Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

CNN: Enam Bulan Perang Iran Seret Dunia ke Krisis yang Lebih Luas

Published

on

Iran telah memberi Donald Trump pelajaran keras setelah perang berakhir tanpa menghasilkan penyelesaian yang diharapkan Washington.
Perang Amerika Serikat melawan Iran yang telah memasuki bulan keenam disebut membawa dampak luas terhadap pasar energi, kesiapan militer, dan keseimbangan politik global.

Media ABI, 30 Agustus 2026 – Perang Amerika Serikat melawan Iran yang semula digambarkan Presiden Donald Trump akan berakhir dalam beberapa pekan kini telah memasuki bulan keenam. Konflik tersebut bukan hanya belum mencapai tujuan awal Washington, tetapi juga telah menjalar ke pasar energi, perang Ukraina, kesiapan militer Amerika Serikat, hingga kawasan lain di dunia.

Menurut laporan Kayhan pada Minggu (30/8/26), CNN menilai perang yang awalnya dipandang Trump sebagai operasi jangka pendek telah berkembang menjadi krisis yang dampaknya jauh melampaui Timur Tengah. Beban konflik dirasakan masyarakat Iran, jutaan penduduk di kawasan, dan konsumen di berbagai negara yang menghadapi kenaikan biaya hidup serta harga energi.

Baca juga: Arab Saudi Minta AS Pimpin Kampanye Militer Melawan Yaman

CNN juga mencatat tujuan Washington berubah sepanjang perang berlangsung. Tuntutan awal berupa penyerahan diri penuh Iran, perubahan pemerintahan, dan penghentian program nuklir kemudian bergeser menjadi desakan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan aktivitas nuklir Iran.

Perkembangan itu, menurut CNN, turut memengaruhi posisi Amerika Serikat dan keseimbangan kekuatan di tingkat global.

Dampaknya Menjalar ke Ukraina dan Asia

Salah satu dampaknya terlihat pada perang Rusia dan Ukraina. Serangan Iran terhadap pangkalan Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah telah menguras persediaan rudal dan amunisi Washington serta negara-negara sekutunya. Sebagian persenjataan yang sebelumnya disiapkan untuk Ukraina juga dialihkan ke Timur Tengah.

Gangguan di Selat Hormuz turut menambah persoalan bagi kebijakan pemerintahan Trump terhadap Rusia. Krisis energi dan kenaikan harga bahan bakar di Amerika Serikat dilaporkan mempersulit tekanan ekonomi Washington terhadap Moskow, hingga pemerintah AS mengurangi sebagian sanksi terhadap sektor minyak Rusia.

Baca juga: Zoljanah dan Qaem, Jalur Baru Peluncuran Antariksa Iran

Dampak perang juga disebut menjangkau Semenanjung Korea. Trump tahun ini mengurangi sebagian besar kegiatan dalam latihan militer tahunan Ulchi Freedom Shield. Menurut laporan yang dikutip Fars News Agency, kurangnya dukungan Korea Selatan terhadap perang Amerika Serikat melawan Iran menjadi salah satu alasan yang dikemukakan.

Taiwan dan Laut China Selatan pun disebut sebagai kawasan yang dapat terdampak. Konsentrasi sumber daya militer dan politik Amerika Serikat pada konflik Iran membuat Washington harus membagi perhatian dari sejumlah titik lain yang berpotensi memicu krisis.

CNN memperingatkan keadaan dapat menjadi lebih rumit apabila konflik mendorong pihak lain menggunakan jalur-jalur penting perdagangan internasional sebagai alat tekanan.

Krisis Energi Mengancam Eropa

Persoalan energi menjadi salah satu dampak paling nyata. CNBC melaporkan cadangan gas Eropa menjelang musim dingin hanya berada di sekitar 63 persen dari kapasitas, sekitar 18 poin persentase di bawah rata-rata lima tahun.

Pada saat yang sama, gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz telah mengurangi ekspor gas alam cair dari sejumlah negara produsen di kawasan Teluk Persia, termasuk Qatar.

Baca juga: Blackwater Gandeng Ukraina Hadapi Ancaman Drone di Timur Tengah

CNBC memperkirakan harga gas alam di Eropa dapat menembus 100 euro per megawatt-jam pada musim dingin mendatang. Jika pasokan tetap terbatas dan musim dingin berlangsung lebih berat, harga gas dapat bergerak pada kisaran 90 hingga 120 euro per megawatt-jam, mendekati tingkat yang pernah terjadi pada krisis energi 2022.

Tekanan semakin besar akibat musim panas yang panas. Permintaan listrik meningkat karena penggunaan pendingin ruangan, ketika produksi listrik tenaga nuklir menurun dan pembangkitan tenaga angin melemah.

Jika ekspor gas alam cair dari Timur Tengah tidak meningkat sebelum musim dingin, persaingan antara Eropa dan Asia untuk mendapatkan pasokan diperkirakan semakin ketat. Negara-negara Eropa kemungkinan harus menawarkan harga lebih tinggi untuk menarik pengiriman gas alam cair dari Amerika Serikat.

Cadangan Energi AS Ikut Tertekan

Di Amerika Serikat sendiri, cadangan energi juga berada di bawah tekanan. Bloomberg melaporkan persediaan minyak menyusut setelah pemerintah melepaskan 172 juta barel minyak untuk menghadapi gangguan pasokan yang berkaitan dengan perang melawan Iran.

Laporan Bloomberg yang dikutip IRNA menyebut langkah tersebut meningkatkan risiko kenaikan harga menjelang musim dingin dan masa panen.

Baca juga: Sepuluh Hari Gelap di Indiana, Warga Mulai Merasa Kotanya Ditinggalkan Pemerintah

Data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat menunjukkan persediaan bahan bakar minyak distilat, yang sebagian besar terdiri atas solar, mencapai 103,4 juta barel pada pekan yang berakhir 21 Agustus 2026. Angka tersebut merupakan tingkat terendah untuk periode yang sama sejak dekade 1980-an.

Anggaran Angkatan Laut Mulai Menipis

Tekanan perang juga dirasakan Angkatan Laut Amerika Serikat. Dokumen dan wawancara yang diperoleh The Guardian menunjukkan kebutuhan pembiayaan operasi militer telah menempatkan anggaran angkatan laut di bawah tekanan serius.

Berdasarkan dokumen rahasia Pentagon yang diperoleh surat kabar Inggris itu, dana dari sejumlah pos anggaran, termasuk yang berkaitan dengan pembayaran personel, dialihkan untuk membiayai operasi perang.

Sejumlah mantan pejabat dan pakar pertahanan mengatakan dana yang tersedia semakin menipis.

“Celengan Angkatan Laut Amerika Serikat sudah pecah,” kata Harlan Ullman, mantan perwira Angkatan Laut AS dan anggota Komisi Nasional tentang Masa Depan Angkatan Laut. []

Baca juga: Bela Serangan ke Iran, Trump Berdalih Diplomasi dengan Teheran Tak Mudah