Ikuti Kami Di Medsos

Opini

The Guardian: Rudal Iran Makin Mematikan, Pertahanan THAAD AS Jebol

Published

on

Kemajuan teknologi rudal Iran dan adaptasi taktik perang modern dinilai meningkatkan ancaman terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan.
Kemajuan teknologi rudal Iran dan adaptasi taktik perang modern dinilai meningkatkan ancaman terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan. (Foto: Farsnews Agency)

Ahlulbait Indonesia, 25 Juli 2026 – Harian Inggris The Guardian menilai kemampuan serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah telah mengalami lompatan signifikan.

Dalam artikel berjudul “How Chinese Tech and Russian Tactics Are Aiding Iran’s Bombing of US Bases”, yang ditulis Dan Sabbagh dan dipublikasikan pada 24 Juli 2026, media tersebut menyebut peningkatan akurasi dan daya hancur rudal Iran mulai menggeser keseimbangan militer di kawasan sekaligus menguji efektivitas sistem pertahanan udara Amerika.

Menurut laporan itu, kemajuan tersebut ditopang oleh perkembangan teknologi rudal Iran, pemanfaatan citra satelit, serta adaptasi taktik yang berkembang dalam perang Rusia-Ukraina. Kombinasi ketiga faktor itu dinilai membuat serangan Iran semakin presisi, lebih destruktif, dan lebih sulit diantisipasi.

Baca juga: The Atlantic: AS Harus Akui Kekalahan dalam Perang Melawan Iran

Sebagai contoh, The Guardian menyoroti serangan terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti (Al-Salti) di Yordania yang berada di bawah perlindungan sistem pertahanan rudal THAAD milik Amerika Serikat. Berdasarkan analisis citra satelit, sejumlah fasilitas di pangkalan tersebut mengalami kerusakan berat, sehingga Pentagon dikabarkan melakukan evaluasi terhadap efektivitas sistem pertahanannya dalam menghadapi ancaman rudal terbaru.

Laporan itu juga mengutip analisis lembaga pemikir Amerika Foundation for Defense of Democracies (FDD) yang menilai serangan-serangan Iran tidak semata ditujukan untuk menghancurkan sasaran militer, tetapi merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk meningkatkan tekanan terhadap negara-negara yang menjadi tuan rumah pasukan Amerika. Dengan meningkatkan risiko keamanan sekaligus biaya politik, Teheran dinilai berupaya mempersempit ruang gerak militer Washington di kawasan.

Penilaian tersebut sejalan dengan perkembangan di lapangan. Dalam beberapa hari terakhir, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan telah memasukkan pangkalan-pangkalan Amerika di Yordania, yang menjadi lokasi penempatan personel dan peralatan militer AS, ke dalam daftar sasaran operasinya dan mengklaim telah melancarkan serangkaian serangan terhadap fasilitas tersebut.

Baca juga: Panglima Iran Tetapkan Doktrin Balasan: Satu Warga Gugur Dibalas Satu Militer AS

Pandangan senada disampaikan Jenderal purnawirawan Angkatan Udara Amerika Serikat David Deptula. Dalam wawancara dengan Fox News, ia menilai serangan terhadap Pangkalan Udara Azraq tidak dapat dipahami semata sebagai operasi militer. Menurutnya, Iran sedang menyampaikan pesan strategis bahwa setiap negara yang memfasilitasi kehadiran militer Amerika juga harus bersiap menanggung konsekuensi politik dan keamanan.

Bagi The Guardian, perkembangan ini menandai perubahan yang lebih besar daripada sekadar peningkatan kemampuan rudal Iran. Serangan-serangan yang semakin presisi menunjukkan bahwa persaingan Iran dan Amerika kini tidak lagi hanya ditentukan oleh keunggulan persenjataan, tetapi juga oleh kemampuan masing-masing pihak membentuk kalkulasi keamanan negara-negara di Timur Tengah.

Dalam konteks itu, setiap keberhasilan menembus pertahanan lawan tidak hanya bernilai taktis, melainkan juga membawa dampak strategis yang dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan di kawasan. []

Baca juga: Rudal Iran Hantam Gudang Amunisi dan Menara Pengawas Armada Kelima AS