Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Korea Utara Ancam Gunakan Senjata Nuklir terhadap AS dan Korsel

Published

on

Korea Utara memperingatkan Amerika Serikat dan Korea Selatan terkait kemungkinan penggunaan senjata nuklir dengan merujuk pada kebijakan kekuatan nuklir negara tersebut.
Korea Utara memperingatkan Amerika Serikat dan Korea Selatan terkait kemungkinan penggunaan senjata nuklir dengan merujuk pada kebijakan kekuatan nuklir negara tersebut.

Media ABI, 17 September 2026 – Korea Utara kembali memperingatkan Amerika Serikat dan Korea Selatan mengenai kemungkinan penggunaan senjata nuklir jika kedua negara melakukan tindakan yang dianggap mengancam keamanan dan kepemimpinan Pyongyang.

Baca juga: Ansarullah Bantah Tuduhan Saudi soal Ancaman terhadap Makkah

Peringatan itu disampaikan Kementerian Pertahanan Korea Utara dengan merujuk pada undang-undang negara tersebut tentang kebijakan kekuatan nuklir. Kantor berita TASS melaporkan pada Rabu, 16 September, bahwa aturan yang disahkan pada 2022 memberi Korea Utara hak menggunakan senjata nuklir apabila terjadi serangan terhadap kepemimpinan negara atau sistem komando dan kendali nuklirnya. Ketentuan serupa berlaku jika terdapat ancaman penggunaan senjata nuklir atau senjata pemusnah massal lainnya terhadap Korea Utara.

Kantor Berita Pusat Korea, KCNA, mengutip juru bicara Kementerian Pertahanan yang mengatakan ancaman dari pihak musuh, termasuk serangan dan penggunaan senjata pemusnah massal, dapat menjadi tantangan keamanan paling serius bagi Pyongyang.

“Ancaman seperti itu dari pihak musuh mencakup serangan dan penggunaan senjata pemusnah massal, yang dapat dipandang sebagai tantangan keamanan paling serius bagi kami sehingga perlu menerapkan ketentuan terkait dalam undang-undang kebijakan kekuatan nuklir negara,” kata pejabat tersebut.

Baca juga: Kekacauan di Pentagon Hambat Agenda Keamanan AS

Pyongyang juga meminta Washington dan Seoul menghitung konsekuensi dari penerapan ketentuan tersebut serta menganggap peringatan Korea Utara sebagai peringatan serius.

Pernyataan tersebut muncul beberapa hari setelah pertemuan Komite Penanggulangan Senjata Pemusnah Massal Amerika Serikat dan Korea Selatan pada 10 September. Menurut Pyongyang, kedua negara dalam pertemuan itu menyepakati peningkatan pertukaran informasi, penguatan kemampuan respons bersama, dan penambahan latihan terkait.

Kementerian Pertahanan Korea Utara menilai langkah tersebut sebagai persiapan menghadapi kemungkinan penggunaan senjata nuklir, kimia, dan biologis terhadap negaranya. Pyongyang juga menyebut skenario serupa telah dilatih dalam latihan militer gabungan Freedom Shield yang digelar Amerika Serikat dan Korea Selatan. []

Baca juga: Anggota DPR AS Ajukan Pemakzulan Menteri Perang Trump