Internasional
Serangan Iran ke Bahrain Memicu Krisis USS Abraham Lincoln

Media ABI, 15 Agustus 2026 — New York Times melaporkan bahwa persoalan serius yang membelit kapal induk USS Abraham Lincoln bermula sejak jam-jam pertama perang dengan Iran, ketika serangan rudal dan drone Iran menghancurkan pangkalan Amerika Serikat di Bahrain dan memutus salah satu jalur utama dukungan logistik bagi kapal-kapal perang AS di kawasan. Fars News Agency mengutip laporan tersebut pada Sabtu (15/8/26), yang ditulis John Ismay, mantan perwira Angkatan Laut AS.
Menurut New York Times, serangan Iran sebagai respons terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran menghancurkan sebagian besar fasilitas Angkatan Laut AS di Bahrain. Selama puluhan tahun, pangkalan tersebut menjadi pusat utama dukungan bagi armada Amerika di kawasan.
Baca juga: IRGC Lancarkan Serangan Terpusat terhadap USS Abraham Lincoln
Hilangnya fasilitas tersebut memaksa Angkatan Laut AS mencari alternatif untuk mempertahankan operasi terhadap Iran sekaligus menjaga blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan negara tersebut.
Menurut laporan itu, Pentagon kemudian memindahkan pusat logistik ke Diego Garcia akibat ancaman serangan Iran terhadap sejumlah pelabuhan lain di kawasan. Pulau kecil yang berada di bawah kendali Inggris tersebut terletak di Samudra Hindia, di selatan Maladewa, sekitar 2.200 mil dari Teluk Oman, tempat dua kelompok tempur kapal induk Amerika menjalankan operasi.
New York Times menyebut perubahan jalur logistik tersebut sebagai salah satu faktor utama yang memicu berbagai persoalan pada kapal-kapal induk yang mendukung operasi Amerika terhadap Iran.
Persoalan tersebut kini menjadi perhatian serius sejumlah senator Partai Demokrat. Senator Richard Blumenthal dalam surat kepada Menteri Perang AS Pete Hegseth menyampaikan kekhawatiran mengenai kekurangan kebutuhan dasar serta memburuknya kondisi kesehatan mental sekitar 5.000 pelaut USS Abraham Lincoln. Para pelaut tersebut disebut telah berada di laut selama hampir sembilan bulan tanpa satu hari pun cuti.
New York Times melaporkan bahwa selama periode tersebut USS Abraham Lincoln tidak memperoleh akses ke pelabuhan yang memungkinkan para pelaut turun dari kapal selama beberapa hari untuk beristirahat dan mengurangi tekanan akibat operasi yang berlangsung tanpa henti.
Bahrain dan Fujairah di Uni Emirat Arab sebelumnya menjadi dua pelabuhan yang biasa digunakan kapal-kapal perang Amerika untuk berlabuh. Namun, kedua lokasi tersebut kini berada dalam jangkauan rudal Iran sehingga praktis tidak dapat digunakan.
Menurut peraturan Angkatan Laut AS, komandan kapal perang dapat mengajukan “drink day” bagi awak yang telah berada di laut selama sedikitnya 45 hari berturut-turut. Berdasarkan ketentuan tersebut, awak USS Abraham Lincoln secara teoritis sudah memenuhi syarat untuk memperoleh lima hari tersebut. Juru bicara Armada Kelima Angkatan Laut AS tidak menanggapi permintaan komentar New York Times mengenai persoalan itu.
Kekhawatiran senator dan keluarga para pelaut tersebut bertolak belakang dengan sikap Presiden Donald Trump. Dalam pernyataan pada Jumat di sebuah pangkalan udara di Maryland, Trump menepis kekhawatiran mengenai lamanya masa tugas kapal induk tersebut.
Baca juga: Krisis USS Abraham Lincoln, Harga Perang Berkepanjangan AS terhadap Iran
“Kapalku itu sekarang atau dalam waktu sangat dekat sedang bergerak, dan kapal lain yang sangat mirip akan menggantikannya,” kata Trump.
Ketika ditanya apakah masa penugasan kapal induk telah berlangsung terlalu lama, Trump menjawab, “Tidak, tidak, tidak. Bahkan belum cukup lama.”
Pete Hegseth juga mengatakan pada Kamis ketika ditanya mengenai berapa lama Amerika Serikat akan mempertahankan blokade di Selat Hormuz bahwa Washington dapat mempertahankannya “selama diperlukan, tanpa batas waktu”.
New York Times juga menyebut penggunaan Diego Garcia sebagai pusat logistik baru Angkatan Laut AS mungkin menjadi salah satu alasan Iran meluncurkan dua rudal balistik jarak menengah ke arah pulau tersebut pada 20 Maret.
Laporan tersebut kemudian membandingkan masa tugas USS Abraham Lincoln dengan sejarah penugasan panjang kapal induk Amerika. Dalam kondisi damai, penugasan kapal perang biasanya berlangsung sekitar enam bulan. Namun, sejumlah kapal mengalami masa tugas jauh lebih panjang setelah serangan 11 September.
USS Gerald R. Ford bahkan mencatat penugasan selama 326 hari, yang menjadi rekor masa tugas terpanjang sebuah kapal induk Amerika sejak Perang Vietnam.
Baca juga: The Guardian Ungkap Krisis Kesehatan Mental Awak USS Abraham Lincoln
New York Times menilai terdapat perbedaan penting antara kondisi tersebut dan situasi kapal-kapal Amerika yang kini terlibat dalam perang dengan Iran. Pada masa Perang Vietnam, kapal-kapal Amerika yang beroperasi di kawasan dapat menuju pangkalan Teluk Subic di Filipina untuk memberi waktu istirahat kepada awak sekaligus mengisi kembali amunisi, makanan, dan bahan bakar. Pangkalan tersebut hanya berjarak sekitar dua hari dari wilayah operasi.
Pilihan serupa kini tidak tersedia bagi kapal-kapal Amerika yang terlibat dalam perang dengan Iran.
Mike Levin, anggota Kongres dari Partai Demokrat yang mewakili California dan memiliki sejumlah pelaut USS Abraham Lincoln sebagai konstituennya, mengatakan kepada New York Times bahwa keluarga para pelaut telah menghubunginya untuk menyampaikan kekhawatiran.
“Persoalannya kembali pada gambaran besarnya. Sebenarnya apa misi di sini? Keluarga-keluarga ingin mengetahui hal itu,” kata Levin. []
Baca juga: Krisis Hantam USS Abraham Lincoln dari Kekurangan Makanan Hingga Bunuh Diri







