Internasional
Wall Street Journal: Trump Marah dan Frustrasi Hadapi Iran

Ahlulbait Indonesia, 24 Juli 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan semakin marah dan frustrasi karena perang melawan Iran berlangsung jauh lebih lama dari yang diperkirakan. Harapannya agar konflik berakhir dalam hitungan pekan kini memudar, sementara peluang penyelesaian melalui jalur perundingan semakin kecil.
Laporan tersebut disampaikan The Wall Street Journal berjudul “Trump Is Losing Patience Over an Iran War With No Clear End in Sight” (24 Juli 2026). Mengutip sejumlah pejabat pemerintah Amerika Serikat dan orang-orang yang dekat dengan Trump, harian itu melaporkan bahwa perang yang kini memasuki bulan kelima membuat Presiden AS semakin kehilangan kesabaran karena konflik yang semula diyakininya akan berakhir dalam beberapa pekan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan selesai.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa Trump meyakini “satu-satunya bahasa yang dipahami Iran adalah kekuatan militer”. Menurut sumber tersebut, Trump kini berada dalam suasana yang didorong oleh keinginan untuk membalas Iran.
Perang yang berkepanjangan itu juga disebut telah menjadi salah satu perhatian utama Gedung Putih. Sejumlah penasihat Trump khawatir konflik tersebut akan membayangi masa kepresidenannya sekaligus mengurangi peluang Partai Republik dalam pemilu sela Kongres. Menurut laporan itu, perang telah memicu kenaikan harga, menurunkan tingkat popularitas Trump, serta menimbulkan korban di pihak militer Amerika Serikat sehingga menyita hampir seluruh perhatian dan energi pemerintahannya.
Lebih lanjut The Wall Street Journal melaporkan bahwa selama beberapa bulan terakhir Trump telah berulang kali berupaya mengakhiri perang, mulai dari mendorong gencatan senjata hingga menandatangani nota kesepahaman dengan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, setiap kesepakatan tersebut segera runtuh dan pertempuran kembali berlanjut.
Laporan The Wall Street Journal sebelumnya, “Trump Pledged No Forever Wars. Now He Risks Forever Talks With Iran” (1 Juli 2026), juga mengulas bagaimana kebuntuan diplomasi membuat pemerintahan Trump semakin sulit melepaskan diri dari konflik yang sebelumnya dijanjikan akan segera diakhiri.
Di tengah kebuntuan itu, Amerika Serikat dilaporkan terus mengirim tambahan personel, perlengkapan, dan persenjataan ke Timur Tengah guna memperluas opsi militer apabila Trump memutuskan meningkatkan operasi. Meski tokoh-tokoh seperti Jared Kushner dan Steve Witkoff masih berupaya membuka jalur kesepakatan dengan Teheran, Trump disebut telah menyimpulkan bahwa Iran tidak akan mengubah posisinya melalui perundingan sehingga kini semakin mengandalkan strategi tekanan dan operasi militer.
Laporan tersebut juga menyoroti dampak politik yang mulai dirasakan Trump di dalam negeri. Perang Iran disebut memperlebar perbedaan pandangan di tubuh Partai Republik dan mulai menggerus soliditas koalisi konservatif yang selama ini menjadi basis politiknya. Penilaian itu juga muncul dalam analisis The Wall Street Journal berjudul “The Iran Mess Is Getting Messier. Here’s What It Means for Trump” (9 Juli 2026), yang menyoroti semakin besarnya beban politik Gedung Putih akibat konflik yang terus berlarut.
Sejumlah sekutu lama Trump, termasuk pembawa acara Fox News Laura Ingraham, secara terbuka menyampaikan kekhawatiran bahwa perang dapat merugikan Partai Republik dalam pemilu sela November mendatang. Dalam komentarnya pada Senin, Ingraham mengingatkan bahwa waktu menuju pemilu “berjalan sangat cepat.”
Sementara itu, mantan penasihat Trump, Steve Bannon, menuding Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik yang disebutnya “mengerikan dan penuh kebohongan.”
Di tengah situasi tersebut, para pejabat senior Gedung Putih dilaporkan berupaya mengalihkan perhatian publik kembali ke isu-isu ekonomi. []
Baca juga: Wall Street Journal: Dunia Memburu Drone Buatan Iran

