Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

X Blokir Akun Jurnalis Iran, Kritik terhadap Perang AS-Israel Kian Dibatasi

Published

on

Pemblokiran akun-akun jurnalis Iran di X dinilai sebagai upaya sistematis membungkam kritik terhadap Barat. (Foto: Press TV)

Ahlulbait Indonesia | 21 April 2026 — Laporan sejumlah media internasional menyebut platform X menangguhkan sejumlah akun milik warga Iran yang vokal mengkritik perang AS-Israel. Langkah ini memicu kembali perdebatan soal kebebasan berekspresi di ruang digital yang sebelumnya diklaim sebagai “alun-alun global”.

Menurut Press TV pada Selasa, (21/4/2025), platform media sosial X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, dilaporkan melakukan penangguhan massal terhadap akun-akun yang menentang agresi AS-Israel terhadap Iran.

Akun terbaru yang diblokir adalah milik Ali Alizadeh, jurnalis dan podcaster asal Iran yang berbasis di Inggris, dengan nama pengguna @Jedaal. Penangguhan dilakukan tanpa pemberitahuan maupun penjelasan resmi.

Kasus ini bukan yang pertama. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah akun lain dengan sikap serupa juga dihapus, termasuk aktivis media sosial Arya (@AryJeay) serta komentator hubungan internasional dan pembawa acara televisi Mehdi Khanalizadeh (@Khanalizadeh_IR). Keduanya mengalami nasib serupa tanpa peringatan.

Kebijakan tersebut menuai kritik luas. Pemilik X, Elon Musk, bersama platformnya telah membungkam suara-suara Iran dan kelompok pro-perlawanan yang menentang kebijakan luar negeri Barat dan perang di berbagai kawasan.

Akun-akun yang diblokir dikenal aktif mengkritik perang terhadap Iran dan Lebanon, serta menyoroti dugaan pembersihan etnis di Gaza dan Tepi Barat.

Guru Besar Universitas Teheran, Sayyid Mohammad Marandi, mengecam tindakan tersebut. Dan menyebut penangguhan ini sebagai bagian dari upaya sistematis untuk membungkam suara Iran.

“Setelah akun @Jedaal diblokir, terlihat jelas bahwa X dan Elon Musk secara bertahap menutup ruang bagi suara Iran yang menentang pembersihan etnis, genosida, dan dominasi kekuatan besar,” tulisnya.

Hingga kini, X belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait gelombang penangguhan tersebut. Kondisi ini memperuncing kritik terhadap konsistensi platform dalam menerapkan kebijakan moderasi konten.

Sejumlah pengguna menilai X menerapkan aturan secara selektif dan menyasar suara dari negara-negara Global South, terutama yang kritis terhadap koalisi perang AS-Israel.

Sebelumnya, platform ini juga pernah membatasi media Iran seperti Press TV, yang terjadi di tengah tekanan kelompok lobi pro-Israel di Amerika Serikat.

Akademisi Inggris David Miller menilai langkah tersebut sebagai pola yang jelas dan sistematis. Ia menyebut sejumlah tokoh Iran, termasuk pejabat dan analis, telah lebih dulu menjadi target.

“Ini kampanye politik terkoordinasi untuk membungkam semua suara yang menentang kebijakan perubahan rezim yang didukung kelompok Zionis di Teheran,” tulisnya. Ia juga menyoroti pencabutan status verifikasi akun pemerintah Iran serta perubahan simbol bendera pada platform tersebut.

Miller menegaskan, jika X ingin mempertahankan klaim sebagai ruang publik global, maka akun-akun yang diblokir seharusnya dipulihkan. []