Internasional
Peringati Maulid Nabi SAW, Teheran Gelar Konferensi Persatuan Islam

Media ABI, 29 Agustus 2026 – Iran membuka Konferensi Persatuan Islam Internasional ke-40 di Tehran Summit Hall pada Kamis (28/8/26). Presiden Masoud Pezeshkian, ratusan ulama, serta tokoh ilmiah, kebudayaan, dan keagamaan dari berbagai negara Islam menghadiri pembukaan konferensi tersebut.
Konferensi ini digelar dalam rangka Hafteh-ye Vahdat atau Pekan Persatuan, yang setiap tahun diperingati untuk menandai kelahiran Nabi Muhammad SAW dan memperkuat persatuan di antara umat Islam.
Pertemuan tahun ini mengusung tema “Persatuan Islam dalam Pemikiran Pemimpin Revolusi yang Syahid, Ayatullah Sayyid Ali Hosseini Khamenei”.
Baca juga: Ayatullah Mujtaba: Rakyat Berhak atas Pelayanan Pemerintah
Sekretaris Jenderal Forum Dunia untuk Pendekatan Mazhab Islam, Hujjatul Islam Hamid Shahriari, membuka sambutannya dengan menyampaikan ucapan selamat atas kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Imam Ja’far Shadiq a.s. Ia juga menyambut kehadiran Presiden Pezeshkian dan para peserta dari dalam maupun luar Iran.
Meninjau perkembangan selama setahun terakhir, Shahriari menyebut perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan rezim Israel terhadap Iran sebagai peristiwa paling menentukan yang dihadapi bangsa Iran.
“Peristiwa terpenting yang kami hadapi adalah perang yang dilancarkan pemerintah teroris Amerika Serikat dan rezim kriminal Israel terhadap bangsa Iran,” katanya, sebagaimana dilansir Mehr News Agency.
Menurut Shahriari, perang yang berlangsung selama enam bulan itu dipaksakan kepada Iran karena pihak yang disebutnya sebagai Arogansi Global tidak menghendaki Iran tumbuh menjadi kekuatan yang lebih besar.
Iran yang kuat, lanjutnya, dapat menjadi teladan bagi negara-negara Islam dan bangsa-bangsa tertindas.
Musuh Iran, menurut Shahriari, juga tidak menghendaki negara tersebut memiliki energi nuklir, kemampuan rudal, infrastruktur maju, sumber daya minyak, ilmuwan, pasukan yang berani, pemerintahan dan sistem negara yang kuat, hingga kepemimpinan yang kuat.
Baca juga: Perang Iran Kuras Anggaran Angkatan Laut AS
Baginya, setiap unsur tersebut memperkokoh persatuan nasional dan memperkuat daya tahan bangsa Iran.
Tekanan Maksimum dan Pengalaman Kawasan
Dalam sambutannya, Shahriari turut menyinggung serangan Amerika Serikat terhadap Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, pada 28 Februari. Serangan itu, menurutnya, menyebabkan lebih dari 168 murid dan guru sekolah tersebut gugur.
“Kami bertanya kepada Amerika Serikat, keuntungan apa yang kalian peroleh dengan membunuh anak-anak sekolah Minab yang tidak bersalah. Mengapa media Barat tetap diam menghadapi pertanyaan ini,” ujarnya.
Shahriari kemudian mengkritik kebijakan Amerika Serikat selama empat dekade terakhir. Menurutnya, tekanan maksimum yang diterapkan Washington terhadap Iran tidak berhasil mencapai tujuan.
“Pemerintah Amerika Serikat tidak mampu mencapai tujuannya meskipun telah menerapkan tekanan maksimum, karena kami menjadi kekuatan pertama di kawasan di bawah kepemimpinan Pemimpin Revolusi Islam yang syahid, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei,” katanya.
Baca juga: Rusia Melihat Militer Amerika Melemah akibat Perang Iran
Para ilmuwan Iran, lanjut Shahriari, telah mencapai teknologi mutakhir, sementara generasi mudanya berhasil mengembangkan rudal dan pesawat nirawak strategis.
Ia juga mengatakan pasukan Iran telah menghadapi kekuatan militer Amerika Serikat dan menghancurkan pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pelajaran tentang perlawanan terhadap penindasan bagi para pencinta kebebasan di berbagai negara.
Pengalaman sejumlah negara di kawasan, kata Shahriari, juga menunjukkan bahwa kehadiran Amerika Serikat tidak menciptakan keamanan.
Sebaliknya, kehadiran Washington dinilainya justru membawa persoalan baru. Karena itu, keamanan kawasan, menurut Shahriari, hanya dapat dijamin oleh negara-negara yang berada di kawasan tersebut.
Hampir 600 Peserta Hadir di Teheran
Pembukaan Konferensi Persatuan Islam Internasional ke-40 dihadiri hampir 600 tamu dari dalam dan luar Iran.
Peserta konferensi terdiri atas tokoh ilmiah, kebudayaan, dan keagamaan dari sejumlah negara Islam, termasuk Indonesia, Irak, Pakistan, Turki, Lebanon, Afghanistan, serta negara-negara di kawasan Teluk Persia.
Sejumlah duta besar yang bertugas di Teheran dan perwakilan marja besar keagamaan turut menghadiri konferensi tersebut. []
Baca juga: Pelaut AS Mencoba Bunuh Diri di USS Abraham Lincoln, Hadapi Hukuman Disipliner







