Internasional
IRGC Rilis Rincian Aset Udara Strategis AS yang Dihancurkan dalam Operasi Nasr 2

Ahlulbait Indonesia, 26 Juli 2026 – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memaparkan rincian aset udara Amerika Serikat yang diklaim berhasil dihancurkan dalam Operasi “Nasr 2”, rangkaian serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) Angkatan Bersenjata Iran terhadap sejumlah pangkalan militer AS di kawasan.
Mengutip Fars News Agency pada Minggu (26/7/2026), Juru Bicara IRGC Brigadir Jenderal Hossein Mohbi mengatakan bahwa selama 15 hari pertempuran, 8–22 Juli 2026, Angkatan Bersenjata Iran menghancurkan 11 pesawat dan helikopter militer AS yang berpangkalan di kawasan, serta 17 drone pengintai dan operasional, delapan di antaranya disebut masih baru.
Aset yang dihancurkan meliputi satu jet tempur F-15 di dalam shelter, satu pesawat patroli maritim P-8 Poseidon, satu pesawat angkut strategis C-17 Globemaster III, delapan pesawat pengisian bahan bakar di udara (tanker), serta sejumlah helikopter militer.
Baca juga: The Guardian: Rudal Iran Makin Mematikan, Pertahanan THAAD AS Jebol

Menyasar Jaringan Pendukung Operasi Udara
Fars menilai sasaran operasi tidak terbatas pada pesawat tempur, tetapi juga mencakup elemen penting jaringan intelijen, logistik, dan dukungan udara Amerika di Asia Barat.
Dalam sistem operasi militer AS, jet tempur bergantung pada pesawat pengintai untuk memperoleh data intelijen, pesawat tanker untuk memperpanjang jangkauan misi, pesawat angkut untuk mobilitas personel dan logistik, serta drone untuk pengawasan berkelanjutan. Karena itu, serangan terhadap berbagai jenis aset tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kemampuan operasional jaringan udara Amerika secara keseluruhan.
F-15: Pilar Superioritas Udara
Di antara aset yang disebutkan, F-15 merupakan salah satu jet tempur paling ikonik milik Amerika. Beroperasi sejak dekade 1970-an, pesawat ini menjadi tulang punggung superioritas udara Washington dan sekutunya.
Varian terbaru seperti F-15E Strike Eagle mampu menjalankan misi superioritas udara sekaligus serangan presisi ke sasaran darat. Dengan kecepatan lebih dari 2,5 kali kecepatan suara, radar modern, serta persenjataan udara-ke-udara dan bom berpemandu, F-15 masih menjadi salah satu platform tempur utama AS.
Baca juga: Panglima Iran Tetapkan Doktrin Balasan: Satu Warga Gugur Dibalas Satu Militer AS

P-8 Poseidon: Mata Intelijen di Laut
IRGC juga memasukkan P-8 Poseidon dalam daftar aset yang diklaim dihancurkan. Pesawat patroli maritim berbasis Boeing 737 ini berperan dalam pengintaian, peperangan antikapal selam, pemantauan aktivitas maritim, serta dukungan intelijen bagi armada Angkatan Laut AS.
Keberadaannya dinilai penting bagi operasi Amerika di Teluk Persia, Laut Oman, dan Samudra Hindia karena menyediakan informasi yang menjadi dasar berbagai operasi laut dan udara.
C-17: Penopang Logistik Strategis
Pesawat angkut C-17 Globemaster III juga termasuk dalam daftar tersebut. Meski bukan pesawat tempur, C-17 menjadi tulang punggung mobilisasi pasukan, kendaraan tempur, dan logistik dengan kapasitas angkut sekitar 77 ton serta kemampuan beroperasi dari landasan pendek.
Di Asia Barat, pesawat ini menjadi salah satu instrumen utama untuk menjaga kelancaran distribusi logistik antarpangkalan militer Amerika.
Pesawat Tanker dan Drone
IRGC juga menghancurkan delapan pesawat tanker yang digunakan untuk mengisi bahan bakar pesawat tempur di udara, termasuk tipe KC-135 Stratotanker dan KC-46 Pegasus. Kehilangan armada tanker dinilai dapat mengurangi intensitas penerbangan sekaligus membatasi jangkauan operasi udara Amerika.
Selain itu, Iran juga menghancurkan 17 drone pengintai dan operasional. Sebagian besar armada drone Amerika di kawasan terdiri atas sistem seperti MQ-9 Reaper, yang digunakan untuk pengawasan, pengumpulan intelijen, dan dalam sejumlah varian juga mampu melancarkan serangan presisi.
Helikopter Pendukung Operasi Darat
IRGC juga menyebut sejumlah helikopter Amerika turut dihancurkan, meski tidak merinci jumlah maupun jenisnya.
Fars mengidentifikasi platform utama yang biasa digunakan militer Amerika di kawasan, antara lain AH-64 Apache untuk serangan, UH-60 Black Hawk untuk angkut personel dan evakuasi medis, serta CH-47 Chinook untuk mobilisasi pasukan dan logistik.
Menekan Mata Rantai Operasi Amerika
Menurut Fars, kekuatan udara Amerika di Asia Barat dibangun sebagai satu sistem yang saling terhubung. Jet tempur bergantung pada pesawat tanker untuk memperpanjang jangkauan, P-8 dan drone menyediakan intelijen, sementara C-17 menopang mobilitas personel dan logistik.
Karena itu, penghancuran secara bersamaan terhadap pesawat tempur, pesawat pengintai, pesawat angkut, pesawat tanker, drone, dan helikopter tidak hanya mengurangi jumlah aset udara, tetapi juga berpotensi menekan mata rantai operasi militer Amerika di Asia Barat yang selama puluhan tahun menopang kehadiran Washington di kawasan. []
Baca juga: NYT: Pentagon Tutupi Tentara AS Terluka, Puluhan Dievakuasi ke Jerman







