Internasional
Iran Tak Akan Kembali Berunding dengan AS Sebelum Tuntutannya Dipenuhi

Media ABI, 23 Agustus 2026 — Iran belum melihat alasan untuk kembali ke meja perundingan dengan Amerika Serikat sebelum persoalan yang dianggap mendasar dalam kesepakatan sebelumnya mendapat kejelasan. Sikap itu membuat Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam hubungan Teheran dan Washington.
Menurut laporan Kayhan yang dikutip pada Minggu (23/8), persoalan tersebut kembali mencuat setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Teheran belum mengambil keputusan untuk memulai kembali perundingan dengan Amerika Serikat.
Bagi Iran, persoalannya bukan semata-mata kapan perundingan dimulai, melainkan apa yang bisa diperoleh dari perundingan tersebut.
Baca juga: Gagal Taklukkan Iran Melalui Militer, Trump Sulut Perang Baru
Sebelum perang pecah, perselisihan Teheran dan Washington terutama berkisar pada program nuklir Iran, tingkat pengayaan uranium, serta masa depan cadangan uranium yang dimiliki negara itu. Kini, beberapa bulan setelah konflik berlangsung, Selat Hormuz justru menjadi salah satu persoalan yang paling mendesak bagi Amerika Serikat.
Jalur pelayaran strategis itu menjadi kartu tawar yang tidak ingin dilepaskan Teheran tanpa imbalan yang dianggap sepadan. Sebelum perang, sekitar 130 hingga 140 kapal disebut melintasi Selat Hormuz setiap hari. Dalam beberapa pekan terakhir, lalu lintas tersebut dilaporkan merosot hingga sekitar sepersepuluh dari tingkat sebelumnya.
Upaya untuk memulihkan pelayaran, termasuk pengawalan kapal dan tekanan militer maupun diplomatik dari Amerika Serikat, belum menghasilkan kembalinya lalu lintas ke kondisi sebelum perang.
Teheran sendiri mengaitkan pembukaan kembali jalur tersebut dengan pelaksanaan kesepahaman yang dicapai pada Juni. Iran menilai sejumlah ketentuan dalam kesepahaman itu perlu dijalankan lebih dahulu, termasuk persoalan yang menyangkut pengelolaan dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa sengketa Iran dan Amerika Serikat tidak berhenti pada persoalan nuklir. Kesepakatan 14 poin yang sebelumnya menjadi dasar upaya penghentian konflik juga menyisakan sejumlah persoalan lain, antara lain mengenai pencabutan sanksi secara penuh dan berjangka panjang serta ketentuan yang berkaitan dengan Lebanon.
Baca juga: Menantu Trump di Pusat Tiga Krisis Diplomasi AS
Dalam posisi seperti itu, kembali berunding tanpa penyelesaian awal atas sejumlah persoalan tersebut dinilai berisiko bagi Teheran. Iran dapat kehilangan sebagian tekanan yang saat ini dimilikinya melalui Selat Hormuz, sementara imbalan politik dan ekonomi yang diharapkan belum tentu diperoleh.
Karena itu, keputusan untuk tidak terburu-buru kembali berunding dapat dibaca sebagai upaya mempertahankan posisi tawar sebelum memasuki meja perundingan. Pembicaraan teknis dengan Oman mengenai jalur pelayaran baru di Selat Hormuz pun oleh Araghchi ditegaskan sebagai persoalan yang berbeda dari perundingan dengan Washington.
Sikap hati-hati itu juga tidak terlepas dari pengalaman sebelumnya. Kegagalan kesepahaman yang pernah dicapai dengan Amerika Serikat telah memperkuat kelompok-kelompok di Iran yang sejak awal meragukan manfaat perundingan dengan Washington.
Baca juga: Iran Mengubah Cara Menjaga Langitnya Setelah Perang 12 Hari
Dengan demikian, bagi Teheran, persoalan yang dihadapi bukan hanya bagaimana kembali ke meja perundingan, melainkan bagaimana memastikan bahwa perundingan berikutnya tidak kembali berakhir tanpa jaminan pelaksanaan yang dianggap memadai.
Selat Hormuz dalam konteks ini bukan hanya jalur pelayaran. Ia telah berubah menjadi bagian dari perhitungan politik yang lebih besar, dan selama tuntutan Iran belum menemukan titik temu dengan kepentingan Amerika Serikat, Teheran tampaknya tidak melihat alasan untuk membuka seluruh kartu tawarnya terlalu cepat. []
Baca juga: Baqaei: Kanada Tim Cadangan AS dalam Perang Melawan Iran







