Internasional
CNN: Ansarullah Kuasai Jalur Minyak Penting di Bab al-Mandab

Media ABI, 13 September 2026 – Dalam waktu sekitar 36 jam, Ansarullah merebut pelabuhan Mokha dan Pulau Perim atau Mayyun di kawasan Bab al-Mandab. CNN menyoroti cepatnya perubahan kendali di pesisir Laut Merah tersebut sekaligus mempertanyakan kesiapan pasukan Yaman yang selama bertahun-tahun mendapat dukungan Arab Saudi dan Amerika Serikat.
Menurut Fars News Agency pada Sabtu (12/9/26), CNN melaporkan permintaan dukungan udara dari komandan pasukan Yaman yang didukung Saudi mulai disampaikan pada Kamis pagi ketika Ansarullah bergerak menuju Mokha. Seorang sumber senior Yaman mengatakan kepada CNN bahwa dirinya menghubungi Komando Pusat Amerika Serikat dan mendapat informasi bahwa dukungan udara Saudi sedang menuju lokasi. Namun, bantuan itu tidak pernah tiba dan Mokha akhirnya jatuh ke tangan Ansarullah.
Baca juga: CIA Beberkan 71 Dokumen yang Selama Ini Dirahasiakan tentang 11 September
Beberapa jam kemudian, pada Jumat, pasukan Ansarullah mengambil alih Pulau Perim di pintu masuk Laut Merah. Pulau yang juga dikenal sebagai Mayyun tersebut berada di kawasan Bab al-Mandab, salah satu jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan jalur menuju Terusan Suez.
Jatuhnya Mokha Buka Persoalan Baru
CNN melihat perubahan kendali di pesisir Yaman sebagai perkembangan yang dapat memperluas medan konflik Iran-Amerika. Jika pengaruh Iran di Selat Hormuz berjalan beriringan dengan posisi Ansarullah yang semakin kuat di Bab al-Mandab, tekanan terhadap jalur perdagangan energi dunia dapat meningkat.
Bab al-Mandab memang tidak sepenting Hormuz dalam lalu lintas minyak dunia, tetapi jutaan barel minyak tetap melewati kawasan itu setiap hari. Sejak perang Iran berlangsung, posisi selat tersebut menjadi semakin penting karena berada di antara Laut Merah dan Teluk Aden.
Cepatnya jatuhnya Mokha juga memunculkan pertanyaan mengenai kondisi pasukan yang berada di bawah dukungan Saudi. Seorang sumber regional mengatakan kepada CNN bahwa kekalahan itu bukan terutama akibat lemahnya pasukan di lapangan, melainkan kegagalan pengambilan keputusan di Washington dan Riyadh. Sumber tersebut menyebut persoalan kepemimpinan politik dan koordinasi Saudi-Amerika sebagai salah satu penyebabnya.
Muhammad al-Basha, mantan penasihat pemerintah Amerika Serikat, memberikan penilaian berbeda. Menurutnya, persoalan utama berada pada tidak adanya kesatuan politik serta struktur komando dan kendali yang efektif di Yaman.
Sumber Barat yang dikutip CNN juga menggambarkan kondisi pasukan Yaman yang didukung Saudi telah mengalami pelemahan serius. Jumlah personel yang tercatat dalam daftar resmi disebut jauh lebih besar dibandingkan kekuatan yang benar-benar tersedia di lapangan.
Persoalan itu semakin rumit setelah Uni Emirat Arab menarik pasukannya dari Yaman pada Januari. UEA sebelumnya menjadi bagian dari koalisi yang dipimpin Saudi. Setelah penarikan tersebut, Saudi disebut tidak mengisi kembali sejumlah posisi yang ditinggalkan pasukan Emirat.
Baca juga: Rusia Tegaskan Perkuat Hubungan dengan Iran
Amr al-Baidh dari Dewan Transisi Selatan Yaman menyebut kondisi itu sebagai akibat dari lemahnya strategi dan manajemen.
Saudi Minta Bantuan, Trump Tak Turun Tangan
CNN juga melaporkan bahwa militer Saudi telah berada dalam status siaga penuh sekitar tiga pekan sebelum jatuhnya Mokha. Namun, sejumlah personel penting dalam struktur komando udara disebut tidak ditempatkan.
Seorang sumber Barat bahkan mengatakan pasukan Yaman yang didukung Saudi akhirnya menghadapi serangan tanpa dukungan yang mereka harapkan.
Pada Kamis, menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dua kali berbicara dengan Donald Trump dan meminta Amerika menyerang Ansarullah. Trump disebut memilih tidak melakukan intervensi langsung.
Gedung Putih menyatakan Amerika lebih berfokus pada perlindungan kepentingan keamanan nasionalnya sendiri dan mendorong negara-negara mitra di kawasan untuk mengambil peran lebih besar. Pada saat yang sama, lebih dari 100 penasihat militer Amerika dilaporkan berada di Saudi untuk memberikan dukungan informasi dan bantuan dalam penentuan sasaran.
Bagi CNN, jatuhnya Mokha dan Perim memperlihatkan persoalan yang lebih besar daripada hilangnya dua posisi di pesisir Yaman. Pasukan yang didukung Saudi dan Amerika ternyata menghadapi persoalan koordinasi, kepemimpinan dan kesiapan ketika berhadapan dengan serangan cepat Ansarullah.
Baca juga: Iran Kini Sasar Jalur Logistik Udara AS, Pertahanan Pangkalan Mulai Tertekan
Para analis yang dikutip CNN memperkirakan Ansarullah masih dapat bergerak ke arah timur. Jika penguasaan mereka atas wilayah dan aset strategis di pesisir Laut Merah berlanjut, posisi kelompok tersebut dalam konflik akan semakin kuat.
Perubahan di pesisir Yaman juga menambah tekanan terhadap dua jalur laut yang memiliki arti penting bagi perdagangan energi dunia. Di sebelah timur terdapat Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman, sementara Bab al-Mandab berada di pintu masuk Laut Merah.
Bagi Amerika dan sekutunya, persoalannya bukan lagi hanya bagaimana mempertahankan posisi di Yaman. Mereka juga harus menghitung konsekuensi jika dua jalur pelayaran strategis itu berada di bawah tekanan pada waktu yang sama. []
Baca juga: AS Seret China dalam Konflik dengan Iran







