Hikmah
Imam Khomeini kepada Sayyid Ali Khamenei, “Engkau Akan Menjadi Yusuf”

Ahlulbait Indonesia, 4 Juli 2026 – Ketika banyak pejuang Islam di Iran mulai kehilangan harapan, sebuah mimpi hadir dalam kehidupan Sayyid Ali Khamenei. Bertahun-tahun kemudian, mimpi itu dikenang bukan lagi sebagai bunga tidur, melainkan sebagai kisah yang, bagi banyak pendukung Revolusi Islam, baru menemukan maknanya melalui perjalanan hidup sang pemimpin.
Di tengah suasana politik yang menyesakkan di Mashhad, ketika penangkapan, penyiksaan, dan pemenjaraan menjadi bagian dari kehidupan para aktivis Islam, Sayyid Ali Khamenei mengalami sebuah mimpi yang begitu nyata hingga terasa seperti peristiwa yang benar-benar terjadi.
Baca juga: Al Jazeera: Rute Pemakaman Sayyid Ali Khamenei Bawa Pesan Politik, Keagamaan, dan Regional
Dalam mimpi itu, Imam Khomeini telah wafat. Jenazah beliau terbaring tidak jauh dari rumah ayah Sayyid Ali di Mashhad. Di tengah lautan pelayat, Sayyid Ali menangis tersedu-sedu. Dengan penuh kesedihan, tangannya berulang kali menghantam lututnya. Kesedihan semakin mendalam ketika melihat sebagian ulama justru berbincang dan tertawa seolah tidak merasakan kehilangan yang sama.
Arak-arakan jenazah terus bergerak menuju pinggiran kota. Semakin jauh perjalanan berlangsung, jumlah pelayat terus berkurang. Dari ribuan orang yang semula mengiringi, hanya tersisa puluhan. Ketika rombongan mencapai sebuah bukit kecil, tinggal empat atau lima orang yang masih setia berjalan di belakang keranda, dan Sayyid Ali termasuk di antara mereka.
Sesampainya di puncak bukit, keranda diletakkan di atas tanah. Sayyid Ali mendekat untuk memberikan penghormatan terakhir. Pada saat itulah sesuatu yang sama sekali tidak diduga terjadi.
Meski kedua mata Imam Khomeini masih terpejam, beliau perlahan bangkit, mengangkat tangan, lalu menyentuhkan jari telunjuk ke dahi Sayyid Ali. Dengan jari telunjuk masih menyentuh dahinya, Imam Khomeini mengulang kalimat yang sama sebanyak dua kali.
“Engkau akan menjadi Yusuf… Engkau akan menjadi Yusuf.”

Khun Deli Keh La’l Shod
Ketika kisah mimpi itu disampaikan kepada sang ibu, beliau menafsirkannya sebagai pertanda bahwa putranya akan berulang kali mendekam di penjara. Penafsiran tersebut terasa wajar, mengingat keluarga itu telah berkali-kali menghadapi penangkapan, interogasi, dan penahanan oleh aparat SAVAK.
Namun, beberapa tahun kemudian, makna mimpi tersebut berubah.
Pada 1970, ketika menjalani masa tahanan di Penjara Mashhad, Sayyid Ali Khamenei kembali mendengar kisah mimpi tersebut. Kisah itu diingatkan oleh salah seorang teman satu selnya, Syekh Hafezi. Air mata ulama tersebut mengalir ketika menyadari bahwa menjadi “Yusuf” bukan hanya berarti hidup di balik jeruji besi. Kisah Nabi Yusuf bukan hanya tentang penderitaan di dalam penjara, tetapi juga tentang perjalanan menuju amanah besar memimpin sebuah umat. Saat itulah makna mimpi tersebut dipahami jauh melampaui penderitaan di ruang tahanan.
Kini, ketika jalan-jalan di Iran dipenuhi prosesi penghormatan kepada Sayyid Ali Khamenei, kisah lama itu memperoleh makna baru.
Mimpi Kedua dari Balik Jeruji
Pada masa penahanan berikutnya, tekanan terhadap para pejuang Islam mencapai titik yang sangat berat. Banyak orang mulai kehilangan harapan bahwa Islam suatu hari akan kembali hadir sebagai kekuatan sosial dan politik di Iran. Di dalam penjara, para tahanan membaca Surah Al-Kautsar sebagai penguat hati, seraya meyakini bahwa janji Allah pada akhirnya akan bermuara pada tegaknya pemerintahan Islam.
Dalam masa-masa itu, Sayyid Ali Khamenei kembali mengalami mimpi yang kemudian dikenangnya sepanjang hidup.
Dalam mimpi tersebut, dirinya berada di sebuah masjid di tengah Pasar Mashhad. Masjid itu dipimpin seorang imam bernama Ayatullah Alam al-Huda, salah seorang murid dekat Ayatullah Milani. Dua laki-laki bertubuh tinggi berdiri di pintu masjid laksana malaikat. Hamparan karpet telah digulung dan batu-batu lantai berserakan.
Ketika terbangun, kesan pertama yang muncul adalah bahwa salah seorang ulama besar telah wafat.
