Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Qaani: AS Berhadapan dengan Front Perlawanan dari Hormuz hingga Bab el-Mandeb

Published

on

Brigadir Jenderal Ismail Qaani, Komandan Pasukan Quds IRGC, memperingatkan Amerika Serikat agar tidak keliru menghitung kekuatan front perlawanan dari Hormuz hingga Bab el-Mandeb.
Brigadir Jenderal Ismail Qaani, Komandan Pasukan Quds IRGC, memperingatkan Amerika Serikat agar tidak keliru menghitung kekuatan front perlawanan dari Hormuz hingga Bab el-Mandeb.

Media ABI, 5 November 2026 — Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Ismail Qaani, memperingatkan Amerika Serikat agar tidak terjebak dalam kesalahan perhitungan ketika menghadapi apa yang ia sebut sebagai satu kesatuan front perlawanan di kawasan.

Baca juga: Di Lingkaran Trump, Perang Iran Kembali Jadi Rebutan

Dalam wawancara dengan Sepah News pada Rabu malam (4/11/2026), Qaani menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak dapat mengukur kekuatan dan kedalaman front perlawanan hanya berdasarkan jangkauan persenjataan. Menurutnya, perhitungan tersebut juga harus memperhitungkan jaringan dan kapasitas perlawanan yang tersebar di berbagai kawasan.

“Para pemimpin Amerika yang tidak bijaksana harus memahami, agar tidak terjebak dalam kesalahan perhitungan yang fatal, bahwa hari ini seluruh perlawanan merupakan satu front dengan kesatuan medan. Karena itu, jangan mengukur kedalaman front hanya dari jangkauan senjata. Perhitungkan pula kedalaman perlawanan. Jika tidak, perang akan berlangsung dengan senjata di Hormuz, sementara Bab el-Mandeb dibebaskan oleh perlawanan,” ujar Qaani.

Qaani kemudian menyinggung peran Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam keputusan Amerika Serikat memulai perang terhadap Iran serta konsekuensi yang, menurutnya, kemudian muncul di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.

“Presiden Amerika yang narsistis, karena mempercayai perkataan Netanyahu yang penuh tipu daya, memulai perjudian perang dengan Iran. Hasilnya adalah Amerika menggadaikan kredibilitasnya yang telah dibangun selama 250 tahun dan kehilangan Selat Hormuz,” kata Qaani.

Baca juga: 

Menurut Qaani, sikap keras kepala Amerika Serikat di Hormuz justru memberi ruang bagi front perlawanan untuk merespons dengan langkah yang ia nilai cermat dan strategis.

“Dengan sikap keras kepala di Hormuz, front perlawanan secara cermat memaksakan kekalahan di Selat Bab el-Mandeb kepada Amerika,” ujarnya.

Qaani juga merujuk pada pesan terbaru Pemimpin Tertinggi Iran. Ia memperingatkan bahwa apabila Amerika Serikat tetap melanjutkan apa yang disebutnya sebagai “perilaku berjudi” dalam perang, front perlawanan memiliki kemampuan untuk memberikan pukulan serius melalui perhitungan yang cermat, baik pada tingkat permukaan maupun kedalaman.

“Setelah pesan Pemimpin Tertinggi, jika Amerika terus melanjutkan perilaku perjudiannya dalam perang, front perlawanan yang kokoh, melalui perhitungan yang cermat, baik di tingkat permukaan maupun kedalaman, mampu memberikan pukulan-pukulan mendasar kepada Amerika,” tegas Qaani. []

Baca juga: Para Miliarder Berebut Pengaruh dalam Pemilu Sela Kongres AS