Internasional
Pentagon Tolak Bayar Tunjangan Keluarga Tentara AS yang Tewas dalam Perang Iran

Media ABI, 8 September 2026 – Kehilangan anggota keluarga di medan perang ternyata belum menjadi akhir persoalan bagi sejumlah keluarga tentara Amerika Serikat. Setelah ditinggalkan oleh anggota keluarga yang tewas dalam perang melawan Iran, mereka kini harus berhadapan dengan penolakan Pentagon untuk membayarkan tunjangan perang tertentu.
Kasus ini mengemuka setelah Libby Klinner, istri seorang pilot AS berusia 33 tahun yang tewas pada Maret lalu dalam perang melawan Iran, mengungkapkan pengalamannya kepada Associated Press.
Baca juga: Iran Kecam Kanada, Sebut Terlibat Pelanggaran Hukum dan Pemutarbalikan Fakta
Menurut laporan Fars News Agency, Selasa (8/9/2026), sebagian keluarga tentara Amerika yang gugur dalam perang tersebut belum menerima sejumlah tunjangan yang berkaitan dengan status kematian anggota keluarga mereka.
Klinner mengatakan militer AS menyampaikan bahwa keluarganya tidak memenuhi syarat untuk menerima extraordinary war pay atau tunjangan perang khusus. Alasannya, Kongres Amerika Serikat belum secara resmi menyatakan perang terhadap Iran.
Penjelasan itu sulit diterima Klinner. Suaminya, kata dia, meninggal dalam sebuah perang yang nyata. Namun, ketika keluarganya mengajukan hak atas tunjangan, status hukum konflik tersebut justru menjadi alasan untuk menolaknya.
“Suami saya meninggal dalam perang yang nyata, tetapi sekarang mereka mengatakan kepada saya bahwa tidak ada perang,” demikian inti keluhan Klinner dalam wawancaranya dengan Associated Press.
Masalah tunjangan bukan satu-satunya keluhan yang muncul dari keluarga personel militer AS yang terlibat dalam perang melawan Iran. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah keluarga juga mempertanyakan kebijakan Pentagon terkait penugasan dan kondisi pasukan.
Baca juga: Iran Peringatkan Kapal AS yang Terlibat Blokade
Keluarga awak kapal induk USS Abraham Lincoln, misalnya, sebelumnya memprotes perpanjangan masa penugasan yang mereka nilai tidak lazim. Mereka juga mengeluhkan kondisi kehidupan di atas kapal, termasuk persoalan pasokan dan makanan.
Keluhan lain menyangkut penanganan personel yang mengalami cedera. Sejumlah keluarga menilai Pentagon berupaya mengecilkan tingkat cedera yang dialami para prajurit dan enggan mengklasifikasikan mereka sebagai korban perang.
Di tengah perang yang terus menuntut keterlibatan personel Amerika, keluarga para prajurit kini menghadapi persoalan yang berbeda setelah mereka pulang dari medan konflik, atau tidak pernah pulang sama sekali. Bagi sebagian keluarga, perdebatan tentang status hukum perang itu bukan lagi persoalan terminologi. Ia menentukan apakah mereka memperoleh hak yang dijanjikan negara kepada mereka yang kehilangan anggota keluarganya di medan perang. []
Baca juga: Iran Mampu Lumpuhkan Musuh di Titik Mana Pun







