
Seorang pejabat senior AS menilai serangan yang telah dilakukan tidak berhasil membawa Iran kembali ke meja perundingan. Sebaliknya, operasi tersebut justru memperkuat persatuan nasional Iran dan mendorong para pemimpinnya memusatkan perhatian pada upaya menghadapi ancaman dari luar.
Laporan itu juga mencatat bahwa meskipun intensitas konfrontasi langsung antara Iran dan Amerika Serikat menurun, ketegangan di Yaman meningkat seiring eskalasi pertempuran antara pasukan yang didukung Arab Saudi dan Ansarullah. Setelah 13 malam serangan berturut-turut, militer Amerika pada Sabtu tidak lagi mengumumkan serangan baru terhadap Iran.
Sebelumnya, Trump menyatakan militer AS siap melaksanakan operasi yang lebih besar, namun tetap membuka peluang diplomasi.
“Semua sudah siap. Kami siap bertindak, tetapi pada saat yang sama kami juga sedang berdialog. Mungkin kami akan mencapai titik penentu, mungkin juga tidak.”
Baca juga: NYT: Pentagon Tutupi Tentara AS Terluka, Puluhan Dievakuasi ke Jerman
Pentagon Siapkan Opsi Serangan Lebih Luas
The New York Times juga mengungkap Pentagon dalam beberapa hari terakhir telah mengirim tambahan personel, peralatan, dan amunisi ke kawasan Asia Barat. Militer AS disebut menyiapkan rencana bertahap untuk menyerang radar pantai, peluncur rudal antikapal, kapal cepat, serta berbagai fasilitas militer Iran lainnya.
Selain itu, serangan terhadap fasilitas energi dan pusat nuklir Iran, termasuk kompleks yang dikenal sebagai “Gunung Kolang” (Kolang Kouh) atau Pickaxe Mountain, juga masuk dalam daftar opsi yang dipertimbangkan.
Laporan tersebut menyebut Trump sebelumnya mengatakan kepada Axios bahwa ia sedang mempertimbangkan “serangan yang lebih besar dari sebelumnya”. Namun hingga berakhirnya rapat pada Jumat, rencana tersebut ditangguhkan setelah para komandan militer memaparkan risiko serius akibat berkurangnya persediaan rudal pencegat.
Baca juga: IRGC: Bangunan Tersisa Pusat Data Amazon yang Digunakan Militer AS Hancur
Menurut laporan itu, Pentagon sejak konflik dimulai telah menggunakan lebih dari 1.200 rudal Patriot dengan nilai lebih dari US$4 juta per unit. Penilaian internal Departemen Pertahanan AS menunjukkan stok rudal tersebut kini berada pada tingkat yang mengkhawatirkan, bahkan lebih rendah dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Di sisi lain, sejumlah penasihat Trump, termasuk Jared Kushner, menilai melanjutkan jalur perundingan dan mempertahankan tekanan ekonomi terhadap Iran merupakan pilihan yang lebih murah dan lebih kecil risikonya dibanding memperluas operasi militer.
Meski demikian, laporan tersebut menyebut belum dapat dipastikan apakah perundingan antara kedua pihak masih berlangsung atau apakah dinamika politik di dalam Iran masih memungkinkan tercapainya suatu kesepakatan.
Sementara itu, para pejabat Amerika yang dikutip The New York Times juga menyebut bahwa meskipun Washington kembali memperketat blokade maritim, Iran tetap berhasil melanjutkan sebagian ekspor minyaknya, terutama ke Tiongkok setelah penandatanganan nota kesepahaman pada pertengahan Juni. []
Baca juga: The Atlantic: AS Harus Akui Kekalahan dalam Perang Melawan Iran







