Internasional
Khaibar Shekan Seret Washington ke Jalan Buntu Strategis

Ahlulbait Indonesia, 26 Juli 2026 – Mehr News Agency dalam laporan analisis yang diterbitkan pada 26 Juli 2026 menyebut konfrontasi Iran–Amerika Serikat dalam 24 jam terakhir memasuki fase yang sangat menentukan. Efektivitas rudal balistik generasi baru Iran, kerusakan yang dilaporkan terjadi pada pangkalan dan aset militer Amerika Serikat, serta menipisnya persediaan sistem pertahanan udara Washington dinilai telah mengubah kalkulasi strategis Gedung Putih. Di saat yang sama, meluasnya ketegangan hingga ke Laut Kaspia memperlihatkan bahwa krisis kini berkembang melampaui kawasan Teluk Persia.
Medan Tempur Berubah, Pertahanan AS Diuji
Tinjauan terhadap berbagai laporan militer menunjukkan keseimbangan pertempuran di udara maupun di darat terus bergeser ke arah yang menguntungkan Iran.
The Wall Street Journal menulis bahwa rudal balistik Khaibar Shekan menunjukkan peningkatan kemampuan yang signifikan. Berkat kemampuan bermanuver tinggi dan mengubah lintasan pada fase akhir penerbangan, rudal tersebut disebut berhasil membingungkan sistem intersepsi canggih Amerika Serikat dan kini menjadi salah satu senjata utama dalam arsenal rudal Iran untuk menyerang sasaran-sasaran Amerika.
Baca juga: New York Times Ungkap Alasan Trump “Menunda” Eskalasi Serangan terhadap Iran
Di sisi lain, Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa selama 15 hari pertempuran, sedikitnya 11 pesawat dan helikopter militer Amerika Serikat dihancurkan saat berada di darat. Aset yang disebut hancur meliputi sebuah pesawat tempur F-15 di dalam shelter, satu pesawat patroli maritim P-8, satu pesawat angkut C-17, serta delapan pesawat pengisian bahan bakar di udara. IRGC juga menyatakan 17 drone pengintai dan operasional berhasil dihancurkan. Dalam Operasi Nasr 2, jumlah korban tewas di pihak militer Amerika Serikat disebut telah melampaui 200 orang, disertai sejumlah besar korban luka.
Juru Bicara Angkatan Darat Iran turut menyatakan bahwa infrastruktur operasional Amerika Serikat di Erbil, Irak, hampir sepenuhnya hancur. Sementara itu, sejumlah sumber regional melaporkan terjadinya beberapa ledakan di Sulaymaniyah.
Washington Menghadapi Jalan Buntu Strategis
Berbagai media internasional dan lembaga kajian menilai pemerintah Amerika Serikat kini berada dalam situasi yang semakin sulit tanpa prospek penyelesaian yang jelas.
The New York Times melaporkan bahwa kekhawatiran terhadap menipisnya stok rudal Patriot dan amunisi sistem pertahanan udara menjadi salah satu pertimbangan utama Presiden Donald Trump untuk tidak memperluas eskalasi militer pada malam sebelumnya. Penilaian tersebut sejalan dengan analisis Council on Foreign Relations (CFR) yang menyatakan Gedung Putih kini dihadapkan pada tiga pilihan yang sama-sama tidak menguntungkan, yakni meningkatkan konflik secara besar-besaran dengan risiko krisis kemanusiaan tanpa menjamin Iran akan menyerah, menurunkan eskalasi melalui kompromi, atau mempertahankan kebuntuan yang terus berlangsung.
Baca juga: IRGC: Korban Tewas Tentara AS Lampaui 200 Orang
Media Al Mayadeen juga menilai luas wilayah Iran yang mencapai sekitar 1,65 juta kilometer persegi, kondisi geografis yang didominasi pegunungan, serta populasi sekitar 90 juta jiwa menjadikan setiap rencana operasi darat maupun upaya menguasai Selat Hormuz sebagai langkah yang sangat berisiko dan mahal bagi jalur logistik Amerika Serikat.
Sementara itu, media Rai Al Youm, dengan menyinggung kesepakatan kerja sama nuklir antara Washington dan Riyadh, menyatakan bahwa sanksi terhadap Iran selama bertahun-tahun bukan semata-mata dipicu oleh persoalan teknologi nuklir, melainkan berkaitan dengan orientasi politik Republik Islam Iran.
Ketegangan Meluas ke Kawasan Baru
Krisis kini melampaui kawasan Teluk Persia dengan munculnya front diplomatik dan militer baru. Serangan militer Ukraina terhadap sebuah kapal dagang Iran di Laut Kaspia beberapa hari lalu memicu reaksi keras Teheran. Selain memanggil Kuasa Usaha Ukraina, Menteri Luar Negeri Iran, Sayyid Abbas Araghchi, dalam pembicaraannya dengan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mendesak Dewan Keamanan PBB mengambil tindakan tegas dan meminta para pelaku dimintai pertanggungjawaban.
Di saat yang sama, Juru Bicara IRGC memperingatkan bahwa apabila Inggris ikut mendukung tindakan Amerika Serikat, negara tersebut akan menjadi sasaran yang sah bagi Iran. Peringatan keras juga disampaikan kepada Israel mengenai konsekuensi apabila kembali memulai perang.
Baca juga: IRGC: Iran Hancurkan 11 Pesawat Militer AS di Pangkalan Regional
Komandan Pasukan Quds, Brigjen Esmail Qaani, juga meminta Arab Saudi mengambil pelajaran dari kebijakan Amerika Serikat yang dinilainya mahal dan penuh risiko. Ia menyerukan Riyadh mengakhiri blokade terhadap Yaman yang telah berlangsung selama 11 tahun serta mengalihkan sumber daya yang selama ini digunakan untuk menekan negara tersebut menjadi bantuan bagi penyelamatan Gaza.
Rangkaian perkembangan dalam 24 jam terakhir menunjukkan bahwa strategi Iran yang berfokus pada penghancuran sasaran-sasaran strategis serta pengurasan kemampuan pertahanan udara Amerika Serikat mulai memengaruhi kalkulasi Washington. Di tengah pernyataan CENTCOM bahwa operasi militernya terus berlanjut, pembatalan penerbangan sejumlah maskapai internasional, termasuk ITA Airways, menuju kawasan serta meningkatnya kekhawatiran yang tercermin dalam analisis berbagai lembaga kajian Amerika menunjukkan bahwa konflik ini telah berkembang menjadi salah satu tantangan militer dan strategis paling kompleks yang dihadapi Washington dalam beberapa dekade terakhir. []
Baca juga: The Atlantic: AS Harus Akui Kekalahan dalam Perang Melawan Iran







