Internasional
IRGC Siap Serang Target Pilihan Publik Jika Gencatan Senjata Dilanggar

Ahlulbait Indonesia | 22 April 2026 — Komandan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigjen Sayyid Majid Mousavi, menyatakan militernya siap melancarkan serangan ke target yang ditentukan publik jika gencatan senjata kembali dilanggar.
Pernyataan itu disampaikan Mousavi dalam pesan kepada rakyat Iran yang diputar di berbagai alun-alun kota pada Selasa waktu setempat. Pesan tersebut muncul di tengah mobilisasi publik lebih dari 50 hari sebagai dukungan terhadap angkatan bersenjata dalam konflik yang oleh Teheran disebut sebagai “perang yang dipaksakan ketiga”.
Mousavi mengapresiasi konsistensi masyarakat yang terus hadir di ruang publik. Ia menegaskan kesiapsiagaan militer tetap terjaga, termasuk selama masa gencatan senjata.
“Anak-anak Anda berdiri di samping peluncur rudal selama empat puluh hari dan malam, menunjukkan kepada dunia perlawanan terhadap arogansi global. Selama masa jeda militer, mereka tetap siaga untuk mempertahankan tanah ini dan peradaban kuno yang telah berusia ribuan tahun,” ujarnya, Rabu (22/4/2026), seperti dilaporkan Press TV.
Ia memastikan pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps berada dalam kondisi siap tempur untuk merespons setiap potensi agresi.
“Kami menegaskan komitmen. Jika setelah gencatan senjata musuh kembali melanggar dan menyerang, target kami akan mengikuti kehendak rakyat,” kata Mousavi.
Mousavi juga memperingatkan negara-negara di kawasan agar tidak terlibat dalam operasi militer terhadap Iran. Ia menekankan konsekuensi akan menyasar kepentingan strategis regional.
“Negara-negara di selatan harus memahami, jika wilayah dan sumber daya mereka digunakan oleh Amerika untuk menyerang Iran, produksi minyak di kawasan Asia Barat akan menghadapi risiko serius,” ujarnya.
Gencatan senjata dua pekan dijadwalkan berakhir pada Selasa malam di tengah kebuntuan pembicaraan lanjutan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengumumkan perpanjangan gencatan senjata secara sepihak.
Iran belum memberikan tanggapan resmi atas pengumuman tersebut. Namun Teheran menuntut agar blokade laut yang dinilai ilegal segera dihentikan oleh Amerika Serikat.
Konflik bersenjata antara Iran dan koalisi Amerika Serikat-Israel dimulai pada Februari. Pertempuran mereda setelah Washington menyetujui proposal 10 poin dari Iran sebagai dasar penghentian permanen konflik. Iran menilai Amerika Serikat berulang kali melanggar kesepakatan gencatan senjata. []







