Internasional
WSJ: Ansarullah Kendalikan Lalu Lintas Kapal di Laut Merah

Media ABI, 7 November 2026 — Dalam laporan berjudul “To Cross the Red Sea, Shippers Email Houthi Rebels. Read Their Inbox” yang diterbitkan The Wall Street Journal pada 6 November 2026, jurnalis Rebecca Feng dan Jason French mengungkap mekanisme yang digunakan Ansarullah Yaman untuk mengatur lalu lintas kapal di Laut Merah.
Berdasarkan korespondensi sejumlah perusahaan pelayaran, Ansarullah menjalankan mekanisme permintaan izin melalui Humanitarian Operations Coordination Center (HOCC) atau Pusat Koordinasi Operasi Kemanusiaan. Pusat yang didirikan pada awal 2024 itu menerima dan meninjau permintaan pelayaran, kemudian menyampaikan pembatasan yang diberlakukan Ansarullah. Sejumlah perusahaan bahkan menghubungi HOCC sebelum memasuki Laut Merah untuk memastikan keamanan perjalanan.
Mekanisme Izin bagi Kapal yang Melintas
Secara teknis, kapal yang tidak memiliki hubungan dengan Amerika Serikat, Inggris, atau Israel dapat melintas tanpa menghubungi HOCC. Namun, setelah Ansarullah mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi pada Juli 2026, sejumlah perusahaan pelayaran kembali menghubungi pusat tersebut sebelum memasuki kawasan itu.
Salah satu korespondensi yang dipublikasikan The Wall Street Journal berasal dari sebuah kapal pada 16 Agustus. Nakhoda menjelaskan bahwa pemilik, perusahaan manajemen, dan operator kapal semuanya berasal dari China, demikian pula seluruh awaknya. Ia menegaskan kapal tersebut tidak memiliki hubungan dengan Amerika Serikat, Inggris, maupun Israel.
Nakhoda kemudian meminta izin untuk melintas dengan aman melalui Selat Bab el-Mandeb dan menyatakan kesediaannya mematuhi pembatasan pelayaran menuju dan dari pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi.
Ansarullah biasanya memberikan jawaban dalam waktu 24 jam apabila memutuskan untuk merespons. Salah satu contohnya adalah tanggapan HOCC kepada kapal kontainer China Zhong Cheng Chang Ling pada September 2026. Dalam surat tersebut, HOCC menyatakan kapal dengan nomor identifikasi internasional 1124310 dapat melintas dengan aman melalui Laut Merah, Selat Bab el-Mandeb, Teluk Aden, dan Laut Arab.
Pihak kapal diminta mempertahankan Automatic Identification System (AIS) dan saluran 16 radio maritim selama perjalanan, mengikuti jalur pelayaran internasional, serta menghindari kapal yang mematikan AIS dan kapal militer di sekitarnya. Kapal juga diminta melaporkan aktivitas mencurigakan dan memberitahukan HOCC jika terjadi perubahan rencana pelayaran. Izin tersebut berlaku selama tujuh hari.
AIS dan Posisi Strategis Bab el-Mandeb
Menurut The Wall Street Journal, kewajiban mempertahankan sistem komunikasi dan identifikasi kapal kemungkinan dimaksudkan untuk memungkinkan Ansarullah memantau pergerakan kapal. AIS memancarkan informasi mengenai identitas, posisi, kecepatan, dan tujuan kapal, sedangkan saluran 16 radio maritim digunakan untuk komunikasi darurat internasional.
Nakhoda Zhong Cheng Chang Ling mengatakan perusahaan manajemen kapal memintanya menghubungi kelompok Houthi sebagai langkah berjaga-jaga. Data pelacakan maritim menunjukkan bahwa setelah menerima tanggapan Ansarullah, pada sore 8 September kapal itu mengubah tujuan dari Pelabuhan Klang, Malaysia, menjadi keterangan “perlindungan bersenjata di atas kapal”, yang umumnya digunakan sebagai langkah pencegahan terhadap penyerang dan perompak.
Kapal kemudian melintasi Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb sebelum memasuki Samudra Hindia pada 11 September. Setelah melewati kawasan tersebut, tujuan pelayaran kembali diubah menjadi Pelabuhan Klang. AIS tetap aktif sepanjang perjalanan.
Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia sekaligus penghubung utama antara Asia, Timur Tengah, Afrika Utara, dan Eropa. Sekitar 10 hingga 12 persen pengiriman minyak melalui laut serta perdagangan maritim menuju Terusan Suez melewati selat tersebut. Pengalihan rute melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan dapat menambah waktu perjalanan sekitar dua minggu.
Namun, tidak semua perusahaan pelayaran bersedia menghubungi Ansarullah. Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi terhadap kelompok tersebut, sementara pedoman resmi lembaga-lembaga internasional di bidang pelayaran merekomendasikan agar kapal tidak berinteraksi dengan HOCC atau mendaftarkan diri dalam sistem tersebut.
The Wall Street Journal melaporkan bahwa lalu lintas kapal tanker minyak dan kapal pengangkut gas melalui Selat Bab el-Mandeb menurun setelah Ansarullah mengumumkan blokade maritim pada Juli 2026. Aktivitas pelayaran melalui jalur tersebut kemudian mulai kembali meningkat. []