Keesokan harinya, Sayyid Ali Khamenei dipanggil ke ruang pemeriksaan yang berbeda dari biasanya. Kepala tim interogasi, Kaweh, telah menunggu.
Tanpa banyak kata, Kaweh berkata, “Barangkali engkau sudah mendengar bahwa Ayatullah Milani telah wafat.”
Sesaat setelah mendengar kabar wafat Ayatullah Milani dari Kaweh, Sayyid Ali Khamenei menyadari bahwa mimpi yang dialaminya malam sebelumnya seolah memperoleh penegasan di dunia nyata.
Mimpi tentang Penerbangan
Beberapa waktu kemudian, seorang penghuni sel yang sama menceritakan mimpi yang menurutnya jauh lebih menggetarkan.
Dalam mimpinya, mereka berdua mengunjungi makam suci Sayyid Abdul Azim di Ray. Sayyid Ali memandang sebuah menara yang menjulang tinggi lalu berkata ingin mencapai puncaknya.
Teman satu sel itu menjawab bahwa keinginan tersebut mustahil diwujudkan.
Namun, dalam mimpi itu, Sayyid Ali perlahan terangkat dari tanah hingga mencapai puncak menara. Dari tempat tertinggi, beliau melambaikan tangan sambil berkata,
“Lihat, aku berhasil.”
Sesudah itu, tubuhnya terus melayang semakin tinggi, seolah terbang menembus langit.
Mendengar kisah tersebut, Sayyid Ali Khamenei menafsirkannya sebagai isyarat syahadah.
Pada masa itu, banyak orang menafsirkan mimpi tersebut sebagai pertanda bahwa Sayyid Ali Khamenei akan terbebas dari penjara SAVAK. Namun, seiring perjalanan waktu, penafsiran itu memperoleh makna yang lebih luas. Penerbangan itu tidak lagi dipahami hanya sebagai lambang kebebasan dari penjara SAVAK. Dalam pembacaan yang muncul bertahun-tahun kemudian, kisah itu dipandang menggambarkan sebuah perjalanan yang dimulai dari langit-langit rendah sel-sel penjara rezim Pahlavi hingga mencapai puncak kemuliaan dan syahadah.
Ketika Kekuasaan Mulai Kehilangan Kepercayaan Diri
Di tengah penyiksaan yang terus berlangsung, Sayyid Ali Khamenei juga menyaksikan perubahan yang menurutnya mencerminkan melemahnya kepercayaan diri rezim Pahlavi.
Pada 1975, sikap para penyidik berubah secara mencolok. Kaweh, kepala tim interogasi yang sebelumnya dikenal keras, tiba-tiba datang dengan senyum dan memperlakukan para tahanan jauh lebih lunak.
Penyidik lain, Musyiri, bahkan berusaha melepaskan diri dari tanggung jawab atas penyiksaan yang pernah terjadi dengan menyalahkan pihak lain. Sebelumnya, seorang penyidik bernama Kouchesfahani juga berupaya menampilkan citra sebagai sosok religius dengan menceritakan kebiasaannya menghadiri ceramah agama sejak kecil.
Bagi Imam Sayyid Ali Khamenei, perubahan sikap para aparat itu bukanlah tanda belas kasihan. Di balik keramahan yang tiba-tiba muncul, tampak kegelisahan sebuah rezim yang secara lahiriah masih terlihat sangat kuat, tetapi mulai kehilangan keyakinan terhadap masa depannya sendiri.
Menurut kisah yang dituturkan dalam laporan ini, para aparat itu seolah melihat masa depan di mata seorang tahanan yang tidak bersenjata, masa depan yang kelak mengakhiri kekuasaan monarki Pahlavi.
Kini, ketika rakyat Iran mengiringi prosesi penghormatan kepada Imam Sayyid Ali Khamenei, kisah-kisah yang dahulu hanya hidup di ruang-ruang sempit penjara kembali dibaca dengan sudut pandang yang berbeda. Mimpi tentang Yusuf, kabar yang datang dari balik jeruji, dan kisah penerbangan menuju langit tidak lagi dipandang sebagai fragmen-fragmen kenangan terpisah. Bagi banyak pendukung Revolusi Islam, seluruh kisah itu menjadi bagian dari perjalanan panjang yang menemukan makna utuhnya melalui perjalanan hidup Imam Sayyid Ali Khamenei. []
Baca juga: Jutaan Penziarah Padati Teheran, Iran Gelar Penghormatan Terakhir bagi Pemimpin Syahid Revolusi
Catatan Redaksi: Tulisan ini diadaptasi dari memoar “Khun Deli Keh La’l Shod “(Darah Hati yang Menjadi Permata), karya Syahid Ayatullah Imam Sayyid Ali Khamenei, dengan penyesuaian bahasa serta penyusunan ulang dalam format feature jurnalistik, dengan tetap mempertahankan substansi kisah dalam sumber aslinya. Dalam tradisi sastra Persia, judul tersebut merupakan metafora tentang penderitaan batin yang ditempa oleh kesabaran hingga menjelma kemuliaan, sebagaimana darah hati yang berubah menjadi permata.







