Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Mantan Komandan CENTCOM: Pangkalan AS di Timur Tengah Tak Lagi Bisa Digunakan

Published

on

Petraeus menilai rudal dan drone Iran telah menciptakan ancaman baru bagi pangkalan AS dan infrastruktur energi kawasan.
Mantan Komandan CENTCOM David Petraeus menyebut sejumlah pangkalan militer AS di Asia Barat tidak lagi dapat digunakan setelah serangan Iran.

Media ABI, 21 Agustus 2026 — Mantan Komandan Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM David Petraeus mengatakan sejumlah pangkalan militer Amerika di Asia Barat tidak lagi dapat digunakan setelah berulang kali menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran.

Dalam wawancara yang dikutip Fars News Agency pada Kamis, 20 Agustus 2026, Petraeus ditanya mengenai kemampuan Iran yang masih paling mengkhawatirkannya, termasuk rudal, drone, ranjau dan ancaman terhadap pelayaran. Menurutnya, semua unsur tersebut saling berkaitan. Namun, kondisi pangkalan Amerika menjadi persoalan yang paling menonjol.

Baca juga: Iran: Trump Gunakan Perang Ekonomi untuk Alihkan Krisis Finansial AS

“Saya pikir ini merupakan kombinasi dari semuanya. Yang paling penting, pangkalan-pangkalan kami sebelumnya tidak lagi dapat digunakan,” kata Petraeus.

Petraeus kemudian menunjuk Pangkalan Udara Al Udeid di luar Doha, Qatar, yang selama ini menjadi salah satu markas penting CENTCOM. Menurutnya, komandan CENTCOM tidak lagi menjalankan operasi dari markas tersebut karena fasilitasnya sudah tidak dapat digunakan.

“Semua orang tahu bahwa komandan CENTCOM tidak lagi menjalankan operasi dari markas sebelumnya di Pangkalan Udara Al Udeid di luar Doha. Tempat itu tidak lagi dapat digunakan,” ujarnya.

Petraeus mengatakan sekitar separuh fasilitas Al Udeid berada di atas permukaan tanah. Dia juga mengingat kembali fasilitas senilai 100 juta dolar AS yang dibangun Qatar untuk Amerika Serikat dan pernah diresmikannya.

“Itu merupakan fasilitas senilai 100 juta dolar yang sangat bagus yang dibangun Qatar untuk kami. Saya yang meresmikannya dan sekarang tampaknya ada beberapa lubang di atapnya,” katanya.

Baca juga: Pentagon Terus Perbarui Data Korban Militer AS dalam Perang Iran

Menurut Petraeus, pusat operasi udara gabungan juga tidak lagi dijalankan dari lokasi tersebut. Kondisi serupa, menurutnya, terjadi pada sejumlah markas Amerika lainnya. Dia juga menyebut Iran telah berulang kali mengumumkan serangan terhadap markas komponen maritim CENTCOM di Bahrain.

Petraeus menilai perkembangan tersebut berkaitan dengan perubahan kemampuan militer Iran. Menurutnya, Teheran kini memiliki lebih banyak drone dan rudal yang dapat menjangkau fasilitas Amerika, menimbulkan korban di kalangan personel militer, sekaligus mengancam infrastruktur energi penting di kawasan.

Dia juga menyoroti serangan balasan Iran terhadap fasilitas energi.

“Ini merupakan dinamika baru. Iran, meskipun mengalami kerusakan pada program rudal dan drone serta kapasitas produksinya, masih mampu melakukan tindakan seperti itu,” kata Petraeus.

Mantan kepala CIA itu juga melihat perubahan pada ancaman terhadap pelayaran di Selat Hormuz. Iran, menurutnya, sejak lama memiliki kemampuan untuk memasang ranjau, tetapi penggunaan drone memberikan cara lain untuk mengganggu lalu lintas kapal.

Petraeus mengatakan arah akhir perang akan bergantung pada beberapa hal, termasuk kemampuan Amerika Serikat mempertahankan blokade laut, perubahan perhitungan Teheran, serta kemampuan Washington mengawal kapal melewati Selat Hormuz pada malam hari.

Baca juga: IRGC: Jika Perang Pecah Lagi, Iran Siapkan Senjata Lebih Merusak

Menurutnya, Iran kini memahami nilai strategis ancaman untuk menutup jalur pelayaran tersebut.

“Masalahnya adalah Iran telah memahami bahwa mereka memiliki senjata yang dapat menciptakan gangguan besar, yaitu ancaman untuk menutup Selat Hormuz,” kata Petraeus. Menurutnya, kemampuan tersebut dalam beberapa hal bahkan lebih berharga daripada senjata nuklir.

Pemerintah Iran berulang kali menyatakan bahwa Selat Hormuz sebelumnya tetap terbuka. Menurut Teheran, kondisi yang terjadi saat ini merupakan akibat dari serangan Amerika Serikat dan Israel serta ancaman terhadap kedaulatan dan kepentingan nasional Iran. []

Baca juga: Perang dengan Iran Membuka Borok Kekuatan Militer Amerika