Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Iran Tegaskan Akan Pertahankan Kepentingannya Lewat Diplomasi

Published

on

TEHERAN, Ahlulbait Indonesia — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran tetap membuka ruang bagi jalur diplomasi untuk menyelesaikan konflik dengan Amerika Serikat. Namun, Iran menekankan bahwa setiap proses perundingan harus berlangsung dengan penghormatan terhadap hak dan kepentingan Iran.

Pernyataan Araghchi disampaikan setelah dirinya bertemu dengan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani di Teheran pada Kamis (27/8/2026).

Pertemuan tersebut berlangsung ketika upaya untuk menghidupkan kembali dialog Iran dan Amerika Serikat masih menghadapi kebuntuan. Qatar menjadi salah satu negara kawasan yang berupaya membantu menurunkan ketegangan dan menciptakan kondisi bagi dimulainya kembali perundingan.

Araghchi mengatakan diplomasi dengan Washington masih dapat kembali ke jalurnya. Namun, menurut dia, hal itu bergantung pada perubahan pendekatan Amerika Serikat terhadap Iran.

“Menempatkan kembali diplomasi ke jalurnya bukanlah hal yang mustahil. Hal itu bergantung pada pemahaman AS terhadap satu fakta sederhana: tekanan tidak berhasil,” kata Araghchi dalam unggahan di platform X pada Jumat (28/8/2026).

Ia meminta Washington membangun kepercayaan, berbicara dengan penuh penghormatan, mengakui hak-hak Iran, serta memenuhi komitmen yang telah dibuat sebelumnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Teheran belum menutup pintu diplomasi, meskipun hubungan dengan Washington masih berada dalam kondisi tegang setelah perang memasuki bulan keenam.

Dalam pertemuannya dengan Sheikh Mohammed, Araghchi juga menyambut peran negara-negara kawasan dan negara tetangga dalam membantu meredakan ketegangan.

Menurut Araghchi, situasi yang terjadi saat ini merupakan akibat dari agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta kebijakan Washington yang disebut Teheran sebagai tindakan ilegal, termasuk blokade laut dan tekanan ekonomi.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kepercayaan di antara negara-negara kawasan untuk menciptakan mekanisme keamanan regional yang berdiri sendiri dan tidak bergantung pada campur tangan negara-negara di luar kawasan.

Araghchi meminta negara-negara di kawasan menjalankan prinsip bertetangga baik serta mencegah Amerika Serikat menggunakan wilayah dan fasilitas mereka untuk melakukan serangan maupun menjalankan tekanan ekonomi terhadap Iran.

Kunjungan Sheikh Mohammed ke Teheran menjadi salah satu bagian dari upaya diplomatik regional untuk membuka kembali jalur komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat.

Dalam kunjungan tersebut, pejabat Qatar bertemu dengan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian, Araghchi, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, serta pejabat keamanan Iran.

Pembicaraan juga mencakup upaya menciptakan kondisi bagi dimulainya kembali dialog serta pembahasan mengenai kemungkinan pembentukan koridor navigasi sementara melalui Selat Hormuz dan langkah-langkah untuk membersihkan ranjau di kawasan tersebut.

Selat Hormuz sendiri menjadi salah satu persoalan paling sensitif dalam konflik Iran-Amerika Serikat. Iran sebelumnya menegaskan bahwa kapal yang hendak melintasi jalur strategis tersebut harus berkoordinasi dengan otoritas Iran, sementara Washington terus menekan agar jalur pelayaran tersebut kembali terbuka.

Di tengah kebuntuan tersebut, Iran juga menghadapi peningkatan tekanan ekonomi dari Amerika Serikat. Washington berupaya mempersempit hubungan ekonomi Iran dengan negara-negara lain sebagai bagian dari strategi untuk menekan Teheran.

Namun, Araghchi menegaskan bahwa tekanan tidak akan membuat Iran menyerah terhadap kepentingannya.

Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan posisi Iran dalam menghadapi kemungkinan dimulainya kembali perundingan. Teheran bersedia menggunakan diplomasi, tetapi tidak menginginkan proses tersebut berlangsung di bawah tekanan atau dengan mengorbankan hak-haknya.

Sementara itu, negara-negara seperti Qatar, Pakistan dan Oman terus memainkan peran dalam upaya membuka jalur komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat.

Dengan perang yang telah memasuki enam bulan dan berbagai persoalan strategis masih belum terselesaikan, peluang kembalinya diplomasi akan sangat bergantung pada kesediaan kedua pihak untuk mengubah pendekatan mereka.

Bagi Iran, pintu diplomasi masih terbuka. Namun, pesan yang disampaikan Araghchi jelas: dialog hanya dapat berjalan apabila Washington meninggalkan pendekatan tekanan dan bersedia membangun kepercayaan, menghormati hak Iran, serta memenuhi komitmen yang telah disepakati.

Continue Reading