Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Begini Taktik Iran Tembus Pertahanan AS hingga Jatuhkan F-15E

Published

on

Sistem pertahanan udara Patriot Amerika Serikat digunakan untuk menghadapi serangan rudal Iran di kawasan Timur Tengah.
Iran menggabungkan rudal dan drone untuk menguras pertahanan udara AS dan mengeksploitasi celah sistem Patriot.

Ahlulbait Indonesia, 12 Agustus 2026 — The New York Times mengungkap perubahan taktik militer Iran dalam menghadapi pertahanan Amerika Serikat, mulai dari serangan berlapis terhadap pangkalan AS di Yordania hingga penggunaan drone untuk membantu menjatuhkan jet tempur F-15E. Laporan tersebut menunjukkan kemampuan Iran berkembang cepat ketika persediaan rudal pencegat Pentagon terus menyusut.

Menurut laporan The New York Times yang dikutip Mehr pada Rabu (12/8/2026), Iran selama lima hari melancarkan gelombang drone dan rudal terhadap pasukan Amerika di tiga pangkalan di Yordania. Rudal yang mampu mengubah arah secara tiba-tiba digunakan bersama drone untuk membebani sistem pertahanan udara AS dan menguras persediaan Patriot.

Baca juga: Washington Post: Sikap Serampangan Trump Bawa Perang Iran Tanpa Akhir

Pada hari kelima, sebuah rudal Iran berhasil menembus pertahanan dan menghantam unit hunian prefabrikasi di salah satu pangkalan pada 17 Juli. Serangan tersebut menewaskan tiga tentara Amerika dan melukai lebih dari 100 orang. Pentagon kemudian mengonfirmasi puluhan personel lain turut terluka dan beberapa pesawat mengalami kerusakan.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengakui satu rudal berhasil menembus pertahanan, meski mengklaim hampir seluruh rudal Iran berhasil ditembak jatuh.

“Kami menembak jatuh hampir semua rudal. Salah satunya berhasil menembus pertahanan,” kata Rubio.

Iran Menguras Pertahanan Udara AS

The New York Times melihat serangan tersebut sebagai hasil dari dua perkembangan yang berlangsung bersamaan. Iran semakin terampil mengeksploitasi celah pertahanan udara Amerika, sementara persediaan rudal pencegat Pentagon berkurang dengan cepat. Konflik juga meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah dengan keterlibatan Ansarullah di Yaman dan kelompok bersenjata di Irak.

Menurut dua sumber yang mengetahui kondisi persediaan persenjataan Amerika, Pentagon telah menggunakan lebih dari 1.500 rudal pencegat Patriot selama perang dan kini memiliki kurang dari 1.700 rudal. Amerika Serikat memproduksi sekitar 600 rudal pencegat sepanjang 2025.

Dalam salah satu hari paling mematikan pada bulan lalu, pasukan Amerika di Timur Tengah menembakkan sekitar 50 rudal Patriot. Harga setiap rudal mencapai sekitar 4 juta dolar AS.

Seth G. Jones, kepala bidang pertahanan dan keamanan di Center for Strategic and International Studies, mengatakan kombinasi rudal dan drone membuat pertahanan udara Amerika semakin sulit bekerja.

“Ketika berbagai jenis rudal dan drone masuk secara bersamaan, Iran membuat pekerjaan pertahanan udara menjadi lebih sulit,” kata Jones.

Menurut Jones, Iran pada dasarnya menggunakan taktik Rusia untuk mempersulit perlindungan terhadap berbagai titik di kawasan Teluk Persia.

Klaim Rudal Iran Hancur, Serangan Berlanjut

Tekanan terhadap pertahanan Amerika berlanjut meski Pentagon sebelumnya menyatakan kemampuan rudal Iran telah dihancurkan.

Baca juga: Washington Mulai Tarik Pasukan Bertahap dari Asia Barat

Menteri Pertahanan Amerika Pete Hegseth pada 8 April mengatakan program rudal Iran “praktis telah dihancurkan” dan peluncur serta rudalnya telah rusak berat hingga hampir sepenuhnya tidak berfungsi.

Sebagian besar rudal dan peluncur Iran disimpan di fasilitas bawah tanah yang dibombardir pasukan Amerika dan Israel selama lima pekan pertama perang. Namun, Iran kemudian mengeluarkan sejumlah fasilitas dari reruntuhan dan kembali meluncurkan rudal. Langkah tersebut membuat pelayaran di Selat Hormuz hampir terhenti dan kembali meningkatkan ancaman terhadap pasukan Amerika di kawasan.

Vahid Nasr, profesor di School of Advanced International Studies, Johns Hopkins University, mengatakan Donald Trump dan para penasihat keamanan nasionalnya semula memperkirakan perang akan berlangsung singkat sehingga tidak mengancam persediaan Patriot Pentagon.

Menurut Nasr dan sejumlah pakar Iran, Teheran telah menunggu situasi tersebut sejak awal konflik lebih dari lima bulan sebelumnya. Para pemimpin Iran juga telah melihat dalam perang selama 12 hari pada Juni 2025 bagaimana Israel dan Amerika menghabiskan persediaan rudal pencegat untuk menghadapi gelombang serangan drone dan rudal Iran.

Muwaffaq al-Salti Menjadi Sasaran Utama

Serangan paling mematikan Iran terhadap pasukan Amerika di Yordania menyasar Pangkalan Udara Muwaffaq al-Salti di Azraq. Fasilitas militer tersebut semakin banyak digunakan Angkatan Udara Amerika sebagai pusat operasi bagi puluhan pesawat dan ribuan personel.

Pasukan Amerika yang sebelumnya ditempatkan di Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab dipindahkan ke pangkalan seperti Muwaffaq al-Salti sebelum dan selama perang. Lokasi tersebut dinilai lebih jauh dari Iran dan lebih aman dari serangan drone serta rudal balistik.

