Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Menantu Trump di Pusat Tiga Krisis Diplomasi AS

Published

on

Jared Kushner, menantu sekaligus utusan khusus Donald Trump, menghadapi tantangan diplomatik dalam menangani krisis Gaza, Iran, dan Ukraina.
Jared Kushner, menantu sekaligus utusan khusus Donald Trump, menghadapi tantangan diplomatik dalam menangani krisis Gaza, Iran, dan Ukraina.

Media ABI, 18 Agustus 2026 – Jared Kushner, menantu sekaligus utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump, mencatat sejumlah keberhasilan diplomatik, termasuk Perjanjian Abraham dan kesepakatan perdagangan. Namun, ketika menghadapi krisis yang lebih rumit di Gaza, Iran, dan Ukraina, pendekatan yang bertumpu pada utusan khusus mulai menunjukkan keterbatasannya.

Menurut Fars News Agency pada Selasa (18/8/26), laporan Newsweek mengulas peran Kushner dalam kebijakan luar negeri AS sekaligus risiko yang muncul dari ketergantungan Washington pada utusan khusus di tengah melemahnya peran diplomasi institusional.

Baca juga: Pejabat Iran kepada Reuters: Kami Tak Akan Menunggu AS Perpanjang Blokade

Laporan tersebut menyoroti bahwa hampir separuh posisi duta besar dan pejabat diplomatik senior AS di luar negeri masih kosong. Sejumlah pakar memperingatkan bahwa ketergantungan pada utusan khusus tanpa dukungan kuat dari mesin diplomasi dapat mengubah keberhasilan jangka pendek menjadi kegagalan jangka panjang.

Kushner telah mendampingi Trump dalam dua masa kepresidenannya sebagai negosiator yang dipercaya menangani sejumlah persoalan sulit. Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara atau USMCA dan Perjanjian Abraham yang membuka normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab menjadi contoh keberhasilannya.

Kushner dinilai mampu membawa pihak-pihak yang berseberangan ke meja perundingan dan mendorong tercapainya kesepakatan. Namun, pola tersebut menghadapi persoalan berbeda ketika berhadapan dengan konflik yang memiliki kepentingan mendasar dan tujuan akhir yang saling bertentangan.

Dalam perkembangan terbaru, Kushner melakukan perundingan dengan para pemimpin Hamas dan bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menghidupkan kembali perundingan mengenai Gaza. Pada saat yang sama, tenggat 60 hari perundingan Iran dan Amerika Serikat telah berakhir tanpa kemajuan dalam persoalan nuklir maupun Selat Hormuz.

Baca juga: Senator AS: Kami Masih Belum Tahu Mengapa Berperang dengan Iran

Para analis menilai konsentrasi terlalu besar pada utusan khusus menjadi kelemahan strategis bagi Washington, terutama ketika struktur diplomasi AS sendiri mengalami kekosongan.

American Foreign Service Association melaporkan bahwa hingga 10 Agustus, hampir separuh posisi duta besar dan pejabat diplomatik senior AS di luar negeri masih kosong. Rusia, Ukraina, dan Iran, tiga negara yang berada di pusat sejumlah konflik besar dunia, saat ini tidak memiliki duta besar AS yang ditugaskan secara khusus.

Lebih dari 200 pejabat senior dinas luar negeri, termasuk sejumlah diplomat yang memiliki keahlian terkait Iran, juga telah tersingkir dari jabatan mereka dalam gelombang pemecatan di Departemen Luar Negeri AS.

Dalam situasi tersebut, Kushner menghadapi kebuntuan mendasar di Gaza, Iran, dan Ukraina. Pihak-pihak yang terlibat memiliki perbedaan tajam mengenai hasil akhir konflik, sementara para pemimpin yang berhadapan memiliki kepentingan kuat untuk mempertahankan posisi masing-masing.

Kondisi seperti itu membutuhkan diplomasi yang lebih panjang untuk mempertahankan jalur komunikasi, menguji kemungkinan kompromi, dan menyelaraskan langkah dengan para sekutu. Menurut para pakar, proses tersebut jauh lebih penting daripada mengejar kesepakatan cepat yang belum tentu bertahan.

Baca juga: Serangan Iran ke Bahrain Memicu Krisis USS Abraham Lincoln

Amerika Serikat tetap membutuhkan diplomat karier

Para pakar menilai Kushner sebagai utusan khusus mampu membuka jalan bagi pihak-pihak yang berseberangan untuk bertemu dan mencapai kesepakatan. Namun, Amerika Serikat tetap membutuhkan diplomat karier untuk memastikan kesepakatan tersebut dapat dipertahankan setelah utusan khusus meninggalkan proses.

Pengalaman diplomatik menunjukkan bahwa keberhasilan yang bertahan dalam jangka panjang biasanya lahir dari perpaduan antara utusan khusus dan dukungan mesin diplomasi yang kuat serta terlembaga.

Kushner mungkin dapat membuka pintu dan mempercepat tercapainya kesepakatan. Namun, tanpa institusi diplomatik yang mampu menjaga, mengawal, dan mengembangkan hasil kesepakatan tersebut, keberhasilan itu berisiko ikut berakhir ketika sang utusan meninggalkan meja perundingan. []

Baca juga: Iran Bantah Klaim AS soal Selat Hormuz, Kapal Wajib Berizin untuk Melintas