Perspektif ABI
Ketum ABI Ingatkan: Ketangguhan Sejati Teruji saat Mengendalikan Hawa Nafsu

Jakarta, 14 Oktober 2026 — Ketangguhan seseorang tidak hanya diuji ketika menghadapi musibah dan kesulitan hidup, tetapi juga ketika harus mengendalikan keinginan yang bertentangan dengan prinsip yang diyakininya. Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI), Ustadz Zahir Yahya, dalam rapat reguler DPP ABI di Kantor DPP ABI, Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Rapat tersebut dihadiri unsur pimpinan dan departemen. Mengawali penyampaiannya, Ustadz Zahir mengingatkan bahwa berdasarkan kalender ABI, hari itu merupakan 1 Jumadil Ula, dan menjelaskan adanya perbedaan penetapan awal bulan di sejumlah wilayah, mulai dari Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, hingga beberapa provinsi di Sumatera. Di Jawa dan sekitarnya, awal bulan jatuh sehari sebelumnya, sedangkan di wilayah lain jatuh pada hari tersebut.

Ustadz Zahir Yahya mengajak kader ABI meneladani keteguhan Sayyidah Zainab dan menjaga prinsip di tengah godaan kepentingan duniawi.
Baca juga: Ketum ABI: Kaderisasi ABI Tak Hanya Menyiapkan Pengurus, tetapi Membentuk Manusia
Jumadil Ula memiliki dua momentum penting dalam kalender keagamaan. Pertama, peringatan kelahiran Sayyidah Zainab, putri Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, pada 5 Jumadil Ula. Kedua, peringatan kesyahidan Sayyidah Fatimah, berdasarkan riwayat pertama, pada 13 Jumadil Ula.
Kedua sosok tersebut merupakan teladan bagi seluruh umat beriman, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam penyampaiannya, Ketua Umum ABI secara khusus menyoroti perbedaan antara istilah wanita teladan dan teladan wanita. Sayyidah Fatimah dan Sayyidah Zainab, menurutnya, bukan hanya teladan bagi kaum perempuan, melainkan juga bagi seluruh orang beriman.
Ustadz Zahir mengingatkan bahwa pemahaman yang membatasi keteladanan perempuan hanya bagi sesama perempuan merupakan kekeliruan. Al-Qur’an, jelasnya, menampilkan Sayyidah Asiyah, istri Firaun, dan Sayyidah Maryam sebagai teladan bagi seluruh kaum mukminin, bukan hanya bagi kalangan perempuan.
Sayyidah Zainab dan Ketangguhan di Tengah Musibah
Menjelang peringatan kelahiran Sayyidah Zainab, Ustadz Zahir mengajak peserta rapat untuk mengambil pelajaran dari keteguhan beliau dalam mempertahankan keyakinan, terutama setelah tragedi Karbala. Keteguhan itu memungkinkan Sayyidah Zainab menyuarakan dan meneruskan pesan kebangkitan Imam Husain a.s., baik ketika menghadapi Ibnu Ziyad di Kufah maupun saat berada di hadapan Yazid di Damaskus, serta melalui langkah-langkah yang ditempuhnya setelah peristiwa tersebut.
Beratnya penderitaan yang disaksikan dan dialami Sayyidah Zainab sejak usia dini menjadi salah satu gambaran ketangguhan tersebut.
“Beliau mengalami langsung kehilangan Rasulullah ketika masih berusia sekitar lima hingga enam tahun. Setelah itu, beliau menyaksikan kesyahidan ayahnya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, serta kesyahidan ibundanya, Sayyidah Fatimah. Beliau juga menyaksikan penderitaan yang dialami kakaknya, Imam Hasan, hingga berbagai tragedi di Karbala dan penderitaan yang dialaminya sendiri ketika ditawan bersama anggota keluarga Rasulullah lainnya,” tegas Ustadz Zahir.
Namun, keagungan Sayyidah Zainab tidak berhenti pada kemampuannya mempertahankan prinsip di tengah penderitaan. Ada dimensi lain yang membuat ketangguhannya memiliki makna lebih mendalam, yakni cara beliau memandang musibah.
“Peristiwa yang bagi kebanyakan orang tampak sebagai bencana yang menghancurkan, dalam pandangan Sayyidah Zainab justru dapat dilihat sebagai sesuatu yang indah.”
Baca juga: Ketum ABI kepada Kader Jateng: Keteraturan dan Kerja Bersama Menentukan Masa Depan Komunitas
Untuk menjelaskan pandangan tersebut, Ustadz Zahir mengingatkan dialog Sayyidah Zainab dengan Ibnu Ziyad di Kufah. Ketika Ibnu Ziyad berusaha merendahkan beliau dengan menanyakan bagaimana beliau melihat tindakan Allah terhadap saudara dan keluarganya, Sayyidah Zainab menjawab, “Aku tidak melihat selain keindahan.”
Jawaban itu menunjukkan keteguhan pandangan yang tidak runtuh oleh penderitaan. Ustadz Zahir kemudian mengajak segenap pengurus untuk memahami apa yang dimaksud dengan keindahan dalam pandangan Sayyidah Zainab.
“Di Karbala, beliau menyaksikan kematian, tubuh-tubuh yang terpisah dari kepala, jasad yang diinjak-injak, anggota tubuh yang berserakan, penistaan, penjarahan, dan penawanan. Semua itu merupakan kenyataan yang dapat menghancurkan hati dan meruntuhkan semangat siapa pun yang menyaksikannya”, terangnya.
Terdapat dua makna yang dapat dikemukakan untuk memahami pernyataan Sayyidah Zainab, meskipun Ustadz Zahir tidak bermaksud menguraikannya lebih jauh dalam kesempatan tersebut. Pelajaran utama yang perlu diambil ialah ketangguhan beliau dalam mempertahankan prinsip dan arah hidup, bahkan ketika menghadapi musibah yang sangat besar.
“Ketangguhan itulah yang relevan bagi manusia pada zaman sekarang, yang mungkin tidak akan pernah mengalami penderitaan sebesar yang disaksikan dan dialami Sayyidah Zainab.”
Ketangguhan, lanjutnya, juga dibutuhkan ketika seseorang harus mengendalikan hasrat dan keinginan pribadi.
“Ketangguhan juga dibutuhkan ketika seseorang harus mengendalikan hasrat, keinginan, kecenderungan, dan syahwatnya terhadap kehidupan dunia.”
Mengendalikan Hawa Nafsu, Mempertahankan Prinsip
Setiap manusia memiliki beragam kecenderungan, termasuk kecenderungan kepada keburukan. Untuk menjelaskan hal tersebut, Ustadz Zahir merujuk Surah Asy-Syams ayat 8, fa alhamahā fujūrahā wa taqwāhā, yang berarti, “Lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.”
Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan kepada fujur maupun ketakwaan. Fujur merupakan kecenderungan kepada kefasikan dan kejahatan, sementara manusia juga memiliki kecenderungan kepada kebaikan.
Karena itu, manusia membutuhkan ketangguhan ketika hasrat, syahwat, atau keinginan mendorongnya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diyakininya. Kemampuan mempertahankan prinsip dalam situasi seperti itu hanya dapat dibangun dengan berpegang teguh pada keyakinan yang dianut.
Baca juga: Waketum ABI: Revitalisasi Nilai-nilai Pancasila dalam Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa
Untuk menggambarkan kuatnya godaan kepentingan duniawi, Ketua Umum ABI mengangkat peristiwa pada masa Rasulullah ketika sebagian besar orang meninggalkan beliau saat sedang berkhutbah. Mereka beranjak setelah mengetahui kedatangan kafilah perdagangan yang membawa peluang keuntungan dan hiburan.
Peristiwa yang berkaitan dengan ayat Al-Qur’an tentang kafilah perdagangan dan permainan itu menunjukkan betapa kuatnya daya tarik kepentingan duniawi. Orang-orang tersebut meninggalkan Rasulullah yang sedang berkhutbah demi mengejar perdagangan dan hiburan yang mereka anggap menarik.
Pesan ayat tersebut, menurutnya, tetap relevan hingga saat ini. Tantangan untuk mengendalikan hasrat dan mempertahankan prinsip tidak berhenti pada peristiwa masa lalu. Setiap orang menghadapi kemungkinan mengabaikan nilai yang diyakininya ketika berhadapan dengan godaan kepentingan duniawi.
“Kelemahan dalam menghadapi hawa nafsu dapat menjadi ancaman serius, bahkan tanpa seseorang harus berada di barisan musuh. Ketika seseorang kehilangan kendali atas dirinya dan mengabaikan prinsip yang diyakininya, tindakannya sendiri dapat membahayakan dirinya, orang lain, dan komunitasnya”, tegas Ustadz Zahir.
Ustadz Zahir juga mengaitkan kejatuhan tersebut dengan hubungan seseorang dengan iblis. “Karena itu, pengendalian hawa nafsu bukan persoalan ringan. Ketidakmampuan mengendalikannya dapat menjauhkan seseorang dari nilai-nilai agama dan menyeretnya ke dalam tindakan yang merusak”.
Dalam konteks ini, beliau menekankan pentingnya keteguhan menjalankan perintah agama sebagaimana firman Allah dalam Surah Hud ayat 112:
Fastaqim kama umirta “Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu.”
“Keteguhan menjalankan perintah agama merupakan bagian penting dalam mempertahankan prinsip dan mengendalikan keinginan yang dapat menjerumuskan manusia”, terangnya.
Seseorang dapat mengabaikan prinsip, nilai, sumpah, visi, dan misi yang selama ini dipegangnya demi harta atau keuntungan duniawi. Sebagaimana diingatkan Ustadz Zahir, “Bahkan, apabila orang-orang pada masa Rasulullah saja dapat meninggalkan beliau demi kepentingan dunia, maka siapa pun pada masa sekarang juga dapat mengabaikan nilai-nilai yang diyakininya apabila kalah menghadapi hawa nafsu.”
Persoalan tersebut berkaitan langsung dengan keselamatan keluarga, lingkungan, komunitas, dan gerakan. “Seseorang tidak harus berada di barisan musuh untuk menjadi ancaman bagi komunitasnya sendiri. Ketika hawa nafsu membuatnya meninggalkan prinsip dan nilai yang diyakini, tindakannya dapat membahayakan orang-orang di sekitarnya”.
Baca juga: Tiga Prajurit RI Gugur di Lebanon, Waketum ABI Desak Pemerintah Tegas terhadap Israel
Kemampuan mengendalikan hawa nafsu dan mempertahankan prinsip, menurut Ketua Umum ABI, merupakan bagian penting dalam menjaga identitas kemanusiaan. Dengan ketangguhan itu, seseorang dapat menjaga martabat dirinya sekaligus mencegah tindakan yang merusak kehidupan orang lain dan komunitasnya.
Resiliensi sebagai Keharusan Mutlak
Menutup penyampaiannya, Ustadz Zahir kembali menegaskan bahwa resiliensi merupakan keharusan mutlak bagi setiap manusia. Ketangguhan tidak hanya diperlukan untuk menghadapi kesulitan, tekanan, dan musibah, tetapi juga untuk mengendalikan keinginan yang berkaitan dengan uang, kedudukan, popularitas, maupun kepentingan duniawi lainnya.
Kemampuan mempertahankan prinsip dan mengendalikan keinginan merupakan bagian penting dalam menjaga identitas kemanusiaan. Sebaliknya, ketika seseorang membiarkan dirinya terlibat dalam tindakan yang menghancurkan diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan komunitas, ia kehilangan pijakan yang memberi makna pada kehidupan serta identitas kemanusiaannya.
Mempertahankan prinsip, tegasnya, bukan prestasi luar biasa yang hanya dapat dipandang sebagai pilihan ideal, melainkan sebagai kewajiban mendasar untuk menjaga martabat dan identitas kemanusiaan.
Beliau mengingatkan agar setiap orang tetap tangguh dan konsisten menjalankan perintah agama serta tidak mengikuti keinginan pihak-pihak yang memusuhi kebenaran, baik musuh yang berwujud manusia maupun setan.
Keteladanan Sayyidah Zainab tidak hanya terletak pada keteguhan menghadapi penderitaan di Karbala. Keteladanan itu juga mengajarkan pentingnya bertahan ketika berhadapan dengan godaan yang berasal dari dalam diri sendiri.
Ustadz Zahir berharap seluruh anggota dan kader ABI mampu mempertahankan agama, prinsip, dan nilai-nilai yang diyakini, baik ketika menghadapi kesulitan maupun ketika berhadapan dengan hasrat dan syahwat yang tidak pada tempatnya dan dapat menyeret seseorang kepada tindakan yang merusak.
Pada akhirnya, ketangguhan tidak hanya diuji ketika keadaan menjadi sulit. Ujian juga datang ketika seseorang memiliki kesempatan untuk memperoleh keuntungan, tetapi harus memilih antara mengikuti keinginan pribadi dan tetap setia pada prinsip yang diyakininya. []
Baca juga: Sekjen DPP ABI Ingatkan Bahaya Respons Reaktif di Tengah Banjir Informasi