Setelah serangan 17 Juli, komandan militer Amerika memperkuat pertahanan udara di Yordania dan sejumlah lokasi lain di kawasan, menurut seorang pejabat senior militer AS yang berbicara dengan syarat anonim.

Taktik Ukraina Dipelajari Iran

Amerika Serikat telah berbulan-bulan mempelajari serangan drone dan rudal dalam perang Ukraina melalui kerja sama dengan Komando Pusat AS. Pelajaran tersebut juga dibagikan kepada pasukan Amerika di kawasan. Dua dari tiga tentara yang tewas di Yordania merupakan anggota unit pertahanan udara yang berbasis di Jerman dan terlibat dalam upaya tersebut.

Namun, pengalaman serupa juga dipelajari Iran. Menurut The New York Times, Rusia menggunakan kombinasi rudal balistik dan rudal jelajah untuk mengalihkan perhatian pertahanan udara Ukraina sebelum mengerahkan drone. Iran menerapkan pola serupa dalam menghadapi pertahanan Amerika.

Baca juga: Pakar CSIS: Kekuatan Siber Iran Menjadi “Selat Kedua”

Perkembangan tersebut turut memunculkan kekhawatiran di Washington. Sejumlah pejabat Amerika mengatakan Trump pada akhir Juli menanyakan kepada Hegseth mengenai penurunan persediaan persenjataan AS. The Washington Post sebelumnya juga melaporkan persoalan tersebut.

Pentagon tetap membantah adanya kekurangan amunisi. Juru bicara senior Pentagon Sean Parnell menyatakan klaim mengenai kelangkaan amunisi Amerika tidak benar dan menuduh media membesar-besarkan informasi yang keliru.

Saudi Peringatkan Risiko Serangan terhadap Infrastruktur

Dua pekan lalu, Trump menghentikan serangan udara terhadap Iran dan mengatakan pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, serta Qatar meminta Washington menempuh jalur diplomatik untuk mengakhiri perang.

Seorang pejabat Saudi mengatakan Mohammed bin Salman, penguasa de facto Arab Saudi, memperingatkan Trump melalui percakapan telepon bahwa serangan udara berskala besar berpotensi mendorong Iran menyerang fasilitas energi dan infrastruktur lain di Arab Saudi serta negara-negara tetangga.

Menurut pejabat tersebut, risiko kerusakan serius semakin nyata karena persediaan rudal pencegat Amerika menurun sementara Iran telah menunjukkan kemampuan menembus sistem pertahanan tersebut. Mohammed bin Salman disebut meminta Trump melakukan deeskalasi.

Drone Iran Membantu Menjatuhkan F-15E

Jet tempur F-15E Amerika Serikat dilaporkan ditembak jatuh Iran pada 3 April 2026, lima hari sebelum Trump menyetujui gencatan senjata selama dua pekan.

Jet tempur F-15E Amerika senilai sekitar 60 juta dolar AS dijatuhkan Iran setelah drone memberikan informasi posisi, kecepatan, dan arah pergerakannya.

Serangan di Yordania bukan satu-satunya contoh adaptasi taktik Iran. Pada April, Iran menjatuhkan jet tempur Amerika F-15E di wilayah udara Iran bagian selatan menggunakan rudal permukaan ke udara yang dapat diluncurkan dari bahu.

Pilot dan perwira persenjataan berhasil keluar dari pesawat. Pilot segera diselamatkan, sementara perwira persenjataan hilang selama hampir dua hari sebelum ditemukan dan diselamatkan pasukan operasi khusus Amerika.

Seorang pejabat senior militer Amerika mengatakan Iran mengambil pelajaran dari perang Ukraina dengan menempatkan sekelompok drone di wilayah yang telah dimasuki jet tempur Amerika. Drone tersebut memberikan informasi penting kepada komandan Iran mengenai posisi, kecepatan, dan arah pergerakan F-15E.

Kru pesawat mengatakan sistem perlindungan dan penanggulangan elektronik F-15E memberikan peringatan hanya setengah detik sebelum jet tempur senilai 60 juta dolar AS tersebut terkena rudal yang diluncurkan dari bahu.

Baca juga: Rincian Baru Kerusakan di Pangkalan Utama AS di Teluk

Medan Perang Meluas ke Yaman

Setelah insiden F-15E, Trump mengumumkan bahwa konflik memasuki sebuah “jeda”. Dua pejabat militer mengatakan komandan Amerika membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan taktik baru Iran. Namun, selama jeda tersebut, taktik Iran terus berkembang.

Keterlibatan kelompok Houthi di Yaman pada bulan berikutnya semakin memperluas medan perang. Para pakar menilai langkah tersebut menunjukkan upaya Iran memaksa Amerika dan sekutunya mempertahankan diri dari serangan berbagai arah.

Di sisi lain, para pemeriksa internasional meyakini Iran menyimpan sebagian fasilitas program nuklirnya di kompleks bawah tanah yang diperkuat secara ketat di wilayah tengah negara tersebut. Amerika Serikat menyebut lokasi itu sebagai “Pickaxe Mountain”, yang berada lebih dari 300 kaki atau sekitar 91 meter di bawah sebuah gunung.

Para pakar juga menyebut Iran telah memindahkan pasukan dan pejabat ke tempat-tempat perlindungan yang tersebar di berbagai wilayah.

“Di mana para pejabat Iran berada? Bukan berarti mereka duduk di suatu tempat yang dapat Anda bom. Anda tidak akan menemukan mereka,” kata Nasr. []

Baca juga: Perang dengan AS Uji Doktrin dan Teknologi Pertahanan Udara Iran